Manchester United secara resmi mengucapkan selamat tinggal pada Piala FA setelah kalah 1-2 dari Brighton di Old Trafford, Minggu 11 Januari 2026 malam WIB. Berikut adalah tiga alasan utama runtuhnya performa Setan Merah pada hari tanpa manajer resmi mereka.
Manchester United memasuki pertandingan putaran ketiga Piala FA dengan harapan menemukan kembali performa terbaik mereka setelah memecat Ruben Amorim. Namun, alih-alih penampilan spektakuler untuk membangkitkan semangat mereka, “Theatre of Dreams” justru menyaksikan babak kelam lainnya di musim 2025/26.
Kekalahan 1-2 melawan Brighton & Hove Albion tidak hanya menyingkirkan Manchester United dari kompetisi sepak bola tertua di dunia, tetapi juga menandai pertama kalinya dalam sejarah mereka kalah dari “Seagulls” di turnamen ini. Berikut adalah tiga alasan utama atas hasil memalukan bagi tim asuhan manajer sementara Darren Fletcher .
Kurangnya Konsentrasi dalam Bertahan dan “Pengkhianatan” dari Danny Welbeck
Sejak menit-menit awal, pertahanan Manchester United memperlihatkan celah yang mematikan, terutama di sayap kanan, tempat Diogo Dalot berada.
Pada menit ke-12, Brighton mengeksekusi pergerakan menyerang yang sempurna ketika Ferdi Kadioglu dengan mudah menembus pertahanan tim tuan rumah sebelum mengoper bola kepada Danny Welbeck. Meskipun sundulan awal Georginio Rutter diblokir di garis gawang, Brajan Gruda berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk menyentuh bola dan membuka skor.
Kebingungan para bek tengah Manchester United semakin terungkap saat gol kedua tercipta pada menit ke-65. Sekali lagi, Kadioglu dan Gruda bekerja sama untuk membongkar pertahanan MU, menciptakan peluang bagi Danny Welbeck untuk melepaskan tembakan keras kaki kiri ke sudut atas gawang.
Membiarkan seorang “veteran” seperti Welbeck – yang sangat mengenal setiap sudut Old Trafford – untuk bebas menembak dari dalam kotak penalti adalah bukti menurunnya kemampuan Setan Merah dalam bertahan dan membaca permainan. Di bawah asuhan Fletcher, MU masih belum menemukan kekompakan yang diperlukan untuk menghentikan serangan balik tajam lawan.
Penyelesaian Akhir yang Kurang Efektif dari Lini Serang dan Penampilan Luar Biasa Jason Steele
Melihat statistiknya, Manchester United berhak menyesali peluang yang mereka sia-siakan. Tim Old Trafford memiliki metrik expected goals (xG) sebesar 1,73, jauh lebih tinggi daripada Brighton yang hanya 1,13. Pada menit kedua, Diogo Dalot memiliki peluang emas untuk membuka skor setelah menerima umpan terobosan dari Bruno Fernandes, tetapi tembakannya berhasil ditepis dengan brilian oleh kiper Jason Steele menggunakan kakinya.
Sepanjang pertandingan, Jason Steele bermain seperti “manusia laba-laba” di depan gawang Brighton. Dia secara konsisten menggagalkan upaya Bruno Fernandes dari tendangan bebas, sekaligus menyelamatkan tembakan berbahaya dari Benjamin Sesko dan upaya jarak dekat dari Lisandro Martinez.
Fakta bahwa lini serang Manchester United melepaskan banyak tembakan tetapi hanya berhasil mencetak satu gol melalui sundulan Sesko pada menit ke-85 menyoroti kurangnya kemampuan penyelesaian akhir tim tuan rumah. Ketika insting membunuh mereka tidak dilepaskan pada saat yang tepat, MU membayar mahal atas ketangguhan dan disiplin tim tamu.
Kecemasan Shea Lacey dan Kartu Merah yang Berakibat Fatal
Momen paling memilukan dalam pertandingan terjadi di menit-menit terakhir, tepat ketika harapan Manchester United untuk melakukan comeback kembali menyala berkat gol Sesko. Saat tim tuan rumah terus menyerang untuk mencari gol peny equalizer dan memaksa perpanjangan waktu, kurangnya pengendalian diri dari pemain muda berbakat Shea Lacey memadamkan semua harapan tersebut.
Dalam waktu kurang dari dua menit (dari menit ke-87 hingga ke-89), bintang berusia 18 tahun itu menerima dua kartu kuning secara beruntun. Kartu kuning pertama diberikan karena pelanggaran taktis yang diperlukan, sedangkan kartu kuning kedua diberikan karena perilaku tidak profesional ketika ia membuang bola sebagai protes terhadap keputusan wasit Simon Hooper.
Dalam debutnya di Piala FA, kurangnya pengalaman dan sifat impulsif Lacey menyebabkan Manchester United bermain dengan sepuluh pemain di waktu tambahan yang krusial. Tanpa pemain sayap yang kreatif, United kekurangan tekanan untuk memaksa pertahanan Brighton melakukan kesalahan, dan akhirnya menerima eliminasi mereka dari kompetisi di tengah cemoohan dari para penggemar tuan rumah.
Kekalahan ini menghancurkan semua harapan Manchester United untuk memenangkan gelar domestik musim ini, setelah mereka juga tersingkir lebih awal dari Piala EFL.
Kini, satu-satunya cara untuk menyelamatkan musim yang buruk adalah melalui persaingan kualifikasi Liga Champions di Liga Inggris. Namun, dengan skuad yang kekurangan personel dan moral, serta posisi manajer yang masih kosong, tantangan yang dihadapi Manchester United pada tahun 2026 sangat besar.
Scr/Mashable















