Alasan PSSI Tidak Terburu-buru Naturalisasi Pemain Incaran John Herdman

10.02.2026
Alasan PSSI Tidak Terburu-buru Naturalisasi Pemain Incaran John Herdman
Alasan PSSI Tidak Terburu-buru Naturalisasi Pemain Incaran John Herdman

Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) menyatakan tidak terburu-buru menaturalisasi pemain baru untuk pelatih baru John Herdman di ajang FIFA Series, dan memprioritaskan evaluasi skuad yang ada saat ini.

Baru-baru ini, PSSI mengonfirmasi bahwa tidak ada rencana untuk menambah pemain naturalisasi baru dalam waktu dekat. Langkah ini diambil tepat sebelum debut pelatih baru John Herdman di turnamen FIFA Series pada Maret 2026.

Arya Sinulingga, anggota Komite Eksekutif PSSI, menekankan bahwa jangka waktu yang sangat terbatas adalah alasan utama mengapa proses naturalisasi tidak dapat dilaksanakan saat ini. Oleh karena itu, prioritas utama John Herdman sekarang adalah fokus pada memaksimalkan pemanfaatan sumber daya manusia yang tersedia.

Berbicara secara khusus kepada media mengenai masalah ini, Arya mengatakan: “Saya belum menerima informasi apa pun tentang hal ini. Sekarang sudah Februari 2026, dan turnamennya akan diadakan pada Maret 2026; waktunya terlalu singkat untuk melanjutkan proses naturalisasi. Dia pasti akan menggunakan pemain yang sudah ada terlebih dahulu; dia ingin mengenal mereka.”

Sebelumnya, Herdman baru saja menyelesaikan perjalanan ke Eropa untuk menilai performa pemain-pemain kunci. Ia secara pribadi menyaksikan pemain-pemain kelahiran Indonesia yang saat ini bermain di benua tersebut, seperti Kevin Diks (Borussia Monchengladbach), Dean James (Go Ahead Eagles), dan Jay Idzes (Sassuolo). Tujuan utama perjalanan ini adalah agar manajer baru tersebut dapat menilai kondisi fisik dan performa para pemain di klub masing-masing.

Mengenai kemungkinan menemukan wajah-wajah baru di masa depan, perwakilan PSSI menegaskan bahwa semua keputusan akan sepenuhnya bergantung pada penilaian profesional pelatih kepala. Penambahan pemain, jika terjadi, hanya akan dipertimbangkan dengan cermat setelah John Herdman memiliki pandangan komprehensif tentang kemampuan skuad saat ini melalui pertandingan FIFA Series mendatang.

4 Keuntungan untuk Indonesia Jika Terpilih Menjadi Tuan Rumah Piala Asia 2031

Di sisi lain, PSSI secara resmi telah mengajukan permohonan kepada Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) untuk mengajukan tawaran hak menjadi tuan rumah Piala Asia 2031.

Menurut informasi yang diungkapkan oleh AFC, Indonesia akan bersaing langsung dengan kandidat lain termasuk Australia, Korea Selatan, Kuwait, dan aliansi gabungan Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Negara kepulauan ini ingin menjadi tuan rumah turnamen sendirian, bukan dalam aliansi multinasional seperti sebelumnya.

Terakhir kali Indonesia menjadi tuan rumah Piala Asia AFC adalah pada tahun 2007. Saat itu, turnamen tersebut diselenggarakan bersama oleh empat negara Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Ini juga merupakan kali pertama dalam sejarah Piala Asia AFC diselenggarakan oleh beberapa negara secara bersamaan. Indonesia memainkan peran penting dalam menjadi tuan rumah pertandingan final di Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta).

Upaya Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Asia 2031 semakin menyoroti ambisi kuatnya untuk menyelenggarakan acara olahraga besar. Pada tahun 2023, Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U17. Sebelumnya, mereka juga menjadi tuan rumah Asian Games dan acara olahraga regional dan Asia besar lainnya.

Dengan infrastruktur yang semakin baik dan basis penggemar sepak bola yang antusias, Indonesia menaruh harapan besar pada kampanye pencalonan ini.

Jika terpilih, Indonesia akan secara otomatis lolos ke putaran final tanpa melalui babak kualifikasi dan menempati Pot 1 dalam undian grup.

Tuan Rumah Piala Asia 2031 Adalah “Game Changer” bagi Indonesia

Pencalonan resmi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Asia 2031 bukan sekadar ambisi di atas rumput hijau. Di balik pengajuan berkas ke AFC, terdapat kalkulasi besar mengenai transformasi infrastruktur, kebangkitan ekonomi, hingga penguatan posisi diplomasi olahraga Indonesia di kancah internasional.

Jika berhasil menyisihkan pesaing berat seperti Australia dan Korea Selatan, Indonesia akan mendapatkan limpahan keuntungan yang mencakup berbagai sektor strategis.

1. Transformasi Infrastruktur Berstandar Dunia

Menjadi tuan rumah turnamen terbesar di Asia menuntut standarisasi tinggi. Indonesia diproyeksikan akan melakukan renovasi besar-besaran pada stadion-stadion di luar Jakarta.

Modernisasi Fasilitas: Peningkatan kualitas rumput, sistem pencahayaan, dan aksesibilitas stadion di kota-kota seperti Surabaya, Solo, dan Bandung.

Konektivitas: Pembangunan infrastruktur transportasi di sekitar stadion, seperti perluasan rute LRT/MRT dan akses jalan tol, yang akan menjadi warisan (legacy) jangka panjang bagi mobilitas masyarakat lokal.

2. Efek Multiplier Ekonomi dan Pariwisata

Sektor ekonomi kreatif dan pariwisata diperkirakan akan menjadi penerima manfaat terbesar. Berdasarkan data historis turnamen serupa, ribuan suporter dari negara-negara Asia akan datang dan menghabiskan devisa di Indonesia.

Lonjakan Okupansi: Hotel dan akomodasi di kota-kota penyelenggara diprediksi akan mencapai tingkat hunian maksimal.

UMKM Naik Kelas: Ajang ini menjadi panggung bagi produk lokal dan kuliner Nusantara untuk dikenal lebih luas oleh audiens internasional.

Investasi Asing: Keberhasilan menyelenggarakan event skala besar akan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas dan kemampuan manajerial Indonesia.

3. “Sport Diplomacy” dan Reputasi Global

Di panggung politik internasional, Piala Asia 2031 adalah alat diplomasi yang sangat kuat.

Citra Negara: Menyelenggarakan turnamen dengan aman dan profesional akan menghapus stigma negatif mengenai keamanan sepak bola Indonesia di masa lalu.

Posisi Tawar di FIFA: Kesuksesan di level Asia dapat menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk membidik target yang lebih tinggi: Tuan Rumah Piala Dunia FIFA.

4. Peningkatan Kualitas Tim Nasional (Aspek Teknis)

Secara teknis, keuntungan sebagai tuan rumah memberikan privilese yang sangat krusial bagi kemajuan Timnas Indonesia:

Lolos Otomatis: Tim Garuda tidak perlu melalui kualifikasi yang melelahkan dan langsung masuk ke Pot 1 (Unggulan).

Dukungan Psikologis: Bertanding di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri memberikan keuntungan mental yang signifikan bagi para pemain untuk melaju lebih jauh di turnamen.

Tantangan Menuju 2031

Meski peluangnya besar, Indonesia masih harus meyakinkan AFC terkait aspek logistik dan keamanan. Persaingan dengan Australia yang memiliki rekam jejak penyelenggaraan mumpuni menjadi tantangan utama yang harus dijawab dengan kesiapan matang dari PSSI dan Pemerintah.

Scr/Mashable





Don't Miss