Cerita 4 Astronaut NASA Selama Perjalanan Menuju ke Bulan di Misi Artemis II

06.04.2026
Cerita 4 Astronaut NASA Selama Perjalanan Menuju ke Bulan di Misi Artemis II
Cerita 4 Astronaut NASA Selama Perjalanan Menuju ke Bulan di Misi Artemis II

Empat astronaut dalam misi Artemis II mencatat pengalaman langka saat menyaksikan sisi jauh Bulan untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka yang kini telah melewati setengah rute menuju satelit alami Bumi tersebut.

Dari dalam kapsul Orion, mereka menggambarkan pemandangan yang terasa asing dibandingkan Bulan yang selama ini terlihat dari Bumi.

Astronaut NASA, Christina Koch, mengungkapkan bahwa perbedaan visual langsung terasa begitu ia mengamati permukaan Bulan dari jendela kapsul.

“Bagian-bagian gelapnya tidak berada di posisi yang seharusnya. Dan ada sesuatu yang membuat Anda merasa bahwa ini bukan Bulan yang biasa saya lihat,” ujarnya seperti dikutip Mashable Indonesia dari NBC News.

Pengalaman tersebut menjadi momen penting dalam misi Artemis II, yang membawa Koch bersama Reid Wiseman, Victor Glover, dan Jeremy Hansen mengelilingi Bulan dalam perjalanan selama 10 hari. Mereka menjadi manusia pertama yang kembali menjalankan misi ke Bulan setelah lebih dari lima dekade sejak era Apollo.

Koch menjelaskan bahwa dirinya dan kru sempat membandingkan pemandangan tersebut dengan materi pelatihan yang mereka pelajari sebelumnya untuk memastikan apa yang mereka lihat.

“Itulah sisi gelapnya. Itu adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” katanya.

Perlu diketahui, misi ini juga mencatat sejarah sebagai penerbangan pertama manusia menggunakan roket Space Launch System dan kapsul Orion. Sejak meninggalkan orbit Bumi melalui manuver mesin penting, keempat astronaut resmi berada di jalur menuju Bulan.

Menurut Wiseman, perjalanan ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi juga pengalaman visual yang luar biasa. Ia menggambarkan posisi wahana yang berada di antara Bumi dan Bulan memberikan perspektif yang tidak mungkin didapatkan dari tempat lain.

“Bumi hampir sepenuhnya dalam gerhana. Bulan hampir sepenuhnya terang oleh cahaya, dan satu-satunya cara melihat pemandangan seperti itu adalah berada di antara keduanya,” ujarnya.

Meski berada dalam misi berisiko tinggi, para astronaut tetap menjalani rutinitas manusiawi sehari-hari. Koch menekankan bahwa aspek ini justru menjadi bagian paling menarik dari perjalanan luar angkasa.

“Menjadi manusia di sini adalah salah satu hal paling menarik dari misi ini. Kami bisa saja melihat sisi jauh Bulan dan mengagumi keindahannya, lalu berpikir, ‘Hm, mungkin saya harus ganti kaus kaki,’ dan mulai mencari sepasang kaus kaki,” katanya seraya bercanda.

Di tengah jadwal padat, kru juga menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarga mereka. Wiseman menyebut momen tersebut sebagai pengalaman emosional yang tak terlupakan.

“Rasanya seperti mimpi. Sejenak, saya seperti kembali bersama keluarga kecil saya. Itu adalah momen terbaik dalam hidup saya,” ungkapnya.

Sejak peluncuran, kru Artemis II telah melakukan berbagai pengujian sistem penting di dalam kapsul Orion, termasuk sistem pendukung kehidupan.

Meski sempat menghadapi kendala teknis seperti gangguan komunikasi email dan masalah pada toilet luar angkasa, mereka memastikan bahwa keseluruhan misi berjalan lancar.

Dalam fase berikutnya, kapsul Orion dijadwalkan memasuki wilayah pengaruh gravitasi Bulan, di mana gaya tarik Bulan akan lebih dominan dibandingkan Bumi. Momen ini menjadi penanda penting sebelum wahana melakukan lintasan terbang mendekati Bulan.

Selama manuver tersebut, para astronaut akan melihat area sisi jauh Bulan yang tidak pernah terlihat dari Bumi. Bahkan dalam misi Apollo sebelumnya, bagian ini jarang teramati karena keterbatasan jalur penerbangan.

Selain itu, kru Artemis II juga diperkirakan mencetak rekor baru sebagai manusia yang berada pada jarak terjauh dari Bumi, melampaui pencapaian Apollo 13.

Mereka akan mendekati permukaan Bulan hingga ribuan mil dan melakukan pengamatan detail terhadap kawah, punggungan, serta jejak lava purba.

Data visual yang dikumpulkan diharapkan dapat membantu ilmuwan memahami lebih dalam proses pembentukan Bulan dan evolusi tata surya. Tidak hanya itu, kru juga akan menyaksikan fenomena gerhana Matahari dari luar angkasa, sebuah pengalaman langka yang hanya bisa terjadi dalam posisi unik antara Bumi dan Bulan.

Menjelang akhir perjalanan, Hansen mengungkapkan bahwa misi ini membawa dampak emosional yang mendalam bagi dirinya dan rekan-rekannya.

“Sejak awal, Anda akan merasa rendah hati. Fakta bahwa kami berempat bisa berada di sini membuat Anda benar-benar terharu,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa meskipun foto-foto yang dikirim ke Bumi tampak luar biasa, pengalaman langsung jauh melampaui apa yang bisa ditangkap kamera.

“Saya tahu foto-foto itu menakjubkan, tetapi percayalah, yang kami lihat di sini jauh lebih luar biasa,” ujarnya.

Misi Artemis II dijadwalkan berakhir dengan pendaratan di Samudra Pasifik setelah kru menyelesaikan perjalanan pulang ke Bumi, menandai langkah penting dalam upaya eksplorasi manusia ke Bulan dan seterusnya.

Scr/Mashable




Don't Miss