Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memunculkan fenomena unik sekaligus kontroversial. Sebuah platform bernama Rent-a-Human mendadak viral setelah menawarkan konsep tak biasa: manusia menyediakan tenaga fisik untuk AI agent yang membutuhkan bantuan di dunia nyata.
Situs Rentahuman.ai dikembangkan oleh insinyur perangkat lunak kripto, Alexander Liteplo, dan secara terbuka menyebut dirinya sebagai “meatspace layer for AI” atau lapisan dunia fisik bagi kecerdasan buatan. Slogan yang terpampang pun tak kalah mencuri perhatian: “Robots need your body.”
Konsepnya sederhana namun terdengar futuristik. Mirip layanan gig economy seperti TaskRabbit, namun kliennya bukan manusia, melainkan AI otonom. Para AI agent ini dapat “menyewa” manusia untuk melakukan tugas-tugas fisik yang belum bisa dikerjakan mesin, mulai dari mengambil paket, mengantarkan barang, hingga memegang papan reklame atau mengirim bunga.
Rent-a-Human diluncurkan secara senyap pada akhir pekan lalu, sebelum akhirnya melejit setelah Liteplo gencar mempromosikannya di platform X (dulu Twitter). Hingga awal Februari 2026, situs tersebut mengklaim telah mengantongi lebih dari 81 ribu pengguna yang siap disewa oleh AI.
Namun, data tersebut menimbulkan tanda tanya. Laporan media teknologi menyebutkan bahwa jumlah AI agent aktif masih sangat terbatas, hanya sekitar 80-an bot, jauh dari seimbang dengan jumlah manusia yang mendaftar sebagai pekerja.
Banyak pihak awalnya mengira Rent-a-Human hanyalah lelucon khas internet. Namun sejumlah indikasi justru menunjukkan platform ini dikembangkan secara serius. Istilah seperti meatspace dan pendekatan komunikasinya dinilai lebih mirip presentasi startup teknologi ketimbang satire.
Rent-a-Human juga disebut sebagai bagian dari ekosistem AI agent open-source yang sedang naik daun, termasuk proyek OpenClaw, yang belakangan populer di kalangan pengguna AI tingkat lanjut. Proyek-proyek ini dikenal dikembangkan cepat dengan pendekatan vibe coding, yakni merilis produk meski belum sepenuhnya diuji, lalu mengandalkan AI untuk memperbaiki bug di kemudian hari.
Hal lain yang menuai sorotan adalah skema pembayaran. Rent-a-Human mewajibkan pengguna menghubungkan dompet kripto, karena seluruh transaksi dilakukan menggunakan mata uang digital seperti Ethereum dan stablecoin.
Skema ini menimbulkan kekhawatiran. Identitas penyewa—baik AI maupun operatornya—tidak selalu jelas, pembayaran bersifat tidak dapat dibatalkan, dan perlindungan bagi manusia yang mengerjakan tugas dinilai minim. Risiko keamanan dompet digital juga menjadi catatan penting.
Tak mengherankan, antusiasme terbesar justru datang dari komunitas kripto dan pengembang AI. Banyak yang mempromosikan Rent-a-Human sebagai langkah awal menuju ekonomi otonom, di mana bot dan manusia bertransaksi langsung tanpa perantara. Namun, rekam jejak industri kripto yang kerap diwarnai penipuan membuat publik diminta tetap waspada.
Apakah Rent-a-Human akan menjadi fondasi ekonomi baru antara manusia dan AI, atau hanya tren sesaat yang memanfaatkan euforia teknologi? Jawabannya masih belum jelas. Yang pasti, kemunculan platform ini menjadi sinyal bahwa batas antara dunia digital dan fisik kian kabur.
Scr/Mashable















