Gol Telat Benjamin Sesko Tidak Mampu Menutupi Masalah Manchester United

13.02.2026
Gol Telat Benjamin Sesko Tidak Mampu Menutupi Masalah Manchester United
Gol Telat Benjamin Sesko Tidak Mampu Menutupi Masalah Manchester United

Gol penyama kedudukan di menit ke-96 yang dicetak oleh Benjamin Sesko memang menyelamatkan Manchester United dari kekalahan, tetapi hasil imbang melawan West Ham menunjukkan bahwa masalah lama masih tetap ada di bawah kepemimpinan Michael Carrick.

Michael Carrick melanjutkan rekor tak terkalahkannya sejak kembali ke Old Trafford. Namun, jika dicermati lebih dekat hasil imbang 1-1 melawan West Ham United, ternyata itu bukanlah malam yang patut dirayakan. Itu adalah malam yang dengan jelas memperlihatkan keterbatasan struktur tim yang dimilikinya saat ini.

Gol penyama kedudukan Benjamin Sesko di menit ke-96 jelas merupakan “Fergie Time”. Gol itu membantu Manchester United meninggalkan Stadion London dengan satu poin dan mempertahankan perasaan positif. Namun, emosi itu tidak bisa menutupi fakta bahwa sepanjang pertandingan, Manchester United frustrasi oleh blok pertahanan yang rapat.

Mengontrol Bola Tidak Berarti Mengontrol Jalannya Pertandingan

Manchester United menguasai bola hampir 65%. Itu cukup untuk menciptakan rasa dominasi. Tetapi statistik tiga tembakan tepat sasaran menceritakan kisah yang berbeda. West Ham tidak melakukan pressing tinggi. Mereka mundur ke belakang, mempertahankan posisi mereka, dan menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik. Menghadapi pendekatan itu, MU kurang tajam.

Babak pertama dimainkan dengan tempo lambat. MU banyak mengoper bola tetapi tidak menciptakan peluang yang jelas. Luke Shaw melepaskan tembakan yang berhasil diblokir di garis gawang. Casemiro bahkan berhasil memasukkan bola ke gawang tetapi dianulir. Terlepas dari momen-momen tersebut, permainan berlangsung agak lambat.

Gol yang tercipta dari tendangan Tomas Soucek setelah jeda merupakan pertanda buruk. West Ham tidak membutuhkan banyak peluang untuk mencetak gol. Mereka memanfaatkan momen-momen transisi. Manchester United sekali lagi harus mengejar ketertinggalan.

Ini bukan hal baru. Bahkan sebelum Carrick, MU kesulitan melawan tim yang bermain dengan banyak pemain bertahan. Ini masalah dengan struktur personel mereka.

Ketika sistem sebelumnya tidak memprioritaskan pemain sayap tradisional, nama-nama seperti Marcus Rashford, Alejandro Garnacho, dan Antony pergi. Dalam pertandingan seperti ini, MU kekurangan kecepatan di sisi sayap untuk meregangkan pertahanan lawan.

Carrick tidak memiliki banyak pilihan pemain eksplosif dari bangku cadangan. Dia terpaksa mencari solusi dengan mengganti penyerang tengah dan menambah jumlah pemain di kotak penalti.

Mengambil Risiko Membutuhkan Keberanian, tetapi Belum cukup

Berbeda dengan pendahulunya, yang dikritik karena kurang berani mengejar skor, Carrick bersedia mengambil risiko. Ia memasukkan Sesko sekitar 20 menit sebelum pertandingan berakhir. Ketika tekanan tidak cukup, ia mengganti Diogo Dalot dengan Joshua Zirkzee. Itu adalah pesan yang jelas: MU akan memainkan sepak bola menyerang hingga akhir.

Langkah berisiko itu bisa menjadi bumerang. West Ham hampir mencetak gol kedua melalui serangan balik di akhir pertandingan. Dua penyelamatan penting dari Leny Yoro membuat MU tetap dalam persaingan. Tanpa momen-momen itu, ceritanya mungkin akan berbeda.

Akhirnya, Sesko angkat bicara. Gol ketiga MU setelah Carrick mengambil alih kendali pada menit ke-87 menunjukkan semangat pantang menyerah. Itu pertanda positif. Tetapi hal itu juga menimbulkan pertanyaan: mengapa MU hanya benar-benar berbahaya di saat-saat terakhir pertandingan?

Carrick mengakui setelah pertandingan bahwa performa tim tidak sesuai harapan. Ia senang dengan semangat tim, tetapi memahami bahwa tim bisa bermain lebih baik. Satu poin di laga tandang bukanlah hal yang buruk, terutama di London Stadium, tempat MU belum pernah menang sejak 2021. Namun, ini bukanlah performa tim yang bertujuan untuk meraih kesuksesan jangka panjang.

Di depan ada Everton dan Crystal Palace, lawan yang siap memainkan pertahanan ketat serupa. Carrick akan memiliki 12 hari untuk melakukan penyesuaian. Dia perlu menemukan solusi untuk masalah membongkar pertahanan yang rapat. Penguasaan bola saja tidak cukup. MU membutuhkan lebih banyak kecepatan, permainan langsung, dan elemen kejutan yang lebih besar.

West Ham tidak mengalahkan Manchester United. Tetapi mereka menunjukkan apa yang perlu ditingkatkan Carrick jika ia ingin melangkah lebih jauh. Gol di menit-menit akhir menjaga suasana positif tetap hidup. Namun, untuk mengubah rekor tak terkalahkan mereka menjadi fondasi yang kokoh, Manchester United harus membuktikan bahwa mereka dapat mengontrol permainan dan hasilnya, dan tidak hanya mengandalkan gol di menit-menit terakhir.

Scr/Mashable





Don't Miss