Kiper nomor satu Real Madrid, Thibaut Courtois, secara resmi terjun ke dunia manajemen sepak bola dengan menyelesaikan pembelian saham dan menjadi pemegang saham minoritas Le Mans FC (Prancis).
Menurut konfirmasi terbaru dari situs resmi Le Mans, tim yang saat ini bermain di Ligue 2, kesepakatan ini dipimpin oleh grup asal Brasil, Outfield. Thibaut Courtois terlibat dalam investasi ini melalui Nxt Play, sebuah perusahaan investasi yang didirikan bersama oleh kiper asal Belgia itu sendiri. Langkah ini menandai langkah signifikan bagi bintang Real Madrid tersebut dalam membangun kerajaan bisnisnya di luar lapangan.
Yang perlu diperhatikan, Courtois bukanlah satu-satunya tokoh olahraga besar yang terlibat dalam proyek ambisius ini. Ia bergabung dengan sekelompok investor elit, termasuk legenda tenis Novak Djokovic dan bintang Formula 1 (F1) seperti Felipe Massa dan Kevin Magnussen. Kehadiran ikon olahraga global ini menjanjikan peningkatan finansial dan citra yang baru bagi Le Mans.
Keputusan investasi kiper Real Madrid ini datang pada saat Le Mans sedang dalam performa yang sangat baik. Di musim Ligue 2 2025/26, tim dari MMArena saat ini berada di peringkat ke-5 klasemen. Jarak antara mereka dan pemimpin klasemen, Troyes, hanya 3 poin.
Dengan dukungan dari Courtois dan grup Outfield, Le Mans diharapkan memiliki sumber daya tambahan untuk membuat terobosan di tahap akhir, mewujudkan impian mereka untuk promosi ke Ligue 1. Sementara itu, kiper asal Belgia ini menunjukkan visi strategis yang tajam, mempersiapkan diri untuk karier manajerial setelah pensiun dari bermain.
Le Mans FC: Antara Kemegahan Stadion dan Tekad Kembali ke Elite
Bagi dunia internasional, nama “Le Mans” identik dengan raungan mesin jet darat di lintasan balap 24 Hours of Le Mans. Namun, di balik aspal sirkuit yang legendaris, terdapat sebuah klub sepak bola yang sejarahnya bak rollercoaster: Le Mans FC. Dari puncak kejayaan Ligue 1 hingga jatuh ke jurang kebangkrutan, klub ini kini sedang menulis babak baru sebagai proyek ambisius dengan dukungan bintang global.
Fondasi dari Penggabungan
Lahir pada tahun 1985 dengan nama Le Mans Union Club 72 (MUC 72), klub ini merupakan hasil penggabungan dua kekuatan lokal: Union Sportive du Mans dan Stade Olympique du Maine. Identitas “72” diambil dari nomor departemen Sarthe, menegaskan status mereka sebagai representasi kebanggaan wilayah tersebut.
Setelah hampir dua dekade membangun kekuatan di divisi bawah, klub ini mencapai “Tanah Perjanjian” pada tahun 2003 dengan promosi ke Ligue 1. Meski sempat terdegradasi, periode 2005 hingga 2010 menjadi masa keemasan di mana Le Mans FC menjadi kuda hitam yang disegani, melahirkan talenta kelas dunia seperti Didier Drogba, Gervinho, hingga Daisuke Matsui.
Ambisi yang Berujung Tragedi
Puncak ambisi klub ditandai dengan pembangunan MMArena (kini Stade Marie-Marvingt), sebuah stadion modern berkapasitas 25.000 kursi yang dibuka pada 2011. Ironisnya, kemegahan ini menjadi awal dari keruntuhan. Beban finansial yang besar tidak dibarengi dengan prestasi di lapangan.
Pada tahun 2013, Le Mans FC mengalami bencana ganda: terdegradasi dari Ligue 2 dan dinyatakan bangkrut secara finansial. Klub dipaksa turun ke kasta amatir (Division d’Honneur), kehilangan status profesional, dan hampir menghilang dari peta sepak bola Prancis.
Era Kebangkitan dan Investasi Bintang
Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi klub berjuluk Sang et Or (Darah dan Emas) ini untuk merangkak naik. Dari liga amatir regional hingga kembali ke kasta nasional, Le Mans FC membuktikan bahwa mereka memiliki basis penggemar yang loyal dan infrastruktur yang terlalu besar untuk sekadar menjadi sejarah.
Titik balik terbaru terjadi pada awal 2026. Klub ini menarik perhatian dunia saat kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, bersama konsorsium NxtPlay Capital dan tokoh olahraga seperti Novak Djokovic, resmi menjadi pemilik saham. Langkah ini tidak hanya menyuntikkan modal, tetapi juga menempatkan Le Mans FC dalam sorotan global sebagai “proyek prestisius” serupa dengan fenomena Wrexham di Inggris.
Kini, dengan dukungan manajemen baru dan visi untuk kembali ke Ligue 1, Le Mans FC tidak lagi hanya dikenal karena sirkuit balapnya. Mereka sedang memacu mesin untuk kembali ke grid terdepan sepak bola Prancis.
Scr/Mashable

















