Dunia teknologi baru saja diguncang oleh pengumuman kemitraan jangka panjang yang ambisius antara Meta dan NVIDIA. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg tersebut secara resmi mengonfirmasi pembelian “jutaan” unit GPU generasi terbaru, yakni NVIDIA Blackwell dan Rubin.
Dikutip dari Engadget, Jumat (20/2/2026), langkah raksasa ini merupakan bagian dari strategi Meta untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mereka di tengah persaingan global yang kian memanas.
Namun, yang paling menarik perhatian industri bukanlah sekadar jumlah perangkat kerasnya, melainkan implementasi teknologi Confidential Computing (Komputasi Rahasia) dari NVIDIA yang akan diterapkan khusus untuk platform WhatsApp.
Integrasi ini menjanjikan kemampuan AI yang jauh lebih cerdas di dalam aplikasi pesan instan tersebut tanpa mengorbankan privasi dan integritas data penggunanya sedikit pun.
Penerapan Confidential Computing pada WhatsApp menjadi titik balik penting dalam bagaimana sebuah data dikelola di era AI. Selama ini, enkripsi biasanya berfokus pada pengamanan data saat sedang dikirim, namun teknologi baru dari NVIDIA ini memungkinkan Meta untuk mengamankan data bahkan saat proses komputasi sedang berlangsung di server.
Hal ini berarti data pengguna tetap terisolasi dan tidak dapat diintip oleh pihak luar, termasuk Meta sendiri atau penyedia agen AI pihak ketiga. Selain melindungi privasi pengguna, NVIDIA menjelaskan bahwa teknologi ini juga memberikan perlindungan ekstra bagi pengembang perangkat lunak untuk menjaga kekayaan intelektual mereka.
Dengan kata lain, Meta sedang berupaya menciptakan standar baru di mana kecanggihan asisten digital dapat berjalan beriringan dengan keamanan siber tingkat tinggi.
Terobosan teknis tidak berhenti sampai di situ, karena Meta juga mencatatkan sejarah sebagai perusahaan pertama yang akan menggunakan CPU Grace NVIDIA secara mandiri, tanpa harus menggabungkannya dengan GPU seperti konfigurasi pada umumnya.
Penggunaan CPU Grace secara standalone ini dirancang khusus untuk menangani beban kerja inferensi dan tugas-tugas agenik yang sangat kompleks secara lebih efisien.
Untuk memastikan seluruh sistem tersebut berjalan dengan kecepatan transfer data yang optimal, Meta juga akan mengadopsi teknologi switch Ethernet Spectrum-X milik NVIDIA.
Kombinasi perangkat keras ini menunjukkan betapa seriusnya Meta dalam membangun fondasi teknologi yang tidak hanya bertenaga, tetapi juga memiliki arsitektur yang sangat spesifik untuk kebutuhan masa depan mereka.
Langkah ekspansi ini sejalan dengan rencana besar Meta yang telah diumumkan awal tahun ini, di mana perusahaan diproyeksikan bakal menggelontorkan dana hingga mencapai angka fantastis USD 135 miliar (sekitar Rp2.100 triliun lebih) khusus untuk pengembangan AI pada tahun 2026.
Para analis memperkirakan bahwa sebagian besar dari dana tersebut memang dialokasikan untuk mempererat kerja sama dengan NVIDIA, dengan nilai transaksi yang diprediksi mencapai puluhan miliar dolar.
Investasi ini menjadi bukti nyata bahwa Meta sedang mempercepat transformasi dari sekadar perusahaan media sosial menjadi raksasa infrastruktur AI global yang mandiri dan kompetitif.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang senilai USD 600 miliar hingga tahun 2028, Meta berencana membangun hingga 30 pusat data baru secara masif, dengan 26 di antaranya berlokasi di Amerika Serikat.
Pembangunan pusat data berskala besar ini diperlukan untuk menampung jutaan chip NVIDIA yang telah dipesan dan menjalankan model bahasa besar (LLM) yang kian hari kian menuntut daya komputasi tinggi.
Melalui kemitraan strategis ini, Meta tidak hanya sekadar membeli komponen, melainkan sedang merancang ulang ekosistem digitalnya agar lebih privat, responsif, dan siap menjadi pelopor dalam era asisten AI yang lebih personal bagi miliaran penggunanya di seluruh dunia.
Scr/Mashable

















