Manchester United kembali mengguncang jagat sepakbola Inggris. Setelah menaklukkan Manchester City di Old Trafford pekan lalu, “Setan Merah” kembali membungkam Arsenal di kandang mereka sendiri, Emirates Stadium, dengan skor 3-2 pada Minggu (25/01/2026).
Dua kemenangan telak beruntun ini bukan lagi sekadar kejutan, melainkan sinyal kebangkitan sebuah raksasa yang bangun dari tidur panjang.
Di bawah kendali pelatih sementara Michael Carrick, United menampilkan wajah yang sama sekali berbeda dibanding periode akhir kepemimpinan Ruben Amorim. Kemenangan ini lahir bukan dari momen ajaib individu, tetapi dari sebuah mesin tim yang solid, disiplin taktis, dan mental pemenang yang kembali menyala.
Danny Murphy dalam tulisannya di BBC menulis, kunci kemenangan terletak pada bangkitnya para pemain inti di garis tengah tim. Harry Maguire tampil gemilang di jantung pertahanan, menjadi pemimpin yang teguh. Di depannya, Casemiro menguasai lini tengah dengan kecerdikan dan pengalamannya, menjadi tameng yang kokoh.
Perubahan paling signifikan terlihat pada Bruno Fernandes. Kembali ditempatkan di posisi nomor 10 yang menjadi favoritnya, sang playmaker Portugal itu seperti mendapat nyawa baru. Ia menjadi otak serangan, kreatif, dan tak kenal lelah.
“Yang utama, mereka semua terlihat sangat nyaman dengan cara tim disusun,” tulis Danny Murphy. “Mereka terlihat lebih bahagia, bahasa tubuh positif, saling percaya, dan kepercayaan diri itu terlihat jelas.”
Carrick, dengan pendekatannya yang jernih, menerapkan formasi 4-2-3-1 atau 4-4-1-1 yang memanfaatkan kekuatan masing-masing pemain. Fernandes bebas berkarya di belakang Bryan Mbeumo, yang tidak hanya menjadi ancaman gol tetapi juga mampu menahan bola dan meneror pertahanan lawan dengan pace serta energinya.
Kedisiplinan tim dalam menjalankan instruksi Carrick sungguh mengagumkan. Dua ujung sayap, Amad Diallo dan Patrick Dorgu, menunjukkan kerja keras luar biasa dengan turun membantu pertahanan, membentuk formasi enam pemain belakang saat diperlukan. Namun, begitu bola direbut, keduanya segera berubah menjadi wingers yang siap menerjang.
“Semua orang tahu tugas mereka. Fernandes turun membantu Kobbie Mainoo dan Casemiro yang dengan apik melindungi empat pemain belakang. Bentuk dan peran yang jelas dari Carrick membuat mereka bertahan secara kolektif.
Dengan kecepatan yang dimiliki Diallo, Dorgu, dan Mbeumo, transisi dari bertahan ke menyerang United menjadi senjata paling mematikan. Dua gol yang tercipta adalah buah dari skema taktis yang dijalankan dengan sempurna, bukan kebetulan.
Perbandingan dengan performa di akhir era Amorim sangat mencolok. Dulu, United tampak seperti sekumpulan individu yang kebingungan. Kini, mereka adalah satu unit yang kompak dan punya rencana jelas. Motivasi dan komunikasi Carrick berhasil membangkitkan kepercayaan diri serta chemistry yang sempat hilang.
Dua kemenangan beruntun atas rival berat bukan hanya membawa tambahan enam poin berharga, tetapi yang lebih penting adalah restorasi mental dan identitas. Michael Carrick, dengan ketenangan dan kecerdikan taktisnya, berhasil menemukan kunci untuk mengembalikan roh ke dalam skuad ini.
Pertanyaan besar sekarang adalah: bisakah United mempertahankan konsistensi level ini? Jawabannya akan menentukan bukan hanya perjalanan mereka di sisa musim, tetapi juga nasib Carrick apakah akan diangkat menjadi pelatih permanen. Satu hal yang pasti, aroma kejayaan mulai kembali tercium di Old Trafford.
Scr/Mashable
















