Blue Moon 2026 Hiasi Langit Indonesia Akhir Mei, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya

08.05.2026
Blue Moon 2026 Hiasi Langit Indonesia Akhir Mei, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya
Blue Moon 2026 Hiasi Langit Indonesia Akhir Mei, Ini Waktu Terbaik Menyaksikannya

Fenomena Blue Moon atau Bulan Biru dipastikan menghiasi langit pada malam 30 Mei hingga dini hari 31 Mei 2026.

Peristiwa astronomi langka ini menjadi salah satu momen paling dinantikan para pencinta langit malam karena masyarakat di Indonesia dapat menyaksikan bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender secara langsung tanpa alat khusus selama cuaca cerah.

Fenomena tersebut juga terasa semakin istimewa lantaran bertepatan dengan micro moon terjauh sepanjang 2026. Kondisi itu membuat ukuran Bulan terlihat sedikit lebih kecil dibandingkan purnama biasanya.

Para astronom memperkirakan diameter Bulan tampak sekitar tujuh persen lebih kecil dari rata-rata purnama normal karena posisinya berada di titik terjauh dari Bumi.

Meski populer dengan nama Blue Moon atau Bulan Biru, warna Bulan sebenarnya tidak berubah menjadi biru. Istilah tersebut digunakan dalam astronomi untuk menyebut kejadian dua kali bulan purnama dalam satu bulan kalender yang sama. Fenomena ini termasuk langka karena tidak terjadi setiap tahun.

Mengutip keterangan dari EarthSky, siklus fase Bulan berlangsung sekitar 29,5 hari. Durasi tersebut sedikit lebih pendek dibandingkan jumlah hari dalam kalender Masehi. Perbedaan kecil itulah yang membuat sesekali muncul dua kali purnama dalam satu bulan.

Fenomena Blue Moon terakhir tercatat muncul pada 19 Agustus 2024. Setelah kemunculannya pada Mei 2026, peristiwa serupa baru akan kembali terjadi pada 31 Desember 2028. Karena jarangnya kemunculan fenomena ini, masyarakat Barat mengenal ungkapan ‘once in a blue moon‘ yang berarti sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Secara astronomi, Bulan membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari untuk mengelilingi Bumi. Dalam satu tahun, siklus itu berlangsung lebih dari 12 kali. Umumnya, manusia menyaksikan satu kali bulan purnama setiap bulan atau total 12 kali dalam setahun.

Namun, selisih kecil antara kalender lunar dan kalender matahari membuat akumulasi tambahan waktu dari tahun ke tahun. Akibatnya, pada periode tertentu bisa terjadi 13 kali purnama dalam setahun atau empat kali purnama dalam satu musim. Situasi inilah yang memunculkan fenomena Blue Moon.

Dalam dunia astronomi, Blue Moon memiliki dua definisi berbeda. Pertama adalah Blue Moon bulanan, yakni purnama kedua dalam satu bulan kalender yang sama.

Fenomena pada 31 Mei 2026 termasuk kategori ini. Kedua adalah Blue Moon musiman, yaitu purnama ketiga dalam satu musim yang memiliki empat kali bulan purnama. Jenis Blue Moon musiman berikutnya diprediksi terjadