Dunia wearable sedang dihebohkan dengan kabar terbaru mengenai suksesor jam tangan pintar kasta tertinggi milik Samsung, yakni Galaxy Watch Ultra 2.
Dikutip dari GSM Arena, Selasa (10/3/2026), menjelang perayaan ulang tahun kedua pendahulunya di akhir tahun ini, bocoran dari informan terpercaya di platform X mengindikasikan lompatan performa yang signifikan.
Perangkat ini disebut-sebut tidak lagi menggunakan “otak” buatan sendiri, melainkan bakal ditenagai oleh SoC terbaru dari Qualcomm, yaitu Snapdragon Wear Elite. Langkah ini menandai pergeseran strategi besar bagi raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut.
Penggunaan Snapdragon Wear Elite diprediksi akan memberikan efisiensi daya yang lebih baik serta kemampuan pemrosesan data kesehatan dan fitur AI yang jauh lebih responsif dibandingkan generasi pertama.
Kehadiran chipset kelas high-end ini sekaligus menempatkan Galaxy Watch Ultra 2 di liga yang berbeda, menjadikannya penantang serius bagi dominasi jam tangan pintar premium lainnya di pasar global.
Strategi “Dua Jalur” Samsung: Perbedaan Mencolok dengan Galaxy Watch9
Menariknya, Samsung tampaknya akan menerapkan strategi “pilih kasih” yang cukup berani tahun ini. Meski diluncurkan secara bersamaan, lini Galaxy Watch9 dikabarkan tidak akan mendapatkan peningkatan chipset yang sama.
Lini standar ini disebut tetap setia menggunakan Exynos W1000, silikon yang sebelumnya sudah memotori Galaxy Watch7 dan Watch8. Keputusan ini mempertegas batasan antara model “Ultra” sebagai perangkat flagship sejati dengan model standar sebagai pilihan yang lebih konvensional.
Diferensiasi ini tentu membawa pro dan kontra bagi para penggemar setia Samsung. Di satu sisi, pengguna model Ultra akan mendapatkan pengalaman perangkat kelas atas yang benar-benar eksklusif.
Namun di sisi lain, pengguna Galaxy Watch 9 mungkin merasa peningkatan yang ditawarkan kurang revolusioner karena masih mengandalkan teknologi fabrikasi chipset dari generasi sebelumnya. Hal ini menciptakan jarak performa yang lebih lebar antara lini Ultra dan non-Ultra dalam ekosistem Galaxy.
Bayang-bayang Kenaikan Harga: Dampak Chipset Premium
Transisi menuju chipset Qualcomm kelas atas ini tentu tidak datang tanpa konsekuensi. Mengamati tren industri ponsel pintar saat ini, setiap peluncuran chip terbaru dari Qualcomm hampir selalu dibarengi dengan kenaikan biaya produksi yang lebih mahal dibandingkan seri terdahulu.
Logika yang sama sangat mungkin berlaku di sektor perangkat wearable. Jika rumor penggunaan Snapdragon Wear Elite ini akurat, maka potensi kenaikan harga jual Galaxy Watch Ultra 2 menjadi sesuatu yang patut diantisipasi oleh calon pembeli.
Sejauh ini, Samsung memang belum memberikan pernyataan resmi terkait detail spesifikasi maupun struktur harga untuk kedua perangkat ini. Namun, dengan segala rumor yang beredar, akhir tahun 2026 dipastikan akan menjadi momen yang krusial bagi peta persaingan jam tangan pintar.
Bagi para pecinta gadget yang mengutamakan performa tanpa kompromi, Galaxy Watch Ultra 2 layak masuk ke dalam daftar belanja, meski harus menyiapkan anggaran yang lebih tebal.
Scr/Mashable


















