Reset Besar Ubisoft: Remake Prince of Persia Dibatalkan, Saham Anjlok 33 Persen

23.01.2026
Reset Besar Ubisoft: Remake Prince of Persia Dibatalkan, Saham Anjlok 33 Persen
Reset Besar Ubisoft: Remake Prince of Persia Dibatalkan, Saham Anjlok 33 Persen

Ubisoft resmi membatalkan enam proyek gim, termasuk remake Prince of Persia: The Sands of Time yang telah lama dinantikan, sebagai bagian dari langkah restrukturisasi besar-besaran perusahaan.

Keputusan tersebut juga diikuti dengan penutupan dua studio pengembangan dan penundaan sejumlah judul lain, yang berdampak langsung pada kinerja saham Ubisoft yang anjlok hingga 33 persen pada perdagangan Kamis pagi.

Pengembang dan penerbit gim asal Prancis itu menyebut kebijakan ini sebagai reset besar yang bertujuan memperbaiki arah bisnis perusahaan di tengah tekanan pasar industri gim global.

CEO Ubisoft Yves Guillemot menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk memastikan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.

“Langkah ini akan menciptakan kondisi bagi pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Guillemot dalam pernyataan resminya yang dilansir Mashable Indonesia dari BBC.

Selain membatalkan enam gim, Ubisoft juga menutup studio mereka di Stockholm, Swedia, dan Halifax, Kanada, serta melakukan restrukturisasi terhadap tiga studio lain.

Studio di Stockholm diketahui tengah mengembangkan sebuah kekayaan intelektual baru, sementara studio Halifax berfokus pada pengembangan gim mobile yang terkait dengan waralaba Assassin’s Creed.

Penutupan studio Halifax sendiri sebenarnya telah diumumkan sejak Januari lalu, bertepatan dengan pembentukan serikat pekerja di studio tersebut.

Keputusan membatalkan remake Prince of Persia: The Sands of Time menjadi sorotan besar, mengingat gim orisinalnya yang dirilis pada 2003 sukses terjual jutaan kopi dan memiliki basis penggemar kuat.

Pembatalan ini terjadi di saat industri gim justru ramai dengan tren remake dan remaster, yang terbukti diminati pasar sepanjang 2025 melalui judul-judul seperti Super Mario Galaxy, Oblivion, dan Metal Gear Solid 3. Situasi tersebut membuat banyak penggemar mempertanyakan arah kebijakan Ubisoft.

Perusahaan tidak merinci secara detail seluruh judul yang dihentikan, namun memastikan bahwa empat di antaranya merupakan proyek yang belum diumumkan ke publik.

Dari jumlah tersebut, tiga gim berbasis IP baru dan satu gim mobile turut masuk dalam daftar pembatalan. Menurut Ubisoft, fokus terhadap proyek-proyek baru dengan risiko tinggi dinilai tidak lagi sejalan dengan strategi perusahaan saat ini.

Guillemot menegaskan bahwa kebijakan ini diambil dengan pertimbangan matang, meski diakui sebagai keputusan yang sulit.

“Meskipun keputusan ini sulit, langkah-langkah ini diperlukan agar kami dapat membangun organisasi yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Guillemot.

Ia menambahkan, “Secara keseluruhan, langkah-langkah ini menandai titik balik yang menentukan bagi Ubisoft dan mencerminkan tekad kami untuk menghadapi tantangan secara langsung demi membentuk ulang grup untuk jangka panjang.”

Analis industri gim Piers Harding-Rolls menilai langkah Ubisoft mencerminkan upaya perusahaan dalam menekan risiko bisnis. Ia mengatakan bahwa berinvestasi pada waralaba besar yang sudah mapan dinilai lebih aman dibandingkan mengembangkan IP baru dari nol.

“Risikonya lebih kecil jika mempertahankan skala dengan berinvestasi pada waralaba besar yang sudah ada seperti Assassin’s Creed dan Rainbow Six dibandingkan meluncurkan IP yang sepenuhnya baru, dan hal itu tercermin dari pembatalan sejumlah gim berbasis IP baru,” ujarnya.

Restrukturisasi ini menjadi yang kedua dilakukan Ubisoft dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, perusahaan telah memangkas 185 posisi pekerjaan di berbagai negara Eropa.

Di Inggris, Ubisoft menutup kantor mereka di Leamington dan melakukan restrukturisasi di kantor Newcastle-upon-Tyne. Guillemot menyebut bahwa kondisi pasar gim triple-A yang semakin kompetitif turut mendorong kebijakan terbaru ini.

“Di satu sisi, industri triple-A menjadi semakin selektif dan kompetitif secara konsisten, dengan biaya pengembangan yang meningkat dan tantangan yang lebih besar dalam membangun merek,” ujar Guillemot.

Ia mencontohkan bagaimana banyak proyek gim berskala besar mengalami penundaan, termasuk Grand Theft Auto VI yang jadwal rilisnya diundur hingga November 2026.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Guillemot menilai gim blockbuster yang sukses tetap menawarkan potensi finansial yang sangat besar.

“Dalam konteks ini, hari ini kami mengumumkan reset besar yang dirancang untuk menciptakan kondisi bagi pertumbuhan yang berkelanjutan seiring waktu,” katanya.

Ke depan, Ubisoft akan memusatkan sumber daya pada pengembangan gim petualangan dunia terbuka serta gim layanan langsung atau live service yang mengandalkan pemasukan berkelanjutan dari pemain.

Perusahaan juga menyebut anak usaha mereka, Vantage Studios, yang dibentuk setelah investasi sebesar 1,25 miliar euro dari raksasa teknologi China, Tencent, akan difokuskan untuk mengembangkan Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six menjadi merek hiburan bernilai miliaran dolar setiap tahun.

Scr/Mashable




Don't Miss