Perang Digital Memanas: Serangan Siber Massal Lumpuhkan Infrastruktur Internet Iran

03.03.2026
Perang Digital Memanas: Serangan Siber Massal Lumpuhkan Infrastruktur Internet Iran
Perang Digital Memanas: Serangan Siber Massal Lumpuhkan Infrastruktur Internet Iran

Dunia baru saja menyaksikan bagaimana perang modern tidak lagi hanya mengandalkan mesiu, melainkan juga barisan kode yang melumpuhkan. Pada Sabtu pagi, Maret 2026, sebuah gelombang operasi siber berskala masif menghantam berbagai titik vital di Iran, berbarengan dengan serangan fisik yang melibatkan koordinasi ketat.

Dikutip dari Reuters, Senin (2/3/2026), para pengamat keamanan siber mencatat bahwa ini bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan serangan asimetris yang dirancang untuk meruntuhkan moral publik dan mengacaukan komunikasi internal negara tersebut di tengah tekanan militer yang meningkat.

Pusat perhatian tertuju pada peretasan BadeSaba, sebuah aplikasi kalender keagamaan yang menjadi bagian dari gaya hidup digital lebih dari lima juta warga Iran.

Dalam sebuah langkah yang dinilai sangat strategis oleh para peneliti keamanan, aplikasi tersebut tiba-tiba memunculkan pesan provokatif bertajuk “Saatnya Perhitungan” yang mendesak aparat keamanan untuk meletakkan senjata.

Pemilihan target ini dianggap sebagai serangan psikologis yang jenius karena menyasar basis pengguna yang cenderung religius dan pro-pemerintah, membuktikan bahwa manipulasi digital kini mampu masuk ke ruang paling personal masyarakat melalui perangkat genggam mereka.

Dampak nyata dari agresi siber ini terlihat jelas pada anjloknya konektivitas internet nasional yang terpantau dalam dua gelombang drastis, yakni pada pukul 07.06 GMT dan kembali merosot pada pukul 11.47 GMT.

Analisis data menunjukkan bahwa hanya tersisa akses minimal bagi publik, yang mengindikasikan adanya upaya sistematis untuk memutus arus informasi dan membatasi respons terkoordinasi dari pihak militer maupun layanan pemerintah.

Upaya pelumpuhan jaringan ini disinyalir bertujuan untuk menciptakan kekosongan informasi (informational vacuum) agar pihak lawan dapat mengontrol narasi dan pergerakan di lapangan tanpa hambatan komunikasi dari pihak Teheran.

Di balik layar, perusahaan keamanan global seperti Sophos dan CrowdStrike mulai mendeteksi adanya mobilisasi kelompok peretas proksi yang bersiap melakukan serangan balasan.

Para ahli memperingatkan bahwa kita mungkin akan segera melihat lonjakan serangan ransomware dan metode Distributed Denial of Service (DDoS) yang menargetkan sektor komersial dan sipil di negara-negara yang berafiliasi dengan pihak penyerang.

Pola ini menunjukkan bahwa konflik fisik di wilayah Teluk secara otomatis memicu “musim berburu” digital di mana data lama dibocorkan kembali sebagai upaya intimidasi baru, sementara sistem industri yang terhubung ke internet menjadi target yang sangat rentan.

Menariknya, meskipun Iran sering dikategorikan sebagai ancaman siber besar setingkat Rusia dan China, respons mereka secara historis cenderung lebih terukur dan tidak langsung meledak di ruang publik digital.

Namun, laporan terbaru dari Anomali mengungkapkan adanya penggunaan malware jenis “wiper” yang berfungsi menghapus data secara permanen, yang sudah mulai terlihat menyasar target-target tertentu sebelum eskalasi fisik terjadi.

Hal ini menandakan bahwa peperangan siber saat ini telah mencapai level baru yang jauh lebih agresif dibandingkan gangguan layanan singkat di masa lalu, menciptakan ketidakpastian global terhadap keamanan data dan stabilitas infrastruktur digital di seluruh dunia.

Scr/Mashable




Don't Miss