Suara Olahraga “Dihadirkan Kembali” untuk Penonton Tuli di Deaflympics 2025

04.03.2026
Suara Olahraga “Dihadirkan Kembali” untuk Penonton Tuli di Deaflympics 2025
Suara Olahraga “Dihadirkan Kembali” untuk Penonton Tuli di Deaflympics 2025

Bagi banyak orang, menonton olahraga secara langsung bukan hanya soal skor dan strategi. Ada sensasi dentuman bola, tiupan peluit, hingga gemuruh penonton yang membangun emosi. Tapi bagaimana jika semua elemen suara itu tidak terdengar?

Di Tokyo pada November 2025, ajang Deaflympics 2025 menunjukkan bahwa atmosfer pertandingan tidak harus bergantung pada pendengaran.

Melalui teknologi inklusif terbaru, pengalaman “suara” diubah menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan, bahkan disentuh.

Inovasi ini membuka babak baru dalam cara dunia olahraga menyambut penggemar tuli.

Dilansir Mashable Indonesia dari BBC (16/02/26), salah satu contoh paling menarik terlihat di arena tenis meja. Saat pertandingan berlangsung, layar raksasa di atas lapangan menampilkan animasi kata-kata onomatope dalam bahasa Jepang.

Setiap pukulan bola diterjemahkan menjadi karakter visual yang dinamis, menggambarkan kerasnya smash, cepatnya reli, atau momentum penting dalam pertandingan.

Penonton tidak perlu mendengar bunyi bola untuk memahami intensitas permainan. Mereka cukup melihat visual yang bergerak selaras dengan aksi di lapangan.

Pendekatan ini terasa sangat relevan di Jepang, di mana onomatope visual sudah lama menjadi bagian dari budaya populer seperti manga dan anime. Kini, elemen budaya tersebut bertransformasi menjadi alat aksesibilitas olahraga.

Bagi penonton baru, sistem ini juga memberi konteks instan: kapan reli memanas, kapan poin krusial terjadi, dan kapan tekanan meningkat.

Teknologi Inklusif di Ajang Olahraga Dunia

Sejak pertama kali digelar pada 1924, Deaflympics telah menjadi panggung utama bagi atlet tuli dari seluruh dunia. Namun kini perannya berkembang lebih jauh: menjadi laboratorium teknologi inklusif global.

Di Tokyo, para insinyur, desainer, dan komunitas tuli bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman olahraga yang tidak eksklusif bagi mereka yang bisa mendengar.

Mikrofon yang dipasang di sekitar arena judo menangkap suara sebelum diubah menjadi getaran pada perangkat yang dikenakan oleh penonton (Kredit: Kitty Knowles/Electric Eel).

Beberapa inovasi yang diuji meliputi:

  • Sistem pengumuman berbasis AI yang diterjemahkan secara visual
  • Getaran terarah ke area penonton untuk menyampaikan momen penting
  • Tampilan grafis interaktif yang menyinkronkan aksi dengan visual dinamis

Teknologi ini membuktikan bahwa suara tidak harus berbentuk audio.

Suara yang Bisa Dirasakan

Selain visual, atmosfer pertandingan juga dihadirkan melalui sensasi fisik. Getaran lembut yang disalurkan melalui kursi atau perangkat tertentu memungkinkan penonton “merasakan” intensitas momen besar seperti poin penentu atau selebrasi kemenangan.

deaflympics tokyo 2025 2 v5jb

Bola Pixie Dust menghadirkan sensasi visual dan getaran sebagai respons terhadap musik (Kredit: Kitty Knowles/Electric Eel).

Konsep ini menghadirkan pengalaman multisensori yang membuat olahraga terasa lebih inklusif.

Alih-alih berfokus pada keterbatasan, pendekatan ini justru memperluas definisi bagaimana olahraga bisa dinikmati semua orang.

Inovasi di Tokyo bukan hanya untuk komunitas tuli. Teknologi seperti visualisasi suara dan sistem getaran berpotensi meningkatkan pengalaman semua penonton, termasuk mereka yang berada jauh dari lapangan atau di stadion dengan akustik kurang optimal.

Ke depan, stadion mungkin akan mengadopsi sistem visual dinamis sebagai pelengkap audio tradisional. Ini bukan sekadar fitur aksesibilitas, melainkan evolusi pengalaman menonton olahraga.

Scr/Mashable




Don't Miss