Dengan performa para penyerang tengah mereka yang menurun, Lamine Yamal menjadi aset terbesar Barcelona di lini serang.
Barcelona meninggalkan St. James’ Park dengan hasil imbang, dan mengingat kelelahan mereka akibat jadwal yang padat, hasil tersebut dapat dianggap dapat diterima. Namun, yang lebih menarik perhatian bukanlah skornya, melainkan nama yang familiar di papan skor: Lamine Yamal.
Sekali lagi, pemain muda ini tampil memikul tanggung jawab mencetak gol untuk tim Catalan.
Barcelona memasuki pertandingan tandang mereka di Inggris dalam kondisi yang tidak prima. Hanya beberapa hari sebelumnya, mereka telah memainkan leg kedua semifinal Copa del Rey yang menegangkan melawan Atletico Madrid.
Kondisi fisik para pemain memburuk secara signifikan, dan oleh karena itu tempo permainan menjadi kurang intens dari biasanya. Newcastle memanfaatkan hal ini sepenuhnya dengan meningkatkan intensitas dan terus menerus memberikan tekanan.
Dalam konteks itu, Barcelona membutuhkan momen yang berbeda. Dan Lamine Yamal adalah orang yang mewujudkannya.
Perlu dicatat bahwa gol Yamal bukan hanya tentang skor akhir; gol itu juga mencerminkan peran pemain muda tersebut yang semakin jelas dalam sistem Hansi Flick.
Karena para penyerang tengah mereka tidak lagi menunjukkan performa mencetak gol yang konsisten, Barcelona kini mengandalkan pemain remaja untuk mengatasi masalah tersebut.
Robert Lewandowski tetap menjadi nama paling berpengalaman di lini serang, tetapi waktu tidak berpihak pada striker Polandia itu. Ferran Torres belum mampu memberikan konsistensi yang dibutuhkan. Raphinha juga bukan lagi pencetak gol reguler. Dalam konteks ini, Yamal secara bertahap menjadi sumber inspirasi terbesar.
Situasi penalti di akhir pertandingan menjadi bukti nyata. Ketika Dani Olmo dilanggar di area penalti, tekanan meningkat pada Barcelona. Kegagalan penalti bisa membuat semua usaha mereka sia-sia. Namun Yamal tidak ragu untuk mengambil bola. Di usia 18 tahun, ia tetap melangkah ke titik penalti dengan ketenangan yang luar biasa.
Tendangan penalti yang sukses itu semakin luar biasa mengingat belum lama ini, Yamal gagal mengeksekusi penalti dalam pertandingan melawan Girona. Ingatan akan kesalahan itu masih segar, tetapi kali ini dia tidak mengulanginya. Bola masuk ke gawang dan Barcelona terhindar dari hasil yang tidak menguntungkan.
Gol melawan Newcastle juga membuat total gol Yamal musim ini menjadi 20. Di Liga Champions saja, ia telah mencetak 4 gol dan memberikan 3 assist dalam 6 pertandingan. Angka-angka ini tidak hanya menunjukkan efisiensi mencetak golnya yang mengesankan, tetapi juga mencerminkan pengaruh yang semakin besar dari pemain muda ini.
Performa Yamal belakangan ini semakin memperkuat hal tersebut. Akhir pekan lalu di La Liga , ia mencetak gol melawan Athletic Club di stadion San Mames untuk membantu Barcelona meraih satu poin. Sebelumnya, ia juga mencetak hat-trick pertamanya dalam karier melawan Villarreal.
Di klub besar seperti Barcelona, menaruh harapan terlalu tinggi pada pemain muda selalu menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sementara penyerang lain belum menemukan kembali performa mencetak gol mereka, Yamal justru menjadi aset terbesar.
Barcelona masih membutuhkan Lewandowski, Ferran Torres, dan Raphinha untuk kembali ke performa terbaik mereka. Namun, selama periode sulit ini, tim Catalan mengandalkan inspirasi dari Lamine Yamal.
Dan jika Barcelona masih memiliki ambisi untuk melaju jauh di Liga Champions musim ini, mereka masih sangat membutuhkan kemampuan dan kepercayaan diri pemain muda tersebut.
Scr/Mashable















