Ilustrasi-pexels
Ilustrasi-pexels

Seni Menelan Luka: Kenapa Laki-Laki Indonesia Lebih Takut Terlihat Lemah daripada Mati Muda

Mereka enggak butuh dibilang "yang sabar ya". Mereka cuma butuh satu ruang kecil di mana mereka boleh merasa takut tanpa dibilang lemah.
25.12.2025

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Seorang laki-laki memarkir motornya di teras rumah tipe 36 di pinggiran Kota Bandar Lampung (atau Jakarta, Surabaya, atau Medan, atau dimana aja—sama saja). Dia duduk di atas jok motor yang masih panas, menyalakan rokok, dan diam selama lima belas menit. Padahal pintu rumah cuma berjarak tiga langkah.

Kenapa dia enggak langsung masuk? Karena di dalam sana, dia harus berganti topeng. Topeng “Ayah yang Kuat”, topeng “Suami yang Punya Solusi”, topeng “Mesin ATM Berjalan”.

Di lima belas menit itulah—di tengah asap rokok dan sunyi—dia menjadi dirinya sendiri: manusia yang lelah, takut, dan mungkin hancur, tapi memilih untuk menunda kehancurannya sampai besok pagi.

Kalau lo pernah merasa kayak gini, atau melihat bokap lo melakukan ini, selamat datang di klub paling sunyi di dunia: Klub Pria Dewasa Indonesia.

Mitos “Laki-Laki Tidak Bicara”

Kalau lo iseng menyelam ke kolom komentar akun-akun Instagram yang membahas dinamika rumah tangga, lo bakal nemuin pola yang bikin merinding. Ribuan akun anonim dengan foto profil kartun atau standar pabrik, saling berbalas komentar tentang satu hal: Ketakutan.

Ada narasi besar yang salah kaprah selama ini. Kita sering dengar keluhan bahwa laki-laki itu “kurang komunikasi” atau “dingin”. Padahal, diamnya laki-laki seringkali adalah mekanisme pertahanan hidup terakhir.

Riset-riset psikologi sosial di Indonesia (dan ini bukan omong kosong akademis doang) menunjukkan adanya korelasi kuat antara budaya patriarki dengan Alexithymia pada pria—ketidakmampuan untuk mengenali dan menyuarakan emosi.

Sejak kecil, anak cowok di sini diajarkan: “Jatuh? Jangan nangis, malu sama kon*** burung.”

Ketika dewasa, doktrin itu bermutasi. Saat hati mereka hancur—entah karena di-PHK, diremehkan di tempat kerja, atau merasa gagal membahagiakan istri—mereka enggak punya kosakata untuk menceritakannya. Mereka takut kalau mereka bicara jujur (“Aku takut miskin,” “Aku capek pura-pura kuat”), fondasi rumah tangga bakal goyah.

Jadi, mereka memilih opsi yang paling tidak berisiko bagi orang lain, tapi mematikan bagi diri sendiri: Diam.

Beban yang Tak Terlihat (Invisible Load)

Ada satu komentar di media sosial yang cukup menampar: “Ketakutan terbesar gue bukan mati. Ketakutan terbesar gue adalah mati pas anak gue masih kecil dan gue belum ninggalin apa-apa buat mereka.”

Ini adalah core memory horor bagi mayoritas ayah di Indonesia.

Beban pria dewasa itu unik. Kalau perempuan seringkali divalidasi rasa lelahnya (dan ini bagus), laki-laki seringkali dianggap “wajar” kalau menderita. Lembur sampai tipus? Wajar, kan kepala keluarga. Kehujanan demi ojek 10 ribu perak? Wajar, namanya juga tanggung jawab.

Validasi sosial yang minim ini bikin beban itu jadi invisible. Enggak terlihat.

Sebuah studi mengenai maskulinitas di masyarakat urban Indonesia pernah menyoroti bahwa harga diri laki-laki di sini sangat terikat erat dengan kemampuan finansial. Ketika dompet menipis, bukan cuma gaya hidup yang turun, tapi rasa “berharga” sebagai manusia juga ikut runtuh.

Lo bayangin rasanya setiap hari bangun tidur dengan perasaan dikejar hantu bernama “Gagal”. Hantu itu enggak bisa diusir pakai doa, cuma bisa diredam pakai kerja keras yang seringkali mengorbankan kewarasan.

Ruang Ganti Emosional

Kenapa banyak bapak-bapak betah nongkrong di pos ronda, bengkel, atau gantangan burung?

Bukan karena mereka enggak sayang keluarga. Tapi karena di sana, ekspektasi sosialnya nol. Burung perkutut enggak peduli lo punya cicilan KPR atau enggak. Teman di bengkel enggak bakal nanya kenapa lo belum naik gaji.

Di rumah, tatapan istri dan anak—meskipun penuh cinta—seringkali diterjemahkan oleh otak laki-laki sebagai “Tuntutan”. Tatapan itu berbunyi: “Kami bergantung padamu, jangan sampai gagal.” Itu berat, Vroh.

Maka wajar kalau banyak laki-laki yang “kabur” sebentar ke hobi-hobi aneh atau sekadar melamun di teras rumah. Itu bukan tanda ketidakpedulian. Itu adalah cara mereka mengisi ulang baterai jiwa biar enggak meledak di depan orang-orang yang mereka sayangi.

Hancur Sendirian itu Sepi

Tulisan ini enggak bermaksud mendiskreditkan peran ibu yang juga setengah mati beratnya. Tapi kita perlu mulai mengakui bahwa laki-laki juga manusia yang rapuh.

Ada banyak laki-laki di luar sana yang sedang menahan tangis di balik helm full face saat macet di jalanan. Ada banyak ayah yang pura-pura tidur saat ribut dengan pasangan, padahal jantungnya berdetak kencang menahan sedih, tapi memilih diam karena takut salah ngomong dan malah menyakiti hati istrinya.

Mereka memilih menelan semuanya bulat-bulat. Menjadi spons yang menyerap masalah, tapi enggak pernah diperas.

Buat lo, para laki-laki yang sedang membaca ini di sela-sela jam kerja atau saat sembunyi di toilet kantor: Enggak apa-apa merasa capek. Enggak apa-apa merasa takut.

Dunia mungkin menuntut lo buat jadi baja, tapi lo tetap terbuat dari daging dan perasaan. Kalau hari ini rasanya berat banget, tarik napas. Lo udah bertahan sejauh ini, dan itu aja udah sebuah prestasi yang gila.

Seni menelan luka emang keahlian kita, tapi jangan sampai lo tersedak dan mati konyol karenanya. Cari teman, cari ruang, atau setidaknya—akuilah pada diri sendiri kalau lo sedang tidak baik-baik saja. Buat lo yang muslim—SHOLAT!




Don't Miss