Inggris tinggal tiga kemenangan lagi untuk mengakhiri penantian gelar Piala Dunia yang berlangsung sejak 1966. Pasukan Thomas Tuchel telah menembus perempat final dan akan menghadapi Norwegia di Miami Stadium pada Minggu, 12 Juli 2026 pukul 04.00 WIB.
Perjalanan The Three Lions tidak selalu berjalan mulus, tetapi mereka terus menemukan jalan keluar dalam pertandingan sulit. Inggris mengalahkan Republik Demokratik Kongo 2-1 pada babak 32 besar, kemudian menundukkan Meksiko 3-2 pada babak 16 besar.
Optimisme terhadap peluang Inggris bukan sekadar muncul dari slogan “It’s Coming Home”. Kedalaman pemain, pengalaman di level tertinggi, kualitas Jude Bellingham, dan keseimbangan permainan menjadi modal kuat untuk bersaing hingga pertandingan terakhir.
Persiapan Inggris menuju perempat final sedikit terganggu oleh masalah cedera dan hukuman pemain. Jarell Quansah dipastikan absen setelah mendapatkan larangan bermain dua pertandingan akibat kartu merah melawan Meksiko.
Absennya Quansah menambah persoalan di sisi kanan pertahanan. Tino Livramento telah mengalami cedera betis, sedangkan Reece James masih berusaha pulih dari masalah hamstring yang membuatnya melewatkan tiga pertandingan.
Declan Rice, Marc Guehi, dan James sempat menjalani latihan secara terpisah dari rekan-rekannya. Rice masih mengelola gangguan saraf pada bagian hamstring dan punggung bawah, sementara kondisi Guehi terus dipantau tim medis.
Jordan Henderson juga sedang memulihkan diri setelah menjalani operasi lengan. Cedera tersebut dialaminya setelah kemenangan atas Meksiko, sehingga keterlibatannya pada pertandingan melawan Norwegia diragukan.
Kabar positif datang dari Bukayo Saka yang terus menunjukkan perkembangan setelah sebelumnya mengalami masalah pada tendon Achilles. Ia diperkirakan tetap menjadi pilihan utama di sisi kanan lini serang.
Tuchel memiliki beberapa pilihan untuk menggantikan Quansah. Ezri Konsa dapat ditempatkan sebagai bek kanan, sedangkan John Stones dan Marc Guehi berpeluang menjadi duet bek tengah apabila kondisi keduanya memungkinkan.
Pilihan lain adalah memainkan Djed Spence pada sisi kanan meski posisi alaminya berada di sebelah kiri. Fleksibilitas Spence membuatnya menjadi opsi penting di tengah terbatasnya jumlah bek sayap yang tersedia.
Selain persoalan kebugaran, beberapa pemain harus berhati-hati terhadap ancaman hukuman. Jude Bellingham, Declan Rice, Marc Guehi, Nico O’Reilly, dan Harry Kane berada dalam perhatian karena akumulasi kartu menjelang kemungkinan semifinal.
Analisis ESPN mengenai kekuatan Inggris menjelang pertandingan melawan Norwegia, Minggu 12 Juli 2026, setidaknya ada sejumlah faktor berikut menjelaskan mengapa The Three Lions pantas ditempatkan sebagai salah satu kandidat juara.
1. Inggris Memiliki Kedalaman
Inggris datang dengan kumpulan pemain yang sebagian besar terbiasa menghadapi pertandingan berintensitas tinggi. Hampir seluruh anggota skuad bermain bersama klub papan atas dan rutin menghadapi berbagai gaya sepak bola di kompetisi domestik maupun Eropa.
Sebanyak 25 dari 26 pemain Inggris pada turnamen ini membela klub yang berada dalam 30 besar dunia versi Opta musim lalu. Pengalaman tersebut membuat perbedaan kualitas antara pemain utama dan pelapis tidak terlalu jauh.
Ketatnya persaingan terlihat dari absennya nama-nama besar seperti Phil Foden, Cole Palmer, Trent Alexander-Arnold, Ben White, dan Myles Lewis-Skelly. Pemain berkualitas tersebut tidak masuk daftar akhir karena Tuchel memiliki banyak pilihan pada hampir setiap posisi.
Kedalaman itu memberi kebebasan kepada pelatih untuk menyesuaikan susunan tim berdasarkan karakter lawan. Inggris dapat memainkan sepak bola langsung, mengandalkan kekuatan fisik, menekan sejak area depan, atau mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola.
Pengalaman Premier League juga membentuk pemain yang terbiasa menghadapi perubahan taktik. Mereka memahami cara melawan tekanan tinggi, pertahanan rendah, serangan balik cepat, serta lawan yang mengutamakan penguasaan bola.
Inggris turut memiliki senjata dari situasi bola mati. Selama fase grup, mereka menghasilkan 18 tembakan dan mencatatkan 2,5 expected goals dari tendangan bebas maupun sepak pojok, dengan dua peluang berakhir menjadi gol.
Kemampuan tersebut penting dalam pertandingan gugur yang sering berlangsung ketat. Ketika serangan terbuka tidak berjalan lancar, bola mati dapat menjadi jalan lain untuk mencetak gol dan mengubah arah pertandingan.
2. Permainan Terbuka Jadi Kekuatan Inggris
Inggris masih mempunyai kesulitan ketika menghadapi lawan yang bertahan sangat dalam. Masalah itu terlihat saat Ghana menempatkan banyak pemain di sekitar kotak penalti dan mempersempit ruang bagi gelandang serang The Three Lions.
Inggris mencatatkan 270 sentuhan di sepertiga akhir pada pertandingan tersebut, tetapi hanya 33 sentuhan terjadi di dalam kotak penalti. Dari 19 tembakan yang dilepaskan, sebagian besar berasal dari posisi yang kurang menguntungkan.
Situasinya berubah ketika lawan berani keluar dan pertandingan berjalan terbuka. Kecepatan pemain sayap, pergerakan Harry Kane, serta kemampuan gelandang membawa bola menjadi lebih efektif saat tersedia ruang di belakang pertahanan.
Hal itu terlihat dalam kemenangan 4-2 atas Kroasia pada fase grup. Inggris mampu meningkatkan tempo setelah jeda dan memanfaatkan celah yang muncul ketika kedua tim sama-sama berusaha menguasai pertandingan.
Mereka juga menang 2-0 atas Panama yang beberapa kali mencoba menyerang secara langsung. Keberanian Panama membawa lebih banyak pemain ke depan memberikan ruang yang dapat dimanfaatkan Inggris melalui transisi cepat.
Kemenangan 3-2 atas Meksiko menjadi bukti lain bahwa Inggris mampu bertahan dalam pertandingan terbuka dan penuh tekanan. Dua gol Jude Bellingham serta penalti Harry Kane membawa mereka lolos meski harus bermain dengan sepuluh pemain.
Norwegia kemungkinan tidak akan sekadar menunggu di wilayah pertahanan sendiri. Kehadiran Erling Haaland, Martin Odegaard, dan sejumlah pemain menyerang membuat pertandingan perempat final berpeluang berlangsung lebih terbuka.
Kondisi tersebut dapat menguntungkan Inggris apabila mereka mampu mengendalikan transisi. Namun, lini belakang tetap harus disiplin karena Haaland telah mencetak tujuh gol dan menjadi salah satu penyerang paling berbahaya dalam turnamen.
3. Jude Bellingham Jadi Pembeda
Jude Bellingham memberi Inggris sesuatu yang tidak dimiliki banyak peserta lain. Gelandang Real Madrid tersebut mampu memengaruhi permainan di area pertahanan, lini tengah, hingga kotak penalti lawan.
Ia bukan hanya pemain yang mengandalkan kreativitas atau kemampuan mencetak gol. Bellingham juga kuat dalam duel, agresif ketika menekan, mampu merebut bola, dan memiliki keberanian membawa tim keluar dari tekanan.
Kemampuannya berkembang sejak bermain sebagai gelandang box-to-box bersama Borussia Dortmund. Setelah pindah ke Real Madrid, Bellingham semakin tajam karena mendapatkan kebebasan bergerak mendekati kotak penalti.
Pada musim pertamanya di Madrid, ia mencetak 23 gol di semua kompetisi. Catatan itu hampir menyamai total 24 gol yang dihasilkannya selama tiga musim memperkuat Borussia Dortmund.
Pengaruh Bellingham terlihat sejak fase grup Piala Dunia 2026. Ia berada di kelompok teratas dalam kombinasi gol dan assist, tembakan tepat sasaran, perebutan bola, tekel sukses, serta duel darat yang dimenangkan.
Penampilan lengkapnya muncul ketika Inggris mengalahkan Panama. Bellingham mencetak gol pembuka, memberikan assist kepada Kane, menciptakan empat peluang, melakukan empat tekel sukses, dan memenangkan 15 duel darat.
Ia kembali menjadi penentu ketika menghadapi Meksiko pada babak 16 besar. Dua gol dalam waktu berdekatan membantu Inggris membalikkan tekanan dan membuka jalan menuju kemenangan 3-2.
Bellingham membuat Inggris tidak sepenuhnya bergantung kepada Kane untuk mencetak gol. Ketika penyerang utama mendapatkan pengawalan ketat, ia dapat muncul dari lini kedua dan menyerang ruang yang ditinggalkan lawan.
