Pembalap Belanda, Max Verstappen mengakui bahwa ia mungkin akan pensiun dari Formula One (F1) karena ia tidak lagi tertarik dengan gaya balap saat ini.
Verstappen telah menarik perhatian dunia balap dengan secara terbuka menyatakan kemungkinannya untuk meninggalkan F1 setelah musim 2026. Pembalap Red Bull itu mengatakan bahwa ia tidak lagi merasa nyaman dengan peraturan saat ini, bahkan menyebutnya “bertentangan dengan semangat balap.”
Di Grand Prix Jepang, Verstappen hanya finis di posisi ke-8, setengah menit di belakang pemenang Kimi Antonelli. Sebelumnya, ia finis di posisi ke-6 di Melbourne dan gagal menyelesaikan balapan di China. Ini menandai pertama kalinya dalam 9 tahun Verstappen finis di luar 5 besar dalam tiga balapan berturut-turut.
Meskipun demikian, pembalap Belanda itu menegaskan bahwa hasil bukanlah masalah terbesar. Ia mengatakan bahwa ia bisa menerima jika tidak selalu bersaing untuk meraih podium di setiap balapan. Namun, yang membuatnya tidak puas adalah perasaan bersaing itu sendiri.
“Ketika Anda tidak lagi menikmati cara kejuaraan dijalankan, semuanya terasa tidak wajar bagi seorang pembalap. Saya masih mencoba beradaptasi, tetapi gaya balap saat ini tidak menyenangkan,” ungkap Verstappen.
Ia menekankan bahwa hal ini membuatnya serius mempertimbangkan masa depannya.
Pembalap berusia 28 tahun itu mengakui bahwa ia terus-menerus bertanya-tanya apakah melanjutkan kompetisi masih “layak”. Verstappen mengatakan ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman-teman, terutama karena ia tidak lagi merasakan kegembiraan dalam olahraga yang ia tekuni.
Saat ini Verstappen memiliki kontrak dengan Red Bull hingga 2028, tetapi klausul terkait performa dapat memungkinkannya untuk meninggalkan tim lebih awal. Mercedes dilaporkan masih tertarik pada pembalap tersebut, meskipun belum ada langkah konkret yang dilakukan.
Oleh karena itu, masa depan Verstappen tetap tidak pasti. Namun, fakta bahwa seorang juara telah berulang kali menyuarakan kurangnya antusiasme menunjukkan bahwa Formula 1 berisiko kehilangan salah satu pembalap topnya.
Max Verstappen Ancam Cabut dari F1: Sinyal Kiamat buat Red Bull?
Verstappen, yang dikenal sebagai pembalap murni (pure racer), merasa F1 era sekarang sudah kehilangan jiwanya. Perubahan regulasi yang membagi porsi tenaga 50-50 antara mesin pembakaran dalam (ICE) dan motor listrik dianggapnya merusak sensasi membalap yang natural.
Bahkan, Verstappen menyindir F1 kini tak ubahnya seperti video game Mario Kart, di mana manajemen energi lebih krusial ketimbang skill mengemudi itu sendiri.
Meski isu ini memanas, Team Principal Red Bull, Laurent Mekies, mencoba mendinginkan suasana. Ia percaya bahwa rasa frustrasi Max hanyalah buntut dari performa mobil yang belum kompetitif.
“Saat kami memberinya mobil yang kencang dan bisa ia ajak bertarung habis-habisan, Max akan jauh lebih bahagia,” ujar Mekies optimis. Namun, benarkah hanya soal kecepatan? Sepertinya tidak,” ucap Mekies, diukutip dari BBC.
Verstappen tidak sendirian. Sederet pembalap top seperti Carlos Sainz dan Fernando Alonso juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Masalah utamanya adalah perbedaan kecepatan (speed delta) yang ekstrem di lintasan.
Kecelakaan horor Oliver Bearman (Haas) di tikungan Spoon menjadi bukti nyata. Karena harus mengisi ulang baterai (charging), sebuah mobil bisa berjalan jauh lebih lambat di tikungan cepat dibanding mobil di belakangnya yang sedang menggunakan boost.
“Ada perbedaan kecepatan hingga 50 km/jam. Itu bukan balapan! Tidak ada kategori balap lain di dunia dengan perbedaan kecepatan semengerikan ini,” tegas Carlos Sainz.
Fernando Alonso memberikan kritik yang lebih pedas. Legenda asal Spanyol ini menyebut tantangan di sirkuit legendaris seperti Suzuka kini sudah “hilang”.
“Sekarang tikungan kecepatan tinggi cuma jadi tempat nge-cas baterai. Anda pelan di sana, isi daya, lalu tancap gas di trek lurus. Skill pembalap jadi tidak terlalu dibutuhkan lagi,” sindir Alonso.
Kini bola panas ada di tangan FIA dan bos-bos F1. Mereka berada di persimpangan jalan: mempertahankan regulasi ramah lingkungan demi kepentingan komersial, atau mendengarkan jeritan para pembalap yang merasa keselamatan dan esensi olahraga ini terancam.
Jika FIA tidak segera bertindak merombak rasio tenaga mesin atau meningkatkan aliran bahan bakar untuk musim depan, F1 harus bersiap kehilangan aset terbesarnya. Max Verstappen sudah memberikan ultimatum: ia tidak butuh uang atau gelar tambahan jika ia tidak lagi menikmati apa yang ia lakukan.
Scr/Mashable















