Pelatih Chelsea, Liam Rosenior menyatakan bahwa gol kedua yang bersarang di gawang The Blues membuat mereka kehilangan kemenangan dalam pertandingan melawan Leeds United dalam lanjutan Liga Inggris 2025/2026, Rabu 11 Februari 2026 dini hari WIB.
Chelsea tampaknya telah mengamankan tiga poin ketika mereka unggul 2-0 atas Leeds United berkat gol dari Joao Pedro dan Cole Palmer. Namun, tragedi terjadi di Stamford Bridge ketika “The Blues” tiba-tiba runtuh hanya dalam beberapa menit, memungkinkan lawan mereka untuk secara dramatis menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Setelah Lukas Nmecha memperkecil selisih skor melalui tendangan penalti, Noah Okafor memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk mengamankan hasil imbang. Kritik terfokus pada kejadian sebelumnya, ketika Jayden Bogle dari Leeds dituduh melakukan handball tetapi gol tersebut tetap disahkan.
Berbicara kepada Sky Sports setelah pertandingan, manajer Liam Rosenior mengungkapkan kekecewaan yang mendalam atas insiden kontroversial tersebut. Ia menyatakan: ” Bola jelas menyentuh tangannya (Bogle). Situasi itu secara langsung memengaruhi para pemain saya.”
“Mereka berhenti sejenak, mengira itu adalah kesalahan, yang menyebabkan hilangnya konsentrasi dan kegagalan untuk menghalau bola tepat waktu. Sungguh konyol bahwa Leeds mencetak dua gol hanya dalam lima menit, padahal kami adalah tim yang jauh lebih baik selama sisa pertandingan.”
Pelatih asal Inggris itu juga menyatakan penyesalannya atas kurangnya karakter para pemainnya: ” Saya sangat kecewa dengan bagaimana jalannya pertandingan setelah gol kedua. Jika mereka mampu mempertahankan fokus selama 90 menit penuh, tim ini memiliki potensi luar biasa, yang telah disaksikan semua orang sepanjang pertandingan hari ini .”
Hasil imbang yang merugikan ini, meskipun tidak memengaruhi posisi Chelsea di klasemen liga, dapat membuat Liverpool memperkecil jarak jika tim Anfield mengalahkan Sunderland.
Chelsea Merugikan Diri Sendiri
Hasil imbang melawan Leeds mengungkap kelemahan Chelsea, karena kesalahan individu dari Caicedo, Acheampong, dan Palmer menyebabkan mereka kehilangan poin meskipun sempat unggul di Stamford Bridge.
Suasana di Stamford Bridge berubah dari kegembiraan menjadi keheningan yang mencekam dalam sekejap. Lebih dari 40.000 penonton menyaksikan skenario yang sangat familiar dan memilukan: Chelsea bermain bagus, unggul terlebih dahulu, lalu melakukan kesalahan fatal karena kurangnya konsentrasi di momen-momen krusial.
Hasil imbang 2-2 melawan Leeds United bukan hanya sekadar kehilangan dua poin; itu adalah bukti paling jelas dari ketidakstabilan tim muda di bawah manajer baru Liam Rosenior. Selama 65 menit pertama, Chelsea menunjukkan kendali sempurna atas permainan mereka, tetapi semua upaya mereka sia-sia karena kesalahan individu yang sebenarnya dapat dihindari.
Kritik tersebut berfokus pada lini pertahanan, di mana statistik yang mengesankan tidak mampu menutupi kesalahan-kesalahan fatal.
Moises Caicedo menjalani hari yang penuh perjuangan dengan 9 kontribusi defensif dan tingkat akurasi umpan 90% (66/73 umpan). Namun, soliditas itu sama sekali tidak berarti ketika ia melakukan pelanggaran terhadap Jayden Bogle di dalam kotak penalti. Kesalahan impulsif ini memberi Leeds penalti, memberikan secercah harapan bagi Lukas Nmecha dan sepenuhnya mengubah dinamika psikologis pertandingan.
Kurangnya pengalaman bahkan lebih terlihat jelas pada kasus Josh Acheampong. Pemain berbakat berusia 19 tahun ini memiliki statistik umpan yang hampir sempurna dengan tingkat keberhasilan 99%, menyelesaikan 73 dari 74 umpan dalam 79 menit di lapangan.
Statistik tersebut menunjukkan sirkulasi bola yang sangat baik, tetapi nilai seorang bek terletak pada keamanan absolut. Acheampong melakukan kesalahan langsung yang berujung pada gol, menciptakan kekacauan di area penalti yang memungkinkan Noah Okafor dengan mudah menyodok bola ke gawang yang kosong. Keragu-raguan dan kurangnya pengalaman pemain muda seperti Acheampong-lah yang menyebabkan Chelsea panik ketika lawan mereka menyerang.
Masalah Chelsea di Liga Inggris musim ini lebih serius dari sebelumnya. Mereka berulang kali unggul melawan lawan-lawan seperti Aston Villa, Bournemouth, Arsenal, Sunderland, dan Brighton di kandang, hanya untuk mengakhiri pertandingan tanpa mengamankan tiga poin penuh. Ketidakstabilan emosional ini membuat kaki para pemain terasa berat setiap kali lawan memberi tekanan. Ketika pertahanan melakukan kesalahan, serangan tidak mampu memperbaikinya.
Tendangan Cole Palmer dari jarak 2 meter yang melambung di atas mistar gawang pada menit ke-94 merupakan simbol kekalahan Chelsea. Seorang pemain kelas dunia, yang sebelumnya telah memberikan assist dan mencetak gol, melewatkan peluang dengan peluang sukses 99,9%. Pelatih Rosenior mengakui tim “kehilangan ketenangan” dan membuat “keputusan yang buruk.” Jika mereka tidak segera memperbaiki kecenderungan untuk membiarkan peluang terlepas dan meminimalkan kesalahan individu yang konyol, Chelsea akan terus terpuruk dalam kekecewaan di liga terberat di Inggris.
Scr/Mashable