4. Data Permainan Inggris Layak Diperhitungkan
Penampilan Inggris belum selalu meyakinkan secara visual, tetapi catatan permainannya menunjukkan keseimbangan yang baik. Mereka mampu menciptakan peluang dalam jumlah tinggi sekaligus membatasi kesempatan bersih yang diperoleh lawan.
Pada fase grup, Inggris berada di posisi kedua dalam jumlah tembakan per penguasaan bola. Mereka juga menempati peringkat keempat untuk tembakan tepat sasaran dan kedelapan dalam expected goals.
Enam gol yang dicetak pada fase tersebut sebenarnya masih lebih rendah dibandingkan kualitas peluang yang dihasilkan. Artinya, jumlah gol Inggris masih dapat meningkat apabila penyelesaian akhir para pemain menjadi lebih efisien.
Catatan pertahanan mereka juga cukup kuat. Selama tiga pertandingan fase grup, Inggris tidak memberikan satu pun peluang kepada lawan yang memiliki nilai minimal 0,2 expected goals.
The Three Lions berada di posisi kedua dalam jumlah tembakan lawan per penguasaan bola. Mereka juga menempati urutan ketiga untuk rata-rata kualitas peluang yang diberikan kepada lawan.
Kekuatan fisik menjadi bagian penting dari permainan Inggris. Mereka memenangkan 55,1 persen duel selama fase grup dan menjadi tim yang paling sering mendapatkan pelanggaran dengan jumlah 52 kali.
Penguasaan bola Inggris mencapai 64,8 persen dan menempatkan mereka di jajaran teratas turnamen. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa pasukan Tuchel dapat mengontrol pertandingan tanpa kehilangan kemampuan menekan lawan.
Konsistensi Inggris juga terlihat dalam beberapa turnamen besar terakhir. Dalam lima edisi Piala Dunia dan Piala Eropa sejak 2018, hanya Prancis yang mengumpulkan kemenangan lebih banyak daripada The Three Lions.
5. Thomas Tuchel Menjadi Faktor Penting
Thomas Tuchel memiliki pengalaman yang dibutuhkan untuk menghadapi pertandingan sistem gugur. Ia pernah membawa Chelsea menjuarai Liga Champions dan dikenal mampu menyiapkan strategi khusus untuk meredam kekuatan lawan.
Pendekatannya bersama Inggris memang lebih mengutamakan fungsi dibandingkan permainan penuh kreativitas. Keputusan tersebut membuat The Three Lions terkadang terlihat kaku, tetapi memiliki struktur yang relatif kuat ketika pertandingan memasuki fase kritis.
Tuchel juga mempunyai banyak pemain yang mampu menjalankan lebih dari satu peran. Fleksibilitas tersebut penting ketika cedera, skorsing, atau perubahan situasi pertandingan memaksanya melakukan penyesuaian.
Laga melawan Norwegia akan menguji kemampuan Tuchel mengatasi keterbatasan di pertahanan. Ia harus menemukan susunan yang mampu menghentikan Haaland tanpa memberikan terlalu banyak ruang kepada Odegaard dan pemain pendukung lainnya.
Tidak ada tim yang memiliki jaminan menjuarai turnamen dengan sistem gugur. Satu kesalahan, kartu merah, atau kegagalan memanfaatkan peluang dapat mengakhiri perjalanan kandidat terkuat sekalipun.
Namun, Inggris mempunyai sebagian besar modal yang dibutuhkan untuk bertahan hingga final. Mereka memiliki kedalaman pemain, pengalaman kompetisi elite, kualitas individu, serta pelatih yang memahami tuntutan pertandingan besar.
Masalah kebugaran di lini belakang memang tidak dapat diabaikan. Namun, luasnya pilihan pemain membuat Tuchel masih memiliki beberapa alternatif untuk menjaga keseimbangan tim.
Norwegia akan menjadi ujian berat karena memiliki serangan yang efektif dan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Brasil. Inggris harus tampil lebih disiplin dibandingkan ketika menghadapi Meksiko, terutama dalam menjaga transisi dan menghindari kesalahan di dekat kotak penalti.
Apabila mampu melewati Norwegia, Inggris akan menghadapi pemenang pertandingan Argentina melawan Swiss pada semifinal. Jalur tersebut berat, tetapi kualitas skuad mereka cukup kuat untuk bersaing dengan siapa pun.
Ungkapan “It’s Coming Home” kali ini tidak hanya berdiri sebagai slogan pendukung. Inggris memiliki alasan teknis, statistik, dan kualitas pemain yang membuat peluang menjuarai Piala Dunia 2026 terasa lebih realistis.
Scr/Mashable















