Serangan rudal terhadap kompleks olahraga Azadi di Teheran tidak hanya menghancurkan sebuah arena, tetapi juga merusak salah satu simbol olahraga paling ikonik dan tak terlupakan dalam sepak bola Iran.
Menurut kantor berita Fars Iran, serangan rudal yang dilakukan oleh AS dan Israel pada tanggal 5 Maret menghantam arena berkapasitas 12.000 tempat duduk di kompleks olahraga Azadi di Teheran.
Serangan itu menghancurkan seluruh arena dalam ruangan dan banyak bangunan di sekitarnya. Azadi bukanlah sebuah stadion tunggal. Ini adalah kompleks olahraga terbesar di Iran, terletak di sebelah barat Teheran dan dikenal sebagai Kompleks Olahraga Azadi.
Di dalam kompleks ini terdapat berbagai fasilitas olahraga, mulai dari stadion sepak bola dan arena serbaguna hingga lapangan latihan.
Di jantung kompleks ini terdapat Stadion Azadi, stadion sepak bola terbesar di Iran dengan kapasitas saat ini sekitar 78.000 penonton. Stadion ini merupakan kandang tim nasional Iran serta dua klub terkenal, Persepolis dan Esteghlal.
Bagi penggemar sepak bola Iran, Azadi adalah ikon yang terkait dengan pertandingan bersejarah dan momen tak terlupakan dalam sejarah olahraga negara tersebut.
Selama beberapa dekade, Azadi bukan hanya pusat olahraga Iran, tetapi juga tempat langka di mana penggemar Iran dapat menyaksikan bintang-bintang sepak bola internasional.
Pada tahun 2023, Cristiano Ronaldo melakukan perjalanan ke Teheran bersama Al-Nassr FC untuk memainkan pertandingan Liga Champions AFC melawan Persepolis, yang menciptakan sensasi besar di kalangan penggemar.
Sebelumnya, Stadion Azadi juga telah menjadi tuan rumah banyak pertandingan spesial. Legenda seperti Roberto Carlos, Luis Figo, Fabio Cannavaro, dan Fernando Hierro berpartisipasi dalam pertandingan amal antara tim “World All-Stars” dan mantan pemain tim nasional Iran. Mantan bintang AC Milan juga memainkan pertandingan persahabatan di sini melawan Persepolis pada tahun 2013.
Oleh karena itu, kerusakan di Azadi bukan hanya hilangnya infrastruktur. Bagi banyak warga Iran, ini juga merupakan pukulan bagi ikon olahraga yang telah terjalin dengan sejarah sepak bola negara tersebut.
Trump Desak Iran Menyerah Tanpa Syarat, Konflik Berpotensi Berlangsung Berbulan-bulan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan yang belum sepenuhnya jelas terkait tuntutannya agar Iran melakukan penyerahan tanpa syarat di tengah meningkatnya konflik antara kedua negara.
Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump juga tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika Serikat ke wilayah Iran, meskipun untuk saat ini langkah tersebut belum menjadi prioritas dalam strategi militernya.
Berbicara kepada jurnalis di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menjelaskan secara singkat makna dari tuntutannya terhadap pemerintah Iran.
Namun penjelasan yang diberikan dinilai masih sangat umum sehingga memunculkan berbagai pertanyaan mengenai tujuan politik Amerika Serikat dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Saya mengatakan tanpa syarat. Itu berarti ketika mereka menyerah begitu saja atau ketika mereka tidak bisa bertempur lagi dan tidak ada seorang pun yang tersisa untuk menyerah—itu juga bisa terjadi,” ujar Trump dikutip Mashable Indonesia dari The Guardian.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi mengenai arah kebijakan Washington terhadap Iran. Sejumlah pengamat menilai kurangnya detail dari pernyataan presiden membuat sulit untuk memahami gambaran akhir yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat dalam konflik tersebut, termasuk bagaimana proses transisi kepemimpinan di Iran akan berlangsung apabila rezim saat ini runtuh.
Meski demikian, Trump terlihat lebih konsisten dalam menjelaskan pendekatan militer yang sedang dijalankan. Ia mengakui bahwa opsi pengerahan pasukan darat Amerika Serikat tetap terbuka, terutama jika diperlukan untuk mengamankan uranium yang telah diperkaya yang diyakini berada di sejumlah fasilitas nuklir Iran yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat.
“Kami belum membicarakannya. Mungkin pada suatu saat nanti akan dibahas. Itu akan menjadi hal yang besar,” kata Trump. Ia menambahkan, “Saat ini kami hanya sedang menghancurkan mereka. Kami belum menargetkannya, tetapi itu sesuatu yang bisa kami lakukan nanti. Kami tidak akan melakukannya sekarang.”
Di sisi lain, Trump secara tegas menolak kemungkinan melibatkan pasukan Kurdi dalam operasi militer terhadap Iran. Gagasan tersebut sempat beredar di Washington setelah beberapa laporan media menyebut kelompok Kurdi di kawasan Timur Tengah telah mendapatkan dukungan persenjataan dari badan intelijen Amerika Serikat.
Namun Trump menilai keterlibatan kelompok tersebut justru berpotensi memperumit situasi yang sudah tegang.
“Saya tidak ingin Kurdi masuk,” kata Trump. “Mereka bersedia masuk, tetapi saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak ingin mereka terlibat. Perang ini sudah cukup rumit tanpa melibatkan Kurdi.”
Pernyataan presiden itu muncul hanya beberapa jam setelah ia menghadiri upacara pemulangan jenazah enam personel militer Amerika Serikat yang gugur pada tahap awal konflik.
Upacara tersebut berlangsung di Pangkalan Angkatan Udara Dover di negara bagian Delaware, di mana Trump hadir bersama Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Dalam upacara militer tersebut, Trump memberikan penghormatan kepada enam peti jenazah yang dibungkus bendera Amerika Serikat ketika para prajurit membawanya dari pesawat transport militer Boeing C-17 Globemaster III menuju kendaraan yang telah disiapkan.
Meski menghadiri prosesi yang penuh suasana duka, Trump menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak membuatnya mempertimbangkan kembali keputusan untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
“Tidak, kami memenangkan perang ini dengan sangat telak. Kami menghancurkan seluruh kerajaan jahat mereka,” ujar Trump kepada wartawan setelah upacara berlangsung. Ia juga menambahkan bahwa konflik kemungkinan masih akan berlanjut untuk beberapa waktu. “Saya yakin ini akan terus berlangsung untuk sementara waktu, tetapi saya sangat bangga dengan rakyat kami.”
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memang terus berkembang sejak Washington memutuskan untuk bergabung dengan Israel dalam melakukan serangan udara terhadap sejumlah target strategis di Iran sekitar satu pekan lalu.
Dalam salah satu serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas ketika sedang menghadiri pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi di Teheran.
Pada tahap awal konflik, Trump sempat memperkirakan operasi militer tersebut akan berlangsung selama sekitar empat minggu.
Namun sejumlah pejabat pemerintahan Amerika Serikat belakangan memberikan sinyal bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, bahkan berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan.
Ketika ditanya mengenai berapa lama perang akan berlangsung, Trump mengaku tidak memiliki kepastian. “Selama yang diperlukan,” katanya. Meski demikian, dalam kesempatan lain ia juga menggambarkan konflik tersebut sebagai “operasi singkat”.
Trump juga menanggapi laporan mengenai serangan yang menghancurkan sebuah sekolah dasar perempuan di wilayah selatan Iran yang menewaskan sedikitnya 175 orang, banyak di antaranya anak-anak. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Iran sendiri, meskipun penyelidikan resmi masih berlangsung.
Menurut analisis forensik sejumlah media internasional, termasuk The New York Times, CNN, dan Associated Press, ada kemungkinan besar serangan tersebut merupakan serangan presisi yang terjadi bersamaan dengan serangan terhadap pangkalan militer milik Islamic Revolutionary Guard Corps di wilayah yang berdekatan.
Namun Trump menolak kesimpulan tersebut. “Tidak, menurut pendapat saya, berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran,” katanya.
Ketika Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab, Trump tetap mempertahankan pandangannya.
“Itu dilakukan oleh Iran. Mereka sangat tidak akurat dengan persenjataan mereka. Mereka tidak memiliki akurasi sama sekali. Itu dilakukan oleh Iran,” tegasnya.
Scr/Mashable

















