Kaori Sakamoto, Ami Nakai, dan Mone Chiba adalah atlet seluncur indah (figure skating) wanita Jepang dengan penampilan yang memukau yang diharapkan dapat meraih hasil bagus di Olimpiade Musim Dingin 2026.
Dalam kerangka Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026, banyak atlet wanita telah menarik perhatian media, publik, dan penggemar olahraga. Secara khusus, para atlet putri yang berkompetisi dalam seluncur indah telah menarik minat yang signifikan berkat teknik terampil dan penampilan mereka yang memukau.
Dewi-dewi seluncur indah dari Jepang seperti Kaori Sakamoto, Ami Nakai, dan Mone Chiba diharapkan dapat membawa hasil yang baik bagi tim nasional mereka di Olimpiade tahun ini.
1. Kaori Sakamoto
Seluncur indah bukan hanya tentang keanggunan, tetapi juga tentang kekuatan dan teknik. Itulah filosofi yang dianut Kaori Sakamoto (lahir tahun 2000) sepanjang kariernya. Sejak debut seniornya pada tahun 2017, ia telah menunjukkan kemampuan seluncur, lompat, dan putaran yang luar biasa. Atlet berusia 26 tahun ini dikenal dengan kepribadian yang kuat dan gaya kompetisi yang bersih.
Karier Sakamoto ditandai dengan banyak pencapaian yang tak terlupakan. Ia adalah atlet wanita Jepang pertama yang berpartisipasi dalam tiga Olimpiade berturut-turut dan atlet Jepang pertama yang memenangkan tiga kejuaraan dunia berturut-turut dari tahun 2022 hingga 2024. Setelah memenangkan medali perunggu di Olimpiade Beijing 2022, Sakamoto menyatakan bahwa ia siap untuk menyerahkan tongkat estafet setelah Milano-Cortina untuk pensiun dan menikmati kehidupan pribadinya di luar olahraga.
Lahir di Kobe, Sakamoto mulai bermimpi menjadi atlet seluncur es setelah menonton drama televisi Jepang Teru Teru Kazoku. Dari citra gadis pemberani saat pertama kali debut, ia secara bertahap berubah menjadi “ratu” yang elegan di atas es. Di luar latihan, Sakamoto menikmati mengemudi, menyelesaikan teka-teki jigsaw 400-500 keping, dan melipat origami (seni melipat kertas Jepang).
2. Ami Nakai
Milano-Cortina adalah Olimpiade pertama bagi Ami Nakai (lahir tahun 2008). Di usia 17 tahun, ia merupakan sosok penting dalam tim Jepang. Tahun lalu, Nakai memenangkan medali emas di Grand Prix de France, mengalahkan rekan setimnya yang lebih senior, Sakamoto, dengan gemilang.
Ia juga memenangkan medali perak di final Grand Prix dan medali perunggu di Skate Canada. Meskipun atlet kelahiran 2008 ini tidak tampil sesuai harapan di Kejuaraan Jepang pada bulan Desember, Federasi Seluncur Es Jepang masih memiliki harapan tinggi terhadap penampilannya di Olimpiade.
Lahir di Niigata, Nakai menekuni seluncur es setelah menonton penampilan juara dunia tiga kali Asada Mao dengan kostum gemerlap di televisi. Gaya Nakai digambarkan sebagai halus, anggun, dan penuh cerita di atas es. Teknik andalannya adalah lompatan triple axel yang menantang. Ia adalah wajah muda yang menjanjikan di dunia seluncur es Jepang. Selain olahraga, Nakai juga memiliki minat khusus pada musik.
3. Mone Chiba
Seperti Nakai, Mone Chiba (lahir tahun 2005) juga melakukan debut Olimpiadenya, tetapi memiliki rekam jejak yang sama mengesankannya. Chiba telah memenangkan medali emas di Kejuaraan Empat Benua (2024), medali perak di final Grand Prix (2025), dan medali perunggu di Kejuaraan Dunia (2025). Chiba lahir di Sendai – kota kelahiran legenda seluncur es Yuzuru Hanyu. Dia menganggap Hanyu sebagai idolanya dan “kakak laki-laki” dalam kariernya. Di luar latihan, mahasiswi Universitas Waseda ini menikmati membaca dan menyulam.
Di masa lalu, Chiba telah menghadapi berbagai masalah kesehatan. Ia bahkan berkompetisi dengan gastroenteritis di Kejuaraan Empat Benua tahun lalu. Meskipun tidak memenangkan medali, Chiba mengatakan bahwa ia selalu percaya untuk berjuang hingga akhir. Usaha dan semangat juangnya merupakan inspirasi besar bagi atlet lain. Perjalanan Chiba dalam mengatasi kesulitan kesehatan untuk meraih mimpinya adalah kisah yang indah di Olimpiade tahun ini.
Scr/Mashable















