Viking Row menjadi salah satu fenomena paling mencuri perhatian sepanjang perjalanan Norwegia di Piala Dunia 2026. Selebrasi itu ikut meledak setelah Norwegia menyingkirkan Brasil 2-1 pada babak 16 besar di New York/New Jersey Stadium, Senin 6 Juli 2026.
Di tengah sorotan kepada Erling Haaland dan kiper Ørjan Nyland, Viking Row memberi warna berbeda bagi kisah Norwegia. Gerakan sederhana itu berubah menjadi simbol kebersamaan, kebanggaan nasional, dan euforia suporter Skandinavia.
Viking Row dilakukan dengan cara duduk berkelompok, lalu menggerakkan tubuh dan tangan seperti sedang mendayung perahu panjang. Seorang penabuh drum mengatur ritme, sementara massa bergerak serempak dan meneriakkan kata “row” setiap dua ketukan.
Gerakan itu terlihat mudah diikuti, tetapi efek visualnya sangat kuat ketika dilakukan ribuan orang di tribune stadion. Dari jauh, para suporter tampak seperti membentuk perahu Viking raksasa yang sedang bergerak bersama.
Viking Row menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah Norwegia sebagai salah satu tanah asal bangsa Viking pada periode 800 hingga 1050 Masehi. Identitas itu dipakai sebagai energi budaya untuk mendukung tim nasional yang sedang menulis sejarah baru.
Bagi banyak pendukung Norwegia, Viking Row bukan sekadar selebrasi lucu yang viral di media sosial. Gerakan itu menjadi cara mereka menunjukkan bahwa sepak bola, sejarah, dan rasa memiliki bisa bertemu dalam satu momen.
Fenomena ini semakin besar karena Norwegia tampil mengejutkan di Piala Dunia 2026. Setelah lama absen dari panggung terbesar, mereka datang dengan generasi baru yang dipimpin Erling Haaland dan Martin Ødegaard.
Puncaknya datang ketika Norwegia menyingkirkan Brasil pada babak 16 besar dan melangkah ke perempat final untuk pertama kalinya. Setelah kemenangan itu, Viking Row kembali menjadi bagian dari perayaan yang menyebar cepat di dunia maya.
Ole Frøystad, Guru Sekolah di Balik Viking Row
Melansir dari ESPN, sosok penting di balik lahirnya Viking Row adalah Ole Frøystad, seorang suporter fanatik Norwegia yang bekerja sebagai guru sekolah dasar. Ia disebut sebagai figur yang menciptakan dan mempopulerkan selebrasi tersebut bersama kelompok pendukung tim nasional.
Ide itu lahir bukan dari ruang rapat besar, melainkan dari kegelisahan seorang suporter yang ingin negaranya punya chant berkesan. Frøystad ingin dunia mengingat Norwegia ketika mereka kembali tampil di Piala Dunia setelah terakhir muncul pada 1998.
Pada sebuah malam musim dingin, Frøystad datang ke sebuah bar di pinggiran utara Oslo dengan catatan berisi 10 hingga 15 chant. Dari semua ide itu, Viking Row menjadi gagasan yang paling ia yakini memiliki kekuatan besar.
Ia kemudian memperkenalkan konsep tersebut kepada Torstein Hamran, koordinator museum yang juga menjadi salah satu pemimpin kelompok suporter Norwegia. Hamran kemudian dikenal sebagai sosok yang menabuh drum untuk mengatur ritme Viking Row di stadion.
Frøystad menginginkan chant yang pendek, mudah, keras, dan memiliki unsur budaya Norwegia. Ia juga ingin gerakan itu punya dampak besar sehingga bisa terlihat kuat, bukan hanya terdengar ramai.
Inspirasi Viking Row datang dari beberapa pengalaman yang pernah melekat dalam ingatan Frøystad. Ia teringat chant suporter Rosenborg yang membagi teriakan klub dalam beberapa bagian, lalu memadukannya dengan energi selebrasi “Thunder Clap” Islandia.
Ketika gerakan mendayung ditambahkan, Frøystad merasa konsep itu langsung menemukan bentuk terbaiknya. Dalam imajinasinya, para Viking berlayar menuju pertempuran, sementara suporter Norwegia mendayung bersama menuju kejayaan sepak bola.
Dari Laga Uji Coba ke Fenomena Dunia
Viking Row pertama kali dicoba bersama kelompok suporter pada laga persahabatan Norwegia melawan Swiss pada Maret 2026. Saat itu, gerakan tersebut belum langsung meledak dan bahkan sempat mendapat kritik karena terlihat aneh.
Frøystad kemudian menyadari bahwa gerakan itu membutuhkan teknik yang lebih jelas agar terlihat kuat dari tribune. Suporter tidak cukup hanya menggerakkan tangan, tetapi juga harus memakai punggung dan tubuh agar efek dayungnya terlihat nyata.
Kesempatan kedua datang ketika Norwegia menghadapi Swedia sebelum berangkat ke Piala Dunia. Frøystad, Hamran, dan kelompok suporter mulai membuat video panduan agar para pendukung memahami cara melakukan Viking Row dengan benar.
Video instruksi itu kemudian menyebar melalui media sosial dan mendapat perhatian dari media lokal. Setelah satu video diunggah ke akun pribadi Frøystad, respons publik jauh melampaui dugaan awalnya.
