Akuisisi TikTok di Amerika Serikat ternyata membawa dampak besar yang tak terduga. Alih-alih hanya menjadi isu bisnis dan regulasi, perubahan kepemilikan ini justru memicu gelombang migrasi pengguna ke platform media sosial alternatif bernama UpScrolled.
Dalam waktu singkat, aplikasi yang sebelumnya relatif sepi ini mendadak kebanjiran pengguna baru, hingga membuat servernya kewalahan menampung lonjakan trafik.
UpScrolled adalah platform berbagi konten yang memungkinkan pengguna mengunggah foto, video, hingga teks dalam satu ekosistem.
Sekilas, tampilannya mengingatkan pada kombinasi Instagram dan X (dulu Twitter), namun dengan pendekatan yang lebih sederhana dan terbuka.
Aplikasi ini tersedia di Android dan iOS, dan kini berhasil menembus jajaran aplikasi terpopuler di App Store Amerika Serikat.
Lonjakan popularitas UpScrolled terjadi tak lama setelah TikTok resmi diambil alih oleh Oracle bersama kelompok investor untuk mengelola operasional TikTok di wilayah AS.
Keputusan ini memicu kekhawatiran di kalangan pengguna, khususnya kreator konten dan jurnalis, yang cemas akan potensi pembatasan konten dan sensor di masa depan.
Kekhawatiran Sensor Jadi Pemicu Utama
Sejumlah pengguna menyatakan bahwa perpindahan ke UpScrolled didorong oleh ketidakpastian pasca pengambilalihan TikTok.
Kekhawatiran soal kebebasan berekspresi menjadi alasan utama, terutama bagi mereka yang selama ini menggunakan TikTok sebagai medium untuk menyuarakan opini, isu sosial, hingga liputan independen.
Nama jurnalis Taylor Lorenz bahkan disebut sebagai salah satu figur publik yang terang-terangan menyatakan berpindah ke UpScrolled.
Fenomena ini kemudian memicu efek domino, di mana semakin banyak pengguna TikTok mengikuti langkah serupa dan mencoba platform baru tersebut.
Situasi diperparah dengan gangguan layanan TikTok yang dialami sebagian pengguna di Amerika Serikat setelah proses takeover berlangsung.
TikTok sendiri menyebutkan bahwa masalah tersebut dipicu oleh gangguan listrik di salah satu pusat data mereka. Namun bagi pengguna, gangguan ini semakin menguatkan alasan untuk mencari alternatif lain.
UpScrolled Kewalahan Hadapi Lonjakan Pengguna
Berdasarkan data dari Appfigures, UpScrolled mencatat sekitar 41.000 unduhan hanya dalam beberapa hari, dengan rata-rata unduhan harian melonjak hingga 29 kali lipat dibandingkan periode sebelum isu TikTok mencuat.
Angka ini menjadi bukti betapa cepatnya respons pasar terhadap perubahan di dunia media sosial.
Tak heran jika pihak UpScrolled mengakui bahwa server mereka sempat kewalahan. Melalui unggahan di platform Bluesky, tim UpScrolled menyampaikan bahwa lonjakan pengguna datang begitu cepat hingga sistem mereka “kehabisan napas”, meski kini mereka tengah bekerja keras untuk menstabilkan layanan.
Janji Netral dan Tanpa Shadowban
UpScrolled sendiri bukan pemain lama. Platform ini didirikan pada tahun 2025 oleh Issam Hijazi, seorang teknolog berdarah Palestina–Yordania–Australia. Sejak awal, UpScrolled membawa misi yang cukup berani: menyediakan ruang digital yang memungkinkan pengguna mengekspresikan diri secara bebas tanpa takut disensor atau terkena shadowban.
Dalam pernyataan resminya, UpScrolled menegaskan bahwa mereka akan bersikap netral terhadap agenda politik, memberikan kesempatan yang adil bagi setiap unggahan untuk dilihat, serta tetap menjunjung tanggung jawab sosial.
Janji inilah yang tampaknya menjadi daya tarik utama bagi pengguna yang mulai jenuh dengan dinamika platform media sosial besar.
Namun satu hal jelas, dinamika dunia media sosial terus berubah, dan pengguna kini punya lebih banyak pilihan untuk menentukan ke mana suara mereka ingin didengar.
Scr/Mashable





















