Fabio Capello telah melatih banyak legenda, tetapi hanya dengan Ronaldo Nazario ia harus menggunakan timbangan untuk membahas kehebatan dan kehancuran diri.
Dalam ingatan Fabio Capello, pemain terbaik yang pernah ia latih adalah Ronaldo asal Brasil. Bukan Van Basten, bukan Totti, bukan Del Piero. Namun di balik pujian itu, terdapat nada pahit.
Capello masih ingat betul masa-masanya di Real Madrid, ketika Ronaldo tidak lagi dihantui cedera, tetapi juga kehilangan hasrat untuk meraih kemenangan seperti sebelumnya.
Menurut Capello, masalah Ronaldo bukanlah di lapangan latihan. Dia tetap berlatih, tetap bermain, dan tetap bisa mencetak gol melawan pertahanan mana pun. Yang menghancurkannya adalah berat badan dan gaya hidupnya.
“Dia tidak suka menurunkan berat badan, dia suka hidup,” kata Capello terus terang. Pernyataan itu terdengar seperti kecaman, tetapi juga merupakan pengakuan akan daya tarik mematikan dari ketenaran dan kesenangan.
Percakapan terkenal antara keduanya telah menjadi ikonik. Capello bertanya kepada Ronaldo: berapa berat badanmu saat memenangkan Piala Dunia 2002? “84 kg,” jawab Ronaldo. Capello menatap langsung muridnya: “Kalau begitu, kamu tidak boleh menambah berat badan 10 kg lagi, Ronnie.”
Namun, saat itu Ronaldo memiliki berat 94 kg. Perbedaan yang tampaknya kecil, yaitu 10 kg, adalah jurang pemisah antara seorang legenda dan seorang bintang yang mulai kehilangan arah.
Puncak tragedi itu terjadi ketika Capello memutuskan untuk mengusir Ronaldo dari Real Madrid. Bukan karena dia bermain buruk, tetapi karena dia tidak bisa menerima seorang pemain jenius yang telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Bagi Capello, disiplin adalah hal yang tidak bisa ditawar. Dan Ronaldo, sehebat apa pun dia, tidak diperbolehkan menjadi pengecualian dari aturan itu.
Kisah itu mengungkap kebenaran pahit tentang sepak bola tingkat atas. Bakat dapat membawa Anda ke puncak, tetapi hanya disiplin yang akan membuat Anda tetap di sana.
Ronaldo Nazario adalah perwujudan sempurna dari paradoks tersebut. Ia pernah memikat dunia dengan kemampuan mengolah bola yang luar biasa. Namun, ia juga merupakan contoh paling memilukan tentang bagaimana kejeniusan dapat dengan cepat menguras energinya sendiri.
Capello tidak menyalahkan Ronaldo atas kurangnya profesionalisme. Dia menyalahkannya karena sudah tidak lagi haus akan kejayaan. Di dunia di mana setiap kilogram tambahan dapat memperlambat Anda sepersepuluh detik, 10 kilogram bukan hanya lemak. Itu adalah 10 kilogram kesenangan, pesta-pesta malam, seorang bintang yang tidak lagi memiliki motivasi untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Ronaldo Nazario akan selamanya menjadi legenda. Tetapi di mata Fabio Capello, dia juga merupakan contoh peringatan yang paling berharga. Garis antara keabadian dan memudar terkadang hanya terletak pada sebuah timbangan.
Scr/Mashable















