Eden Hazard, Bisnis Anggur, dan Pekerjaan Sebagai Pengemudi

26.03.2026
Eden Hazard, Bisnis Anggur, dan Pekerjaan Sebagai Pengemudi
Eden Hazard, Bisnis Anggur, dan Pekerjaan Sebagai Pengemudi

Di tengah kebun anggur Lecce, Eden Hazard bukan lagi bintang Bernabeu atau Stamford Bridge; dia hanya ingin dikenang sebagai pemain yang baik dan pribadi yang periang.

Jika Italia diibaratkan seperti sepatu bot, Lecce akan berada di bagian tumitnya, tempat sinar matahari jatuh perlahan dan angin bertiup melalui deretan kebun anggur yang tak berujung.

Di sana, sulit untuk mengenali sosok Eden Hazard yang pernah menjadi pusat perhatian di malam-malam Liga Champions yang penuh gejolak itu. Sorak sorai Bernabeu atau malam-malam yang penuh gairah di Stamford Bridge kini terasa seperti gema dari dunia lain.

Saat Sorotan Lampu Meredup

Hampir tiga tahun telah berlalu sejak Hazard pensiun di usia 32 tahun, mengakhiri karier yang dipersingkat oleh cedera di Real Madrid. Tidak ada perpisahan mewah, tidak ada pertandingan ekshibisi perpisahan. Hanya kepergian yang sangat tenang.

Dalam dunia sepak bola, di mana segala sesuatu dibesar-besarkan dan dilebih-lebihkan, kepergian Hazard justru sebaliknya.

“Hidup berlalu begitu cepat,” katanya.

Ungkapan itu terdengar familiar, tetapi diucapkan oleh seorang pemain yang telah menjalani laju yang melelahkan di Premier League dan La Liga, ungkapan itu memiliki makna yang berbeda. Hazard tidak mengatakannya dengan penyesalan, melainkan sebagai seseorang yang telah menikmatinya.

Banyak mantan pemain menggambarkan kekosongan setelah pensiun sebagai sebuah kemerosotan. Bagi Hazard, itu adalah jeda yang diperlukan. Dia berbicara tentang keluarganya dengan ketulusan yang jarang ditemukan.

Istri, lima anak, pagi-pagi mengantar dan menjemput mereka, makan malam yang santai.

“Saat ini saya lebih seperti sopir taksi daripada pemain sepak bola,” katanya sambil tertawa.

Namun, tidak ada sedikit pun nada sarkasme dalam tawanya itu. Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak perlu berlari.

Warisan Budaya Tidak Membutuhkan Monumen

Hazard telah menjadi pusat dari banyak tonggak penting. Dia adalah jantung dan jiwa dari dua gelar Liga Premier Chelsea. Dia menjadi kapten Belgia di Piala Dunia 2018, ketika “generasi emas” finis di posisi ketiga. Dia adalah bagian dari tim Real Madrid yang memenangkan Liga Champions pada tahun 2022.

Prestasi-prestasi itu saja sudah cukup untuk membangun sebuah monumen. Tetapi Hazard tidak mencari pengakuan semacam itu.

Ia menganalisis perbedaan antara Premier League dan La Liga dengan nada tenang. Di Inggris, Anda harus berlari sampai kelelahan. Di Spanyol, Anda bisa mengontrol tempo. Ia beradaptasi dan bersinar di kedua lingkungan tersebut, meskipun perjalanannya di Madrid tidak mencapai puncak yang ia harapkan.

Baginya, Piala Dunia 2018 bukanlah sumber penyesalan karena gagal meraih trofi. Itu adalah sumber kebanggaan atas apa yang telah dicapai seluruh tim. “Bukan karena kami menang, tetapi karena apa yang telah kami bangun bersama,” kenang Hazard. Di situ, Hazard berbicara sebagai seseorang yang memahami bahwa nilai sepak bola tidak hanya terletak pada gelar juara.

Kini, di tengah tong-tong anggur di Lecce, Hazard berbicara tentang sepak bola seperti halnya ia berbicara tentang anggur. Bukan hanya momen brilian tunggal dalam sebuah pertandingan, tetapi sebuah proses panjang yang membutuhkan waktu untuk matang. Mungkin itulah deskripsi yang paling tepat untuk kariernya.

Hazard tidak ingin dikenang sebagai legenda: “Hanya pemain bagus dan orang yang lucu.” Di era di mana semua kata sifat superlatif mudah dibesar-besarkan, pilihan itu terdengar hampir seperti kontradiksi yang menarik.

Ia membayangkan masa depannya bukan di bangku pelatih atau di kantor eksekutif, melainkan sebagai seorang lelaki tua berambut putih yang duduk di meja makan, dikelilingi oleh cucu-cucunya dan sebotol anggur.

Sepak bola sering merayakan mereka yang menaklukkan puncak tertinggi. Tetapi terkadang, yang lebih berkesan adalah bagaimana seorang bintang menerima kepergiannya. Hazard tidak melawan kelupaan; dia menerimanya dengan alami.

Dan mungkin justru kelembutan itulah yang menjadi warisan terpentingnya.

Scr/Mashable





Don't Miss