Dunia olahraga Indonesia, khususnya Sumatera Selatan, kehilangan salah satu putra terbaiknya. Haji Alex Noerdin bukan sekadar politisi; ia adalah seorang visioner yang mampu menyulap Palembang dari kota pelabuhan sungai yang tenang menjadi episentrum olahraga internasional.
Jika ada sosok yang paling bertanggung jawab atas transformasi radikal kompleks Jakabaring Sport City (JSC) dan kejayaan Sriwijaya FC, Alex Noerdin adalah orangnya.
Era Keemasan Sriwijaya FC
Tinta emas Alex Noerdin di sepak bola dimulai saat ia menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Di bawah kepemimpinannya, Sriwijaya FC (SFC) bertransformasi dari klub pindahan menjadi raksasa yang paling ditakuti di tanah air. Alex bukan sekadar pembina di balik meja; ia adalah katalisator yang menuntut profesionalisme.
Puncaknya terjadi pada musim 2007/2008 dan 2011/2012. Di bawah naungan visinya, Laskar Wong Kito mencatatkan sejarah sebagai klub pertama yang meraih Double Winner (Juara Liga dan Piala Indonesia) dalam satu musim.
Stadion Gelora Sriwijaya pun menjadi saksi bisu bagaimana Alex Noerdin berhasil menyatukan kebanggaan rakyat Sumsel lewat sepak bola, membawa pemain-pemain kelas dunia seperti Keith Kayamba Gumbs menjadi ikon abadi di Bumi Sriwijaya.
Jakabaring dan Obsesi Kelas Dunia
Ambisi Alex Noerdin tidak berhenti di level nasional. Ia memiliki mimpi agar Palembang sejajar dengan kota-kota besar di Asia. Melalui tangan dinginnya, ia berhasil meyakinkan pemerintah pusat dan Dewan Olimpiade Asia (OCA) untuk menjadikan Palembang sebagai tuan rumah Asian Games 2018.
Keberhasilannya menyulap lahan rawa di Jakabaring menjadi kompleks olahraga terpadu terbaik di Asia Tenggara adalah pencapaian monumental. Berkat Alex, Palembang memiliki stadion berstandar FIFA, sirkuit dayung terbaik, hingga fasilitas penunjang yang modern. Ia membuktikan bahwa daerah bisa bersaing dengan ibu kota jika dipimpin oleh orang yang memiliki gairah besar terhadap olahraga.
Magnet Bintang: Antara Ronaldinho dan Legenda Dunia
Salah satu sisi paling menarik dari rekam jejak Alex adalah keberaniannya dalam bermanuver. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu ingin memberikan “hiburan kelas satu” bagi rakyatnya. Publik tentu ingat upayanya yang gigih untuk mendatangkan legenda Brasil, Ronaldinho, ke Palembang dalam rangka Alex Noerdin Cup.
Meskipun dalam perjalanannya gagal mendatangkan mantan bintang Barcelona dan AC Milan itu, inisiatif tersebut menunjukkan skala berpikir Alex yang selalu out of the box.
“Sebelumnya agen Ronaldinho sudah ke Palembang untuk melihat langsung kondisi Stadion Jakabaring. Dia langsung setuju apalagi tahu bahwa Palembang jadi tuan rumah Asian Games. Namun, karena ada masalah jadi terpaksa negosiasi ulang,” kata Alex Noerdin pada 2019, seperti dikutip dari Tempo.
Baginya, mendatangkan bintang dunia bukan sekadar pamer, melainkan cara untuk menginspirasi talenta muda di desa-desa Sumsel. Melalui turnamen tersebut, ia mengirimkan pesan bahwa anak-anak di pelosok Sumatera berhak bermimpi bermain di level internasional.
Dedikasi Tanpa Henti
Hingga akhir hayatnya, nama Alex Noerdin akan selalu lekat dengan terminologi “Bapak Olahraga Sumsel”. Ia mengajarkan bahwa olahraga adalah instrumen paling ampuh untuk membangun harga diri sebuah daerah. Meski kini ia telah tiada, sorak-sorai penonton di Jakabaring dan trofi-trofi yang berjejer di lemari Sriwijaya FC akan selalu menjadi pengingat bahwa pernah ada seorang pemimpin yang menaruh hatinya di lapangan hijau.
Tinta emas yang ditorehkannya tidak akan luntur oleh waktu. Alex Noerdin telah membangun fondasi yang kuat, meninggalkan warisan fisik dan semangat yang akan terus hidup dalam setiap denyut nadi olahraga di Indonesia. Selamat jalan, Sang Visioner.
Scr/Mashable


















