Mengenal Jairo Matos, Sang Pemain Asing Pertama di Kompetisi Bola Indonesia

08.02.2026
Mengenal Jairo Matos, Sang Pemain Asing Pertama di Kompetisi Bola Indonesia
Mengenal Jairo Matos, Sang Pemain Asing Pertama di Kompetisi Bola Indonesia

Nama Pardedetex mungkin tidak lagi sering terdengar dalam percakapan sepak bola modern Indonesia. Namun bagi sejarah kompetisi nasional, klub asal Medan itu menempati posisi yang nyaris tak tergantikan.

Dari klub kota di Sumatera Utara tersebut, sepak bola Indonesia pertama kali mengenal istilah ‘pemain asing’. Sosoknya adalah seorang pria Brasil bernama Jairo Matos.

Bagi Jairo, Medan bukan sekadar kota singgah dalam karier. Tempat itu menjadi bagian penting dalam hidupnya, bahkan lebih dari sekadar kenangan seorang pesepak bola profesional.

Ada kisah, keluarga, dan keputusan besar yang berakar di sana. Ia lahir di Brasil sekitar 65 tahun lalu, tetapi takdir justru membawanya menghabiskan banyak fase kehidupan di Indonesia.

Perjalanannya menuju Nusantara tidak berlangsung langsung. Sepak bola mempertemukannya dengan Asia terlebih dahulu. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak benar-benar meninggalkan Brasil untuk merantau.

“Banyak orang belum tahu, saya bukan memilih pergi dari Brasil, tapi menerima suatu undangan dari Jepang,” kenangnya dalam sebuah wawancara yang dilansir Mashable Indonesia dari Indosport.

Pada 1974, klub Jepang Yomiuri FC, yang kini dikenal sebagai Tokyo Verdy, memang aktif mencari talenta muda dari Amerika Selatan. Jairo termasuk pemain yang berhasil mereka datangkan. Ia kemudian menjalani hampir satu dekade karier di Negeri Sakura.

Namun Jepang tidak sepenuhnya cocok baginya. Selain perbedaan budaya, cuaca menjadi tantangan besar. “Saya agak kedinginan di Jepang,” ucapnya. Hal sederhana itu ternyata berpengaruh pada masa depan kariernya.

Di tengah situasi tersebut, datang tawaran yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seorang berkebangsaan Belanda memperkenalkannya pada sebuah klub Indonesia: Pardedetex, tim milik pengusaha Medan Tumpal Doranius Pardede. Keputusan yang diambilnya pada 1982 kemudian menjadi tonggak sejarah sepak bola nasional.

Ia pun tiba di Indonesia dan resmi memperkuat Pardedetex di kompetisi Galatama. Tanpa disadari, Jairo menjadi pemain asing pertama yang bermain di liga sepak bola Indonesia.

“Kalau bukan karena Pardedetex, saya hampir mustahil ada di Indonesia sampai sekarang,” ujarnya.

Kedatangannya tidak lepas dari kemampuan finansial klub. Pada era 1980-an, Tumpal Pardede dikenal sebagai salah satu pengusaha besar Indonesia. Klubnya mampu menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: pemain profesional dari luar negeri.

Tetapi yang paling membekas bagi Jairo justru bukan fasilitas, melainkan atmosfer. Ia merasakan pengalaman berbeda dibandingkan Jepang.

“Penonton-penonton Indonesia beda jauh dari Jepang. Penonton Indonesia itu cinta sepak bola. Atmosfer suporter dan suhu yang buat saya pindah dari Jepang ke Indonesia,” katanya.

Menurutnya, gairah sepak bola di Indonesia mengingatkannya pada kampung halaman di Brasil. Stadion penuh, sorakan keras, dan emosi penonton membuatnya merasa dekat dengan budaya sepak bola Amerika Selatan.

Kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Pada 1984, regulasi Galatama berubah. Klub tidak lagi diizinkan menggunakan pemain asing. Jairo pun harus meninggalkan Pardedetex.

“Saat itu saya tidak tahu alasannya apa, pemain asing tidak diperbolehkan,” katanya. Ia bahkan menilai kebijakan tersebut sempat menghambat perkembangan sepak bola nasional.

Meski harus pergi, hubungannya dengan Indonesia tidak pernah benar-benar berakhir. Ia kembali ke Brasil dan menutup karier profesionalnya di sana. Namun pada 1988, ia mengambil keputusan besar: membawa istri serta kedua anaknya pindah ke Indonesia dan menetap.

Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan negara ini. Bahkan pada akhir 1970-an, ia pernah didorong banyak pihak untuk menjadi warga negara Indonesia, meski saat itu belum ia ambil.

“Saya berterima kasih kepada Pardedetex karena bisa menerima saya di sini dan memberikan yang terbaik buat saya,” tuturnya.

Kecintaannya tidak berhenti sebagai mantan pemain. Ia ingin berkontribusi lebih jauh. “Saya memilih kembali ke Indonesia untuk mengurus sepak bolanya. Saya pikir sepak bola Indonesia punya potensi yang luar biasa,” ucap Jairo.

Komitmen itu ia wujudkan dengan mendirikan sekolah sepak bola di Jakarta pada 1990-an. Setelahnya, ia melatih sejumlah tim daerah di Sumatera Utara, termasuk Tapanuli Utara dan Harimau Tapanuli. Ia bahkan turun langsung mencari pemain muda.

“Saya mencari pemain-pemainnya sampai ke kampung-kampung Tapanuli Utara, Balige, Samosir, dan Porsea,” katanya.

Hingga kini ia tetap memegang paspor Brasil, tetapi hatinya tidak sepenuhnya jauh dari Indonesia. Ia hidup nyaman di Medan dan keluarganya berakar di sana. Salah satu anaknya, Jaino Matos, pernah menjabat General Manager Pembinaan Badak Lampung FC.

Ada harapan sederhana yang masih ia simpan.

“Walaupun saya cinta dan memiliki keluarga di Indonesia, saya tetap masih orang Brasil. Tapi jika suatu saat saya harus pindah warga negara, saya tidak keberatan.”

Kisah Jairo Matos bukan hanya cerita pemain asing pertama di Liga Indonesia. Ia adalah bukti bahwa sepak bola mampu melampaui negara, bahasa, dan budaya.

Dari Medan, seorang pesepak bola Brasil menemukan rumah kedua — dan Indonesia memperoleh bagian kecil dari sejarah global olahraga paling populer di dunia.

Scr/Mashable





Don't Miss