Liverpool menderita kekalahan tipis 0-1 melawan Galatasaray di leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2025/2026, Rabu 11 Maret 2026 dini hari WIB. Kekalahan pahit di Istanbul ini menempatkan tim asuhan Arne Slot di bawah tekanan yang cukup besar.
Perjalanan Liverpool ke “kandang” RAMS Park untuk leg pertama babak 16 besar Liga Champions berakhir dengan skenario yang paling mengecewakan.
Meskipun dianggap sebagai favorit, tim asuhan Arne Slot menderita kekalahan 0-1 melawan Galatasaray. Kekalahan ini tidak hanya mengakhiri catatan konsisten The Kop di kompetisi Eropa, tetapi juga menyoroti tiga masalah inti yang menyebabkan mereka kesulitan di Turki.
Alasan pertama berasal dari kelengahan pertahanan, terutama dalam situasi bola mati. Sejak menit ke-7, pertahanan Liverpool bermain seolah setengah tertidur, memungkinkan Victor Osimhen dengan mudah menyundul bola ke arah Mario Lemina, yang kemudian mencetak gol dari jarak dekat untuk membuka skor.
Statistik menunjukkan bahwa ini adalah gol ke-10 yang Liverpool kebobolan dari tendangan sudut musim ini, sebuah angka yang mengkhawatirkan.
Selain itu, Ibrahima Konate mengalami hari yang buruk dengan serangkaian kesalahan posisi. Seandainya wasit tidak begitu ketat dalam membatalkan gol Osimhen pada menit ke-62 setelah kesalahan mendasar dari bek Prancis tersebut, skornya akan menjadi 2-0.
Kedua, kurangnya penyelesaian akhir yang klinis dari para striker merupakan penyebab langsung kekalahan Liverpool. Pada hari itu, Mohamed Salah diganti lebih awal setelah penampilan yang kurang memuaskan, pemain-pemain lain yang diharapkan seperti Florian Wirtz dan Hugo Ekitike juga terbukti sangat mengecewakan.
Liverpool mengakhiri pertandingan dengan expected goals (xG) sebesar 1,28 tetapi gagal mencetak satu gol pun melawan Ugurcan Cakir.
Wirtz menyia-nyiakan peluang satu lawan satu di menit kedua, sementara Ekitike gagal mengalahkan kiper lawan meskipun memiliki banyak ruang di area penalti. Kurangnya ketajaman ini membuat semua upaya untuk mengontrol bola selama 82% waktu di babak kedua menjadi sia-sia.
Pada akhirnya, tekanan luar biasa dari atmosfer “mengerikan” di RAMS Park, ditambah dengan gaya permainan Galatasaray yang berapi-api, memadamkan semangat tim tamu. Para pemain Liverpool tampak kewalahan oleh intensitas penampilan tim tuan rumah.
Kartu kuning beruntun untuk Virgil van Dijk, Dominik Szoboszlai, dan Ryan Gravenberch menunjukkan frustrasi dan kebuntuan dalam menjaga tempo permainan. Galatasaray bermain dengan tekad tinggi, siap terlibat dalam tantangan fisik untuk mengganggu permainan lawan.
Akibatnya, Liverpool terjebak dalam perangkap psikologis dan kehilangan ketenangan di momen-momen krusial.
Kekalahan tipis 0-1 di Istanbul bukanlah akhir segalanya, tetapi merupakan peringatan bagi Arne Slot.
Liverpool masih memiliki 90 menit waktu tersisa di leg pertama di Anfield untuk memperbaiki kesalahan mereka, tetapi jika mereka tidak meningkatkan kemampuan bertahan dan daya serang mereka, perjalanan mereka di Liga Champions tahun ini akan penuh dengan bahaya.
Scr/Mashable















