NASA akan menunda rencana pembangunan stasiun luar angkasa kecil di sekitar bulan, dan memilih fokus membangun pangkalan langsung di permukaan bulan.
Selama bertahun-tahun, badan antariksa Amerika Serikat itu mempromosikan Gateway, sebuah stasiun yang akan mengorbit bulan dan berfungsi sebagai laboratorium sekaligus tempat persinggahan untuk misi-misi lunar.
Namun kini, setelah meninjau ulang dari sisi waktu, biaya, dan logistik, para pejabat menilai proyek tersebut justru akan memperlambat langkah menuju tujuan utama: mengirim astronaut kembali ke bulan, sebelum China melakukannya lebih dulu.
Saat NASA bersiap meluncurkan Artemis II, misi berawak selama 10 hari yang akan mengelilingi bulan dan berpotensi lepas landas paling cepat pada Rabu, 1 April, para pimpinan lembaga itu juga merombak rencana misi pendaratan berikutnya.
Targetnya jelas, memastikan jejak kaki pertama di permukaan bulan sejak 1972 kembali berasal dari Amerika Serikat. Misi pendaratan itu ditargetkan terjadi pada Artemis IV pada 2028.
Namun, tekanan waktu yang dihadapi NASA dalam membangun pangkalan bulan sebagian besar disebabkan oleh perencanaan mereka sendiri.
Target tahun 2030 untuk mulai menempatkan komponen habitat astronaut awalnya berasal dari rencana Gateway yang sebelumnya dipresentasikan kepada para pemangku kepentingan. Kini, demi mengejar tenggat tersebut, NASA justru harus melewati proyek stasiun luar angkasa yang dulu menjadi dasar penjadwalan itu.
Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada Desember yang mewajibkan adanya pos di bulan pada 2030. Namun ada kendala: kebijakan tersebut hanya menetapkan target waktu tanpa menjamin pendanaan.
NASA sendiri memperkirakan membutuhkan dana sebesar 20 miliar dolar AS (sekitar Rp320 triliun) selama tujuh tahun untuk membangun pangkalan versi baru ini, tetapi belum mendapatkan jaminan anggaran penuh dari Kongres.
Sementara itu, banyak anggota parlemen AS tengah fokus menyelamatkan program luar angkasa dan ilmu kebumian lain yang terancam pemangkasan anggaran.
“Saya tidak bisa membayangkan ada yang lebih memilih astronaut berada di atas bulan hanya untuk melihat ke bawah, dibandingkan langsung berada di permukaannya,” ujar Administrator NASA, Jared Isaacman.
Perubahan besar dalam ambisi lunar NASA ini diumumkan dalam pertemuan bertajuk Ignition yang digelar di Washington pekan ini, yang bertujuan menggalang dukungan dari kontraktor, mitra internasional, dan para pembuat kebijakan.
Para astronaut nantinya akan membangun pangkalan di kutub selatan bulan, wilayah yang luasnya kira-kira setara negara bagian Virginia. Kawasan ini memiliki kawah dalam yang selalu gelap dan diduga menyimpan es purba serta material beku lainnya.
Jika sumber daya tersebut bisa dimanfaatkan, kru dapat menggunakannya untuk mendukung kehidupan dan aktivitas di bulan tanpa harus terus bergantung pada pasokan dari Bumi.
Rencana baru ini dibagi dalam tiga fase. Dalam dua tahun ke depan, NASA ingin membuktikan bahwa mereka mampu mendarat di bulan secara rutin dan andal, melalui sekitar dua lusin peluncuran dan lebih dari 20 pendaratan yang sebagian besar dilakukan oleh mitra komersial.
Misi ini akan mengirim robot ke kutub selatan untuk mencari air serta menguji pemanas bertenaga nuklir yang mampu menjaga peralatan tetap berfungsi di tengah kondisi gelap dan dingin ekstrem.
Sekitar 2029, wahana pendarat yang lebih besar akan membawa peralatan listrik dan komunikasi. Rover tangguh akan mulai meratakan permukaan untuk pembangunan tempat tinggal, didukung rover bertekanan yang juga bisa berfungsi sebagai rumah bergerak.
Kemudian pada dekade 2030-an, kru akan mendapatkan beberapa modul habitat untuk mendukung masa tinggal lebih lama, disertai pengiriman logistik rutin yang membawa suplai serta mengangkut sampel bulan kembali ke Bumi.
Salah satu tujuan utama fase akhir adalah memanfaatkan tanah bulan atau regolit. Menurut Carlos Garcia-Galan, eksekutif program pangkalan bulan, NASA akan menguji teknologi pencetakan 3D dan metode lain untuk mengubah material tersebut menjadi bata, serta mengekstrak oksigen, air, dan elemen lain yang berguna untuk mendukung kehidupan di pangkalan.
NASA menilai kemampuan hidup di bulan merupakan langkah penting sebelum manusia menuju Mars. Jika terjadi kerusakan di Mars, kru akan terjebak berbulan-bulan di lingkungan yang jauh dan berbahaya.
Dengan mengoperasikan pangkalan di bulan, NASA berharap dapat mengatasi berbagai tantangan mempertahankan kehidupan manusia, terutama selama malam bulan yang panjang dan sangat dingin, memperbaiki peralatan penting tanpa pasokan cepat dari Bumi, serta memanfaatkan sumber daya lokal—semuanya saat astronaut masih hanya berjarak tiga hari perjalanan dari rumah.
“Jelas, ketika kita sampai di Mars, kita akan membutuhkan kemampuan seperti ini,” kata Garcia-Galan. “Dan saat kita tiba di sana, semuanya sudah teruji dan terbukti.”
Adapun proyek Gateway yang kini disisihkan, NASA menyebut proyek tersebut belum dibatalkan dan masih bisa diprioritaskan kembali di masa depan. Namun, karena sebagian perangkat kerasnya akan dialihkan untuk pembangunan pangkalan bulan, masa depan proyek tersebut masih belum pasti.
Laboratorium uji dan peralatan lain yang sebelumnya dirancang untuk stasiun luar angkasa akan dialihkan untuk mendukung misi di permukaan bulan. Dengan memanfaatkan kembali komponen Gateway, para pejabat yakin pembangunan pangkalan dapat dilakukan tanpa lonjakan anggaran besar.
“Memang terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi percayalah,” kata Garcia-Galan, “kami sedang merencanakan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.”
Scr/Mashable





















