Lari Saat Puasa Tanpa ‘Batal’, Fitur Smartwatch Ini Bisa Jadi Kunci!

06.03.2026
Lari Saat Puasa Tanpa 'Batal', Fitur Smartwatch Ini Bisa Jadi Kunci!
Lari Saat Puasa Tanpa 'Batal', Fitur Smartwatch Ini Bisa Jadi Kunci!

Banyak orang memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa untuk berolahraga ringan seperti jogging, jalan cepat, atau bersepeda.

Aktivitas ini tidak hanya membantu menjaga kebugaran selama Ramadan, tetapi juga bisa menjadi cara efektif untuk menurunkan berat badan.

Namun, tidak sedikit orang yang justru mengalami keluhan seperti pusing, tubuh lemas, hingga pandangan berkunang-kunang ketika baru beberapa menit berolahraga saat puasa.

Tubuh yang sudah berpuasa selama belasan jam berada dalam kondisi energi yang lebih rendah dibandingkan hari biasa.

Olahraga saat puasa tetap aman jika dilakukan dengan benar. Kuncinya adalah memahami cara menjaga detak jantung tetap berada di zona yang aman.

Memahami Zona Detak Jantung Saat Berolahraga

Dalam dunia kebugaran, detak jantung saat olahraga dibagi ke dalam beberapa kategori atau zona. Dua zona yang paling penting untuk dipahami ketika berpuasa adalah Zona 2 dan Zona 4.

Zona 2 sering disebut sebagai fat burning zone atau zona pembakaran lemak. Pada tahap ini, detak jantung berada sekitar 60 hingga 70 persen dari denyut jantung maksimal.

Ciri paling mudah mengenali zona ini adalah Anda masih bisa berbicara dengan cukup lancar saat berolahraga. Misalnya saat jogging santai atau berjalan cepat sambil mengobrol dengan teman.

Ketika berada di Zona 2, tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Inilah alasan mengapa zona ini sering dianggap sebagai kondisi paling ideal untuk menurunkan berat badan, terutama saat puasa.

Sebaliknya, Zona 4 merupakan zona dengan intensitas tinggi. Detak jantung berada di kisaran 80 hingga 90 persen dari maksimal. Pada kondisi ini, napas biasanya terasa berat dan seseorang sulit berbicara karena tubuh bekerja sangat keras.

Pada zona ini, tubuh membutuhkan energi yang cepat sehingga menggunakan glikogen sebagai sumber utama. Jika kondisi ini terjadi saat puasa, cadangan energi yang sudah sedikit akan habis lebih cepat. Akibatnya tubuh bisa mengalami kelelahan ekstrem, rasa haus yang tinggi, hingga pusing.

Karena itu, olahraga ringan hingga sedang yang menjaga detak jantung tetap stabil menjadi pilihan paling aman selama Ramadan.

Teknologi Smartwatch Membantu Mengontrol Intensitas Olahraga

Walaupun teori tentang zona detak jantung terdengar sederhana, praktiknya sering kali tidak mudah. Solusi yang kini banyak digunakan adalah memanfaatkan smartwatch atau jam tangan pintar yang memiliki fitur pemantauan detak jantung secara real-time.

Beberapa perangkat wearable modern, seperti smartwatch olahraga dari Garmin, dilengkapi sensor optik yang mampu memantau detak jantung secara terus menerus selama aktivitas fisik.

Fitur seperti HR Zone Alert memungkinkan pengguna mengetahui kapan detak jantung keluar dari zona yang telah ditentukan.

Ketika detak jantung terlalu tinggi, jam tangan akan memberikan notifikasi atau getaran sebagai tanda agar pengguna menurunkan intensitas olahraga.

Perangkat tersebut juga dapat menghitung perkiraan detak jantung maksimal berdasarkan usia pengguna. Rumus yang paling umum digunakan adalah 220 dikurangi usia.

Sebagai contoh, seseorang berusia 40 tahun memiliki estimasi detak jantung maksimal sekitar 180 bpm. Dari angka ini kemudian dihitung zona latihan yang ideal, termasuk Zona 2 untuk pembakaran lemak.

Dengan strategi yang tepat, olahraga saat puasa tidak hanya aman, tetapi juga dapat membantu tubuh menjadi lebih sehat dan bugar sepanjang bulan Ramadan.

Kuncinya adalah menjaga intensitas latihan agar tetap berada di zona detak jantung yang aman, terutama di Zona 2. Dengan begitu tubuh tetap mendapatkan manfaat olahraga tanpa risiko kelelahan berlebih atau penurunan gula darah.

Memanfaatkan teknologi seperti smartwatch pemantau detak jantung juga bisa menjadi solusi praktis untuk menjaga ritme latihan tetap stabil.

Scr/Mashable




Don't Miss