Kekalahan Melawan Manchester United Adalah Peringatan bagi Arsenal

26.01.2026
Kekalahan Melawan Manchester United Adalah Peringatan bagi Arsenal
Kekalahan Melawan Manchester United Adalah Peringatan bagi Arsenal

Kekalahan melawan Manchester United mempersempit selisih poin Arsenal dengan Manchester City, namun, itu menjadi peringatan yang sangat dibutuhkan bagi skuad asuhan Mikel Arteta.

Kekalahan dari Manchester United di Emirates bukan sekadar kekalahan biasa. Itu tampak seperti peringatan keras tentang karakter Arsenal di tahap krusial persaingan perebutan gelar Liga Inggris musim ini.

Hanya dalam delapan hari, dari posisi di mana mereka bisa memperbesar keunggulan menjadi sembilan poin, perwakilan London Utara itu membiarkan Manchester City mempersempit selisih menjadi hanya empat poin setelah tiga pertandingan berturut-turut tanpa kemenangan.

Kelemahan utama tim Mikel Arteta terletak pada ketidakmampuan mereka untuk mengatasi tekanan. Arsenal merasakan tekanan setelah tiga musim berturut-turut finis di posisi kedua. Kecemasan terlihat jelas dalam setiap gerakan, mulai dari umpan Martin Zubimendi yang salah sasaran hingga kebingungan di lini pertahanan mereka.

Sorakan ejekan dari tribun Stadion Emirates saat peluit akhir dibunyikan adalah bukti keretakan kepercayaan para penggemar. Namun, jika kita mengesampingkan emosi dan melihat statistik yang objektif, “kesalahan” ini mungkin tidak begitu serius.

Menurut analisis Opta, peluang Arsenal untuk memenangkan gelar tetap sangat tinggi di angka 84,44% setelah kekalahan mereka di Stadion Emirates . Angka ini bukan tidak masuk akal. Pertama, ketidakstabilan ini bukan hanya dialami oleh “The Gunners”. Sementara klub London Utara ini sedang kesulitan, rival-rival mereka seperti Manchester City dan Liverpool juga terus-menerus kehilangan poin.

Kedua, ini adalah musim Liga Premier yang aneh, di mana total poin tim teratas setelah 23 putaran (50 poin) jauh lebih rendah daripada rata-rata historis (55 poin). Dalam persaingan di mana setiap pesaing tersandung, tim dengan kesalahan paling sedikit akan meraih gelar.

Keunggulan terbesar Arsenal terletak pada jadwal pertandingan mereka. Dibandingkan dengan Manchester City, Chelsea, atau Liverpool, yang menghadapi lawan-lawan dari Big 6 secara berturut-turut, Arsenal secara teori memiliki jadwal yang paling mudah.

Perwakilan London Utara hanya memiliki dua pertandingan sesungguhnya tersisa melawan Chelsea dan Manchester City, sementara rival lainnya menghadapi jadwal yang jauh lebih sulit.

Namun, untuk mengubah keuntungan jadwal pertandingan menjadi gelar juara, Mikel Arteta harus menyelesaikan masalah serangan yang “lumpuh”. Ketergantungan yang berlebihan pada bola mati membuat gaya bermain Arsenal mudah ditebak dan kurang memiliki unsur kejutan dalam permainan terbuka.

Manajer berusia 43 tahun itu menyebut kekalahan di kandang melawan Manchester United sebagai “bagian dari perjalanan”. Memang, tidak ada tim yang memenangkan kejuaraan tanpa mengalami “hari-hari yang menyedihkan” seperti kekalahan dari Manchester United.

Sepak bola adalah cermin yang mencerminkan kehidupan, dan pada akhirnya hanyalah kisah tentang “menggunakan satu taktik untuk melawan taktik lainnya.” Jika Arsenal mampu mengatasi rasa takut mereka dan siap bangkit kembali setelah jatuh, gelar juara akan tetap berada di tangan klub London Utara tersebut.

Sebaliknya, jika kecemasan menguasai diri, bayang-bayang finis di posisi kedua akan kembali menghantui Stadion Emirates. Kuncinya sekarang bukan terletak pada kaki para pemain, tetapi pada pikiran mereka.

Scr/Mashable





Don't Miss