Kekalahan 0-3 melawan Real Madrid di leg pertama babak 16 besar Liga Champions bukan hanya hasil yang mengecewakan tetapi juga pukulan besar bagi ambisi Manchester City.
Meskipun dianggap sebagai favorit sebelum pertandingan, apa yang terjadi di Bernabeu mengungkap sisi lemah dan cacat dari tim Inggris. Berikut empat alasan utama kekalahan telak ini:
1. Pertahanan “Bunuh Diri” dan Kesalahan Individu yang Konyol
Kelemahan paling krusial Man City dalam pertandingan ini adalah pertahanan mereka. Alih-alih mempertahankan soliditas seperti biasanya, mereka berulang kali melakukan kesalahan individu yang tak termaafkan, yang secara langsung memberikan gol mudah kepada Real Madrid.
Gol pertama yang kebobolan adalah bukti paling jelas. Kelengahan Nico O’Reilly dalam menjaga Federico Valverde, ditambah dengan kiper Gianluigi Donnarumma yang salah perhitungan saat keluar dari kotak penalti dan salah memperkirakan arah bola, menciptakan peluang emas bagi Valverde untuk membuka skor.
Untuk gol kedua yang tercipta, umpan Vinicius secara tidak sengaja membentur kaki Ruben Dias, menciptakan assist yang sempurna.
Dan puncak dari kelalaian ini adalah gol ketiga yang kebobolan, ketika Marc Guehi dengan mudah diumpan lambung oleh Valverde sebelum ia menyelesaikan peluang tersebut. Kurangnya konsentrasi dan kemampuan bertahan yang buruk mengubah pertahanan Man City menjadi “titik lemah” yang dapat dieksploitasi oleh lawan.
2. Lini Tengah Benar-benar Lumpuh, Kehilangan Kendali
Salah satu kekuatan terbesar Man City di bawah asuhan Pep Guardiola adalah kemampuan mereka untuk mengontrol lini tengah. Namun, di Bernabeu, hal ini benar-benar hilang. Trio gelandang Real Madrid mendominasi, mempersempit ruang dan memutus semua komunikasi antar lini tim tamu.
Kelemahan di lini tengah mencegah Man City menerapkan gaya permainan penguasaan bola yang biasa mereka terapkan. Mereka kesulitan mengalirkan bola ke depan dan sering kali serangan mereka digagalkan bahkan sebelum dimulai.
Bahkan keputusan Pep Guardiola untuk memasukkan Tijjani Reijnders di awal babak kedua untuk memperkuat lini tengah pun tidak mampu mengubah keadaan, yang menunjukkan ketidakberdayaan Manchester City di area krusial ini.
3. Erling Haaland Terisolasi
Kebuntuan di lini tengah tak pelak lagi berakibat fatal: serangan Man City benar-benar kekurangan penguasaan bola. Angka expected goals (xG) mereka yang hanya 0,56 dibandingkan dengan Real Madrid yang mencapai 2,59 mencerminkan kelemahan tim tamu dalam menciptakan peluang.
Hal yang paling mengecewakan adalah penampilan Erling Haaland. Striker Norwegia itu, harapan utama tim di lini serang, praktis tidak terlihat sepanjang pertandingan, hanya menyentuh bola 10 kali sebelum diganti pada menit ke-82.
Penjagaan ketat dari lini pertahanan Real Madrid, ditambah dengan kurangnya dukungan yang dibutuhkan dari rekan-rekan setimnya, membuat Haaland menjadi “hantu” di lapangan.
Pemain kunci lainnya seperti Jeremy Doku dan Antoine Semenyo juga gagal menciptakan terobosan yang diperlukan untuk menembus tembok pertahanan lawan yang kokoh.
4. Kurangnya Ketenangan dan Reaksi yang Lambat Terhadap “Situasi Panas” di Bernabeu
Liga Champions selalu menjadi kompetisi yang sulit, dan Bernabeu adalah salah satu “kandang” yang paling tangguh. Real Madrid, dengan DNA Liga Champions yang mengalir dalam darah mereka, telah menunjukkan pengalaman dan ketenangan yang superior. Mereka tahu bagaimana menghukum setiap kesalahan lawan dan mempertahankan tekanan psikologis yang luar biasa.
Sebaliknya, Man City tampak kewalahan dengan atmosfer di Bernabeu. Setelah kebobolan gol pertama, mereka tampak bingung dan tidak mampu bereaksi secara efektif.
Alih-alih mengatur ulang strategi dan mencoba merebut kembali kendali permainan, mereka terus melakukan kesalahan dan kebobolan dua gol lagi secara beruntun. Lambatnya respons Pep Guardiola dalam mengubah taktik dan meningkatkan moral juga berkontribusi pada semakin dalamnya krisis yang dialami Man City.
Kekalahan 0-3 adalah pelajaran mahal bagi Man City. Mereka membutuhkan keajaiban di Etihad pada leg kedua jika ingin melanjutkan perjalanan mereka di Liga Champions. Tetapi pertama-tama, manajer Pep Guardiola perlu segera menemukan solusi untuk mengatasi kelemahan fatal yang jelas terlihat di Bernabeu.
Scr/Mashable