Video tersebut disebut meraih sekitar 38 juta penayangan dan hampir 3 juta tanda suka sebelum Piala Dunia dimulai. Dari titik itulah Frøystad menyadari bahwa Viking Row berpotensi menjadi fenomena besar saat turnamen berlangsung.
Prediksi itu terbukti ketika Norwegia mulai mencuri perhatian di Amerika Serikat. Viking Row terlihat di stadion, jalanan kota, eskalator di Boston, hingga kerumunan suporter di Times Square, New York.
Viking Row Menular ke Pemain
Viking Row tidak hanya menjadi milik suporter yang datang ke stadion. Para pemain Norwegia juga ikut merangkulnya, terutama setelah kemenangan 3-2 atas Senegal yang memastikan langkah mereka ke fase gugur.
Dalam momen itu, skuad Norwegia melakukan Viking Row di depan pendukung mereka sendiri. Martin Ødegaard bahkan memimpin ritme dengan drum, sementara pemain lain mengikuti gerakan dayung yang sudah menjadi identitas turnamen.
Erling Haaland juga tidak lepas dari fenomena ini karena gerakan tersebut sering muncul di media sosialnya. Sebagai bintang terbesar Norwegia, kehadiran Haaland membuat Viking Row semakin mudah dikenal publik global.
Dampaknya tidak berhenti di lingkungan sepak bola. Para suporter Norwegia juga membawa Viking Row ke pertandingan New York Mets, jalanan kota besar, hingga acara olahraga lain di Amerika Serikat.
Fenomena itu sempat muncul dalam turnamen golf Traveller’s Championship ketika pegolf Norwegia Viktor Hovland dan Kristoffer Reitan diikuti para pendukung yang melakukan gerakan serupa. Hovland disebut mendapat energi besar dari chant tersebut sebelum memenangkan playoff atas Scottie Scheffler.
Di Norwegia, Viking Row juga berkembang menjadi ekspresi nasional yang melampaui stadion. Dari warga biasa hingga ruang publik, gerakan itu menjadi simbol kegembiraan karena tim nasional sedang mencatat perjalanan terbaiknya.
Meski dirayakan banyak orang, Viking Row juga mendapat kritik dari sebagian komentator di Norwegia. Mereka menilai simbol Viking tidak selalu pantas dirayakan tanpa konteks karena sejarahnya juga berkaitan dengan perampasan dan kekerasan.
Ada pula kritik yang menyebut citra Viking kerap dikaitkan dengan maskulinitas berlebihan dan pernah disalahgunakan oleh kelompok ekstrem. Perdebatan itu membuat Viking Row menjadi fenomena budaya yang tidak sepenuhnya sederhana.
Namun, pendukung Viking Row melihat gerakan ini sebagai metafora, bukan ajakan untuk memuja kekerasan masa lalu. Mereka menekankan sisi perjalanan, keberanian, kebersamaan, dan semangat keluar dari tanah asal untuk mengejar kejayaan.
Terje Leiren, profesor pensiunan yang dikenal meneliti sejarah Skandinavia dan Viking, memberi sudut pandang menarik. Ia melihat semangat Viking sebagai gambaran tim Norwegia yang meninggalkan tanah air demi mencari kejayaan di panggung dunia.
Dalam konteks sepak bola, tafsir itu terasa cocok dengan perjalanan Norwegia di Piala Dunia 2026. Mereka datang sebagai tim yang lama absen, lalu mendadak menjadi kekuatan yang membuat lawan-lawan besar waspada.
Pelatih Ståle Solbakken memilih melihat Viking Row sebagai kesenangan suporter selama turnamen berlangsung. Ia menyebut gerakan itu menyenangkan bagi fans, meski tidak memastikan tradisi tersebut akan terus hidup setelah Piala Dunia selesai.
Viking Row dan Dongeng Baru Norwegia
Viking Row semakin menarik karena muncul bersamaan dengan kebangkitan sepak bola Norwegia. Mereka bukan hanya punya Haaland sebagai mesin gol, tetapi juga Ødegaard sebagai pemimpin kreatif dan skuad yang bermain penuh keyakinan.
Kemenangan atas Brasil membuat cerita itu semakin besar karena Norwegia melampaui pencapaian terbaik lama mereka. Jika sebelumnya babak 16 besar menjadi batas sejarah, kini mereka telah membuka jalan menuju wilayah yang belum pernah dicapai.
Dalam narasi besar Piala Dunia 2026, Viking Row memberi Norwegia sesuatu yang lebih dari sekadar hasil pertandingan. Mereka kini punya simbol visual yang mudah diingat, mudah ditiru, dan kuat secara emosional.
Fenomena ini mengingatkan publik kepada “Thunder Clap” Islandia yang mencuri perhatian di Euro 2016. Bedanya, Viking Row membawa unsur dayung dan cerita bangsa laut yang sangat melekat dengan identitas Norwegia.
Frøystad dan Hamran sadar bahwa Viking Row mungkin hanya hidup sebagai gimmick sepanjang turnamen. Namun, bahkan jika hanya bertahan selama Piala Dunia 2026, jejaknya sudah cukup kuat dalam memori sepak bola global.
Norwegia kini menatap fase berikutnya dengan modal besar di lapangan dan di tribune. Selama Haaland terus mencetak gol dan Viking Row terus bergema, dongeng The Vikings belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Scr/Mashable















