Satadru Dutta, kepala panitia penyelenggara kunjungan Lionel Messi ke India, membagikan beberapa informasi di balik layar seputar perjalanan superstar Argentina tersebut.
Saat ini, Dutta ditahan setelah menyelenggarakan sebuah acara yang dianggap sebagai “bencana” dalam beberapa tahun terakhir di India. Kemunculan singkat Messi dan rekan-rekan setimnya di Inter Miami menciptakan kekacauan, yang sangat merusak citra baik para peserta maupun penyelenggara.
Selama interogasi, Bapak Dutta mengungkapkan biaya selangit untuk mengundang Messi ke India. Secara spesifik, superstar Argentina itu dibayar sekitar $10,7 juta , di mana sekitar $1 juta dibayarkan sebagai pajak kepada pemerintah India, sehingga total biaya acara tersebut mencapai sekitar $100 juta .
Polisi mengatakan mereka menemukan lebih dari 2 juta dolar AS di rekening bank Dutta yang dibekukan. Sejumlah dokumen terkait penjualan tiket dan sponsor juga disita selama penggeledahan.
Seperti dikutip dari Hindusta Times, Dutta juga bersaksi bahwa superstar Argentina itu “merasa sangat tidak nyaman disentuh di punggung atau dipeluk” saat tampil di Stadion Salt Lake pada tanggal 13 Desember. Inilah mengapa Messi tidak berada di acara tersebut hingga selesai seperti yang direncanakan semula.
Menurut Dutta, tim keamanan asing yang bertanggung jawab melindungi Messi telah menyatakan dengan jelas sebelumnya bahwa juara Piala Dunia 2022 itu “tidak menginginkan kontak fisik apa pun.” Namun, meskipun pengumuman berulang kali melalui pengeras suara meminta penonton dan mereka yang hadir untuk menjaga ketertiban, situasinya tidak membaik. Messi dikelilingi di lapangan, terus-menerus ditarik ke samping untuk berfoto dan dipeluk, sehingga hampir tidak mungkin baginya untuk bergerak.
Apa yang diharapkan menjadi festival sepak bola di Kolkata berakhir dengan kekacauan. Ribuan penonton yang membeli tiket mahal tidak dapat melihat Messi dengan jelas karena kepadatan di stadion, yang menyebabkan kemarahan dan perusakan beberapa bagian stadion.
Lionel Messi dan Tur Mengecewakannya di India
Tur GOAT 2025 diharapkan menjadi perayaan Lionel Messi di India. Namun di Kolkata, tur tersebut dengan cepat berubah menjadi pelajaran pahit tentang sepak bola modern.
Lionel Messi tiba di India dalam peran yang sudah biasa disandangnya: bintang terbesar, pusat perhatian mutlak, ikon yang melampaui sepak bola. Bagi jutaan penggemar di negara terpadat di dunia, sekadar melihat Messi secara langsung adalah sebuah mimpi. Namun, kesenjangan antara mimpi dan kenyataan itulah yang menciptakan salah satu citra terburuk dalam perjalanan promosi pemain yang secara luas dianggap sebagai pemain terhebat sepanjang masa.
Tur GOAT India 2025 dirancang sebagai acara yang sempurna: empat kota, tiga hari, Messi, Luis Suarez, dan Rodrigo De Paul. Tiket terjual habis. Liputan media meledak. Ekspektasi berada pada titik tertinggi. Dan seperti biasa, ketika ekspektasi melebihi kapasitas organisasi, sepak bola berhenti menjadi karakter utama.
Ketika Ikon Global Berbenturan dengan Realitas Lokal
Di Kolkata, semuanya dimulai dengan antusiasme. Ribuan orang begadang semalaman menunggu di luar hotel hanya untuk melihat sekilas Messi. Tiketnya tidak murah dibandingkan dengan pendapatan rata-rata di India, tetapi tetap terjual habis. Banyak orang bahkan rela membayar tiga atau empat kali lipat harga aslinya. Bagi mereka, ini bukan hanya tentang membeli tiket sepak bola; ini tentang membeli sebuah kenangan.
Masalahnya adalah ingatan itu tidak muncul.
Messi memang hadir, tetapi dengan cara yang mengecewakan para penonton. Upacara peresmian patung setinggi 70 kaki diadakan, tetapi Messi hanya hadir melalui layar. Rencana acara di stadion diumumkan akan berlangsung selama satu jam, tetapi berakhir setelah sekitar 20 menit. Tidak ada pertandingan persahabatan. Tidak ada penampilan yang layak. Dan bagi sebagian besar penonton, bahkan wajah Messi pun tidak terlihat jelas.
Dalam konteks itu, kemarahan dapat dimengerti. Ketika sepak bola gagal memenuhi janjinya, emosi penonton langsung berubah. Stadion menjadi tempat pembuangan. Spanduk disobek. Kursi plastik dilemparkan. Gambar Messi, alih-alih dikaitkan dengan kegembiraan, muncul di tengah kekacauan.
Perlu ditegaskan: Messi bukanlah penyebab kekacauan. Dia melakukan persis seperti yang telah disepakati. Tetapi sepak bola modern tidak hanya beroperasi berdasarkan kontrak. Ia juga beroperasi berdasarkan emosi para penggemar. Dan di Kolkata, emosi tersebut diabaikan.
Pelajaran Mahal bagi Sepak Bola di Era Bintang
Insiden di Kolkata bukanlah kasus terisolasi. Ini mencerminkan masalah yang lebih besar: ketika sepak bola dikomersialkan secara ekstrem, garis antara kehormatan dan eksploitasi menjadi kabur. Messi dipresentasikan sebagai ikon untuk menjual tiket, citranya, dan mimpinya. Tetapi mimpi-mimpi itu perlu diamankan oleh sistem organisasi yang kompeten.
India adalah pasar yang sangat besar, tetapi sepak bola di sana kekurangan infrastruktur organisasi yang sesuai dengan skala acara sebesar itu. Ketika seorang bintang global muncul, setiap kekurangan langsung diperbesar. Keamanan longgar. Prosedur kurang transparan. Informasi tidak jelas. Dan para penggemar adalah yang pertama menderita.
Fakta bahwa pihak berwenang setempat harus mengeluarkan permintaan maaf dan meluncurkan penyelidikan menunjukkan keseriusan masalah ini. Penyelenggara ditangkap. Media domestik mengkritik acara tersebut dengan keras. Apa yang seharusnya menjadi tur simbolis telah meninggalkan kesan negatif.
Sisa tur berjalan lebih lancar di Hyderabad, Mumbai, dan New Delhi. Messi berada di lapangan lebih lama. Anak-anak diberi bola. Para penggemar menerima tanda tangan. Tetapi citra positif ini tidak cukup untuk menghapus kesan negatif sejak awal.
Bagi Messi, ini adalah noda yang tidak perlu di tahap akhir kariernya. Bagi sepak bola India, ini adalah peringatan yang jelas. Mendatangkan bintang besar tidak secara otomatis menciptakan perayaan. Sepak bola perlu diorganisir dengan menghormati para penggemar, bukan dengan janji-janji yang muluk-muluk.
GOAT Tour seharusnya menjadi perjalanan untuk menghormati seorang legenda. Namun di Kolkata, acara ini mengingatkan dunia bahwa bahkan Messi pun tidak mampu menyelamatkan sebuah acara yang dibangun di atas fondasi yang lemah.
Scr/Mashable















