Kemenangan telak Manchester United 2-0 atas Manchester City dalam derbi Manchester telah menimbulkan beragam opini dari para legenda mantan Setan Merah.
Dalam pertandingan pertamanya sebagai pelatih Manchester United, Michael Carrick memberikan kesan yang kuat baik dari segi susunan pemain maupun pendekatan permainan. “Setan Merah” menciptakan banyak peluang emas dan menang meyakinkan 2-0, dalam suasana meriah yang mengingatkan pada era keemasan di bawah Sir Alex Ferguson.
Namun, tidak semua orang langsung memuji mereka. Roy Keane menyerukan kehati-hatian, dengan alasan bahwa MU membutuhkan waktu untuk membuktikan stabilitas mereka.
“Mari kita evaluasi dalam beberapa bulan ke depan. Yang penting adalah membangun momentum,” tegas Keane, menambahkan bahwa Carrick memiliki sedikit keuntungan karena dapat menggunakan skuad yang hampir berkekuatan penuh, mengingat Man City sedang tidak dalam performa terbaiknya.
Berbeda dengan keraguan Keane, Gary Neville melihat banyak tanda positif yang mencerminkan identitas klub. Mantan bek itu mengakui bahwa MU telah melewati masa sulit, tetapi penampilan melawan Man City menunjukkan bahwa tim masih mampu memainkan sepak bola cepat, langsung, dan emosional yang pernah menjadi bagian dari DNA klub.
Neville sangat terkesan dengan bagaimana Carrick memberi kebebasan kepada Bruno Fernandes dengan membiarkan gelandang Portugal itu bermain di posisi nomor 10 yang sebenarnya, lebih dekat ke gawang lawan. Menurutnya, posisi inilah yang memungkinkan Bruno memaksimalkan kreativitas dan pengaruhnya dalam permainan.
“Ini bukan kembalian ke masa kejayaan Manchester United, tetapi setidaknya ini adalah gambaran seperti apa seharusnya Manchester United yang sebenarnya,” simpul Neville. “Setelah bertahun-tahun penampilan yang kurang memuaskan, pertandingan ini mengingatkan kita tentang bagaimana klub dulu bermain dan bagaimana seharusnya klub bermain sekarang.”
Kemenangan melawan Man City mungkin tidak cukup untuk menyatakan era baru, tetapi bagi banyak orang, ini adalah tanda bahwa Manchester United sedang menemukan jati dirinya kembali.
10 Detik Sudah Cukup untuk Menggambarkan Segalanya Tentang Manchester United Versi Michael Carrick
Dari sundulan krusial Maguire hingga gawang Manchester City yang kebobolan hanya dalam 10 detik, Manchester United asuhan Michael Carrick memenangkan derbi dengan struktur, disiplin, dan ketegasan.
Michael Carrick hanya menjalani beberapa sesi latihan bersama skuad Manchester United, tetapi derbi Manchester pada 17 Januari menunjukkan filosofi sepak bola yang jelas. MU tidak membutuhkan penguasaan bola untuk mengontrol permainan. Mereka memilih momen yang tepat, menyerang titik lemah, dan menyelesaikan dengan cepat dan menentukan.
Momen ikonik itu terjadi dalam sekejap. Harry Maguire menyundul bola menjauhi area berbahaya di dalam kotak penalti.
MU langsung melancarkan formasi menyerang mereka. Bola digerakkan ke depan dengan kecepatan tinggi. Tiga operan, ledakan kecepatan, dan gawang Manchester City berhasil ditembus. Sepuluh detik sudah cukup untuk membentuk seluruh jalannya derbi.
Itu bukanlah momen spontan. Itu adalah hasil dari sebuah struktur.
MU memulai pertandingan dengan formasi 4-2-3-1, kemudian beralih ke 4-4-2 saat tidak menguasai bola. Tim mempertahankan jarak antar pemain yang rapat. Saat merebut bola, mereka tidak bertele-tele. Kecepatan menjadi prioritas. Permainan langsung menjadi pilihan. Ketegasan adalah keharusan.
Bruno Fernandes bertindak sebagai “saklar”. Dia memberi isyarat kapan harus menekan dan kapan harus memperlambat.
Kedua pemain sayap adalah ujung tombak. Diogo Dalot dan Amad Diallo sering menemukan ruang di belakang pertahanan lawan. Di lini tengah, Casemiro bekerja dengan tenang namun efektif, mengganggu transisi Manchester City.
Maguire dan Lisandro Martinez mewakili semangat bertahan yang baru. Tanpa perfeksionisme. Tanpa keraguan. Siap melakukan tekel, siap terlibat dalam tantangan fisik. Old Trafford merespons dengan suara yang telah lama hilang dari Manchester United: kepercayaan diri.
Manchester City memang mencoba. Pep Guardiola memasukkan Bernardo Silva dan Rodri ke tengah untuk menenangkan keadaan, dan Rico Lewis bergerak ke tengah untuk menambah jumlah pemain.
Namun tempo permainan yang diterapkan MU membuat City kehilangan arah. Penyelesaian akhir mereka di sekitar kotak penalti kurang tajam. Tidak ada serangan balik yang efektif.
Perlu dicatat bahwa Manchester United menerima tingkat penguasaan bola yang lebih rendah. Angka-angka tersebut tidak serta merta mencerminkan kerugian.
Carrick tidak ingin para pemainnya mengoper bola hanya untuk “mempertahankan tempo.” Ia ingin mereka mengoper untuk menyelesaikan peluang. Pilihan itu membuat Manchester City kesulitan dalam transisi mereka, dan mereka menanggung akibatnya.
Pertandingan derbi tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Tapi pertandingan ini memberikan pernyataan. Manchester United bisa bertahan dengan kebiasaan lama: disiplin, organisasi, serangan balik yang tajam. Sepuluh detik tidak hanya menciptakan gol; tetapi juga menciptakan identitas. Dan itulah yang paling dibutuhkan Carrick saat ini.
Scr/Mashable
















