Sepak bola Italia Sedang Mengalami Kemunduran

25.02.2026
Sepak bola Italia Sedang Mengalami Kemunduran
Sepak bola Italia Sedang Mengalami Kemunduran

Sepak bola Italia sedang menghadapi salah satu periode terburuknya dalam beberapa tahun terakhir.

Inter Milan tersingkir dari Liga Champions setelah kalah 1-2 melawan Bodo/Glimt di kandang sendiri, Rabu 25 Februari 2026 dini hari WIB. Skor agregat setelah dua leg adalah 2-5, hasil yang memalukan bagi tim yang telah mencapai final Liga Champions dua kali dalam tiga musim terakhir.

Sebelumnya, juara bertahan Serie A, Napoli, juga mengecewakan dengan tersingkir di babak kualifikasi Liga Champions. Fakta bahwa tim yang baru saja memenangkan Scudetto tersingkir begitu cepat dari kompetisi kontinental menunjukkan kesenjangan yang semakin besar antara Serie A dan liga-liga top lainnya.

Klub lain seperti Atalanta dan Juventus juga terancam setelah mengalami kekalahan melawan Dortmund dan Galatasaray masing-masing di leg pertama babak play-off, menghadapi risiko eliminasi dini. Prospek Serie A tanpa perwakilan di babak knockout Liga Champions semakin besar.

Patut dicatat, sejak kemenangan Inter di Liga Champions musim 2009/10, belum ada klub Italia yang mampu mencapai puncak sepak bola Eropa. Lebih dari satu dekade telah berlalu, dan Serie A masih berjuang untuk merebut kembali kejayaannya.

Di level tim nasional, Italia menghadapi risiko gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Setelah kekecewaan gagal lolos pada tahun 2018 dan 2022, prospek gagal lolos ke ajang sepak bola terbesar di planet ini sekali lagi menjadi penyebab kekhawatiran di kalangan penggemar. Sebuah negara sepak bola yang telah memenangkan Piala Dunia empat kali kini berjuang dalam persaingan untuk lolos ke turnamen paling bergengsi tersebut.

Semua fakta ini menunjukkan bahwa sepak bola Italia membutuhkan proses pembangunan kembali yang radikal, mulai dari sistem pelatihan pemain muda dan strategi pengembangan liga hingga pola pikir taktisnya. Tanpa perubahan mendasar, posisi Italia di peta sepak bola dunia dapat terus menurun.

Capello: Inter Milan Terlalu Lambat dan Kurang Kreatif

Inter Milan kalah 1-2 dari Bodo Glimt di leg kedua babak play-off pada, Rabu 25 Februari 2026 dini hari WIB, mengakhiri perjalanan mereka di Liga Champions dengan skor agregat 2-5 dan menuai kritik keras dari Fabio Capello.

Kekalahan 1-2 di Meazza melawan Bodo Glimt tidak hanya menyingkirkan Inter Milan dari babak play-off Liga Champions , tetapi juga memicu gelombang kritik keras. Setelah dua leg, perwakilan Serie A itu kalah agregat 2-5. Bagi tim yang mencapai final musim lalu, hasil ini merupakan kemunduran yang signifikan dan tidak dapat diterima.

Fabio Capello tidak menyembunyikan kekecewaannya. Mantan pelatih Italia itu secara terus terang menyatakan bahwa Inter terlalu lambat dalam setiap aspek permainan mereka. Menurutnya, Nerazzurri kekurangan kecepatan, kemampuan untuk menciptakan terobosan, dan hampir tidak memiliki peluang satu lawan satu yang sesungguhnya.

“Saya merasa Inter terlalu lambat dalam permainan mereka. Mereka mencoba menyerang melalui tengah tetapi tidak efektif. Yang menarik perhatian saya adalah tidak ada yang bisa melewati lawan dengan dribbling. Tidak ada situasi satu lawan satu, tidak ada terobosan, sangat sedikit perubahan arah,” tegas Capello setelah pertandingan.

Di babak pertama, Inter sering menyerang melalui sayap kanan. Namun, serangan mereka kurang mematikan. Capello percaya Federico Dimarco bisa menjadi ancaman serangan yang mengejutkan, tetapi ia tidak diposisikan untuk memanfaatkan akselerasi dan kemampuannya mengubah arah. Kurangnya pilihan untuk mengubah tempo membuat Inter frustrasi melawan tim Bodo Glimt yang bermain hati-hati dan disiplin.

Capello juga menunjukkan bahwa titik balik itu datang terlalu terlambat. Ia berkomentar bahwa permainan baru benar-benar berubah ketika Sucic masuk, tetapi saat itu Inter sudah berada dalam posisi yang sulit.

“Inter tidak bermain dengan tempo yang dibutuhkan untuk mengalahkan tim seperti Bodo. Ketika Sucic masuk, keadaan membaik, tetapi sudah terlambat,” tambahnya.

Tersingkir dengan agregat skor 2-5 merupakan pukulan besar bagi ambisi Inter. Dari menjadi runner-up musim lalu hingga angkat koper di babak play-off, selisih tersebut cukup untuk menimbulkan banyak pertanyaan. Ini bukan hanya tentang taktik, tetapi juga tentang tempo, keberanian, dan kemampuan untuk membuat perbedaan di momen-momen krusial.

Scr/Mashable





Don't Miss