Kesalahan taktis, paceklik gol, dan selisih sembilan poin dengan Arsenal membuat musim tersulit Manchester City di bawah manajemen Pep Guardiola menjadi yang terberat.
Dari tribune Stadion London pada 15 Maret, Pep Guardiola menyaksikan tanpa daya saat Manchester City kehilangan dua poin melawan West Ham United di pekan ke-30 Liga Inggris. Hasil imbang 1-1 tampak seperti kesalahan biasa, tetapi dalam konteks kemenangan Arsenal baru-baru ini atas Everton, rasanya seperti momen di mana perebutan gelar Premier League mulai lepas dari genggaman The Blues.
Semua Keuntungan Lenyap
Selisih poin antara Man City dan Arsenal kini 9 poin. Di musim di mana tim-tim telah melewati 30 pertandingan, selisih tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dikejar. Sejarah Premier League pernah menyaksikan kebangkitan seperti itu sebelumnya, dan ironisnya, Man City-lah yang berhasil melakukannya pada musim 2013/14. Namun, Guardiola pun memahami bahwa sejarah tidak selalu terulang.
Setelah pertandingan melawan West Ham, manajer asal Spanyol itu dengan jujur menerima tanggung jawab. Ia mengatakan bahwa pers dapat “mengkritik tanpa ampun” atas susunan pemain inti.
Itu adalah komentar yang setengah bercanda dan setengah serius, tetapi juga mencerminkan suasana hati Guardiola saat ini. Ketika sebuah tim yang terbiasa menang mulai kehilangan poin secara beruntun, setiap keputusan taktis menjadi bahan perdebatan.
Hasil imbang melawan West Ham menyoroti masalah Man City musim ini: mereka mengontrol permainan, menciptakan peluang, tetapi kurang sentuhan akhir. Selama bertahun-tahun, Man City asuhan Guardiola terkenal karena kemampuan mereka untuk mencekik lawan dengan tekanan tanpa henti. Mereka bisa menang 3-0 atau 4-0 dalam pertandingan di mana lawan praktis tidak memiliki kesempatan untuk membalas.
Namun musim ini, konsistensi itu mulai menghilang. Guardiola mengakui timnya kekurangan kreativitas di sepertiga lapangan terakhir. Itu adalah kelemahan yang mengkhawatirkan, karena dalam sistemnya, momen-momen brilian di area krusial itu biasanya membuat perbedaan.
Tentu saja, semua mata tertuju pada Erling Haaland. Striker Norwegia ini pernah memukau Liga Premier dengan rekor mencetak golnya yang luar biasa. Namun belakangan ini, performanya jelas menurun. Haaland hanya mencetak 4 gol dalam 18 pertandingan terakhirnya dan belum mencetak gol selama lebih dari sebulan.
Secercah Harapan Masih Tersisa
Guardiola tetap membela pemainnya. Dia menekankan bahwa Man City perlu menciptakan lebih banyak peluang untuk Haaland. Itu benar, tetapi juga tak dapat disangkal bahwa sistem serangan Man City musim ini kurang lancar seperti biasanya. Ketika umpan akhir tidak akurat, bahkan striker mematikan seperti Haaland pun menjadi terisolasi.
Namun perlu dicatat bahwa Guardiola belum menyerah. Dia masih bersikeras bahwa persaingan perebutan gelar belum berakhir. Menurutnya, Man City masih memiliki satu pertandingan tunda dan masih harus menghadapi Arsenal di Etihad. Dalam sepak bola, segalanya bisa berubah hanya dalam beberapa minggu.
Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Di bawah asuhan Guardiola, Man City telah berulang kali menunjukkan kemampuannya untuk berakselerasi di tahap akhir musim. Mereka sering kali mengubah selisih yang tampaknya tak teratasi menjadi kebangkitan yang spektakuler.
Namun, musim ini tampaknya berbeda. Man City masih mengontrol penguasaan bola, masih menciptakan puluhan peluang mencetak gol per pertandingan, tetapi tidak ada lagi perasaan bahwa mereka akan selalu menemukan gol kemenangan.
Manchester City akan menghadapi Real Madrid di leg kedua Liga Champions. Ini bisa menjadi pertandingan yang menentukan musim mereka. Kemenangan dapat membangkitkan kembali kepercayaan diri mereka. Kekalahan dapat dengan cepat menghancurkan segalanya.
Guardiola memahami hal itu lebih baik daripada siapa pun. Tetapi seperti yang dia katakan, sebelum semuanya berakhir, Man City masih harus berjuang hingga akhir. Dan bagi tim yang telah mendominasi Liga Premier selama bertahun-tahun, harapan selalu sulit untuk dipadamkan.
Scr/Mashable















