Sempat mati suri akibat kebangkrutannya hingga dicoret dari panggung sepak bola profesional, AC ChievoVerona kini sedang menulis ulang kisah keajaiban mereka. Berbekal mentalitas baja, klub ini menolak untuk sekadar menjadi sejarah yang terlupakan.
Bagi pencinta Calcio, nama Chievo Verona pernah menjadi salah satu representasi dongeng terindah dalam jagat sepak bola Italia. Datang dari sebuah distrik kecil di kota Verona, klub semenjana ini secara mengejutkan mampu merangkak dari kasta terbawah hingga menembus Serie A.
Hebatnya lagi, mereka mampu bertahan selama hampir dua dekade di tengah kepungan raksasa-raksasa mapan seperti Juventus, AC Milan, hingga Inter Milan. Publik Italia menjuluki mereka “I Mussi Volanti” atau “Si Keledai Terbang”. Sebuah ejekan dari rival yang pada akhirnya justru berubah menjadi simbol kegigihan yang dihormati.
Namun, roda nasib berputar. Dongeng itu sempat menemui titik nadir.
Runtuh karena Finansial
Pada tahun 2021, Chievo dinyatakan “mati” dan didepak dari sistem kompetisi profesional Italia akibat krisis keuangan hebat serta jeratan pajak pasca-pandemi Covid-19. Bagi mayoritas klub kecil di Italia, vonis tersebut biasanya menjadi sebuah titik akhir. Tanpa uang, tanpa panggung, dan tanpa masa depan, mereka umumnya akan hilang tertelan bumi begitu saja.
Namun, Chievo menolak mati.
Lilin kehidupan klub ini dijaga oleh Sergio Pellissier, striker legendaris sekaligus kapten ikonik dalam sejarah Chievo. Pellissier awalnya mendirikan klub darurat bernama FC Clivense demi merawat memori para loyalis.
Titik balik terjadi ketika Pellissier sukses memenangi lelang aset dan merek dagang Chievo Verona senilai €330.000 (sekitar Rp5,7 miliar). Nama FC Clivense pun resmi berganti kembali menjadi AC ChievoVerona. Ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan sebuah misi penyelamatan terhadap sepotong sejarah sepak bola Italia yang berharga.
Proyek Ambisius dan Kejutan Douglas Costa
Menariknya, Chievo tidak ingin sekadar hidup dari romantisme masa lalu. Mereka benar-benar serius ingin kembali ke habitat aslinya.
Klub bergerak cepat dengan berinvestasi pada pusat latihan Bottagisio, membangun akademi baru yang menampung lebih dari 300 talenta muda, hingga merekrut deretan pemain berpengalaman. Nama-nama seperti Alberto Paloschi, Daniele Baselli, hingga yang paling menggemparkan: Douglas Costa, berhasil mendarat di Verona.
Kehadiran Douglas Costa tentu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana bisa seorang pemain yang mengoleksi trofi Bundesliga bersama Bayern Munchen dan Scudetto bersama Juventus, mau bermain di Serie D—kompetisi kasta keempat Italia yang berstatus amatir dan jauh dari sorot lampu media?
Namun, di situlah letak keindahan sepak bola.
Di usia 35 tahun, Douglas Costa memang sudah kehilangan kecepatan eksplosifnya seperti saat masa jayanya. Kariernya pun sempat diwarnai badai cedera dan dinamika di luar lapangan. Kendati demikian, komitmen pemain asal Brasil ini di Chievo bukanlah sebuah tur masa tua demi uang pensiun.
“Saya ingin membantu mereka kembali ke sepak bola profesional,” tegas Costa.
Sebuah kalimat sederhana, namun sarat akan makna emosional.
Di era sepak bola modern yang sudah telanjur dikuasai oleh industri uang, keputusan mantan anak asuh Pep Guardiola dan Massimiliano Allegri untuk berjibaku di lapangan semenjana Serie D memberikan impresi yang magis. Chievo pun mendadak bertransformasi menjadi tim yang paling menarik untuk ditonton di kasta bawah Italia.
Douglas Costa tidak datang untuk menjadi pahlawan super sendirian. Ia hanya sedang bahu-bahu membahu membangunkan kembali sebuah klub tua yang sempat tertidur.
Langkah Nyata Menuju Kebangkitan
Chievo yang sekarang bukanlah tim yang sekadar berharap pada keajaiban atau keberuntungan nasib. Di bawah kepemimpinan manajemen yang sehat, mereka memiliki struktur organisasi, arah kebijakan, dan ambisi yang sangat terukur. Pihak manajemen tahu persis apa yang dibutuhkan untuk naik kelas. Alasan itulah yang membuat mereka berani berinvestasi besar ketimbang hanya sekadar bertahan hidup seadanya.
Sinyal kebangkitan itu makin nyata setelah Chievo sukses menumbangkan tim muda AC Milan Futuro dengan skor 2-1 di laga semifinal play-off promosi Serie D. Hasil ini membuat mimpi mereka untuk naik kasta ke Serie C menjadi makin dekat.
Namun, terlepas dari apakah mereka akan langsung promosi atau tidak, perjalanan Chievo dalam membangun ulang fondasi klub dari nol sudah menjadi sebuah kemenangan tersendiri.
Fenomena ini menjadi oase di tengah industri sepak bola modern yang kejam, di mana banyak klub kecil berguguran dan bangkrut karena tidak kuat mengikuti arus komersialisasi. Chievo pernah menjadi korban dari pusaran arus tersebut, dan keberhasilan mereka merangkak naik adalah sebuah pengingat bahwa sepak bola bukan cuma milik para konglomerat.
Terkadang, romansa sepak bola yang paling menyentuh hati justru lahir dari pemandangan sebuah klub yang pernah mati, lalu perlahan bangkit dari abu reruntuhan. Diperkuat oleh stadion-stadion tua, deretan pemain yang lapar akan kemenangan, serta kesetiaan suporter yang apinya tidak pernah padam.
Dahulu, Chievo Verona berhasil terbang tinggi menembus Serie A melawan segala ketidakmungkinan. Kini, kepakan sayap “Si Keledai Terbang” itu bersiap untuk mengangkasa sekali lagi.
Scr/Mashable
















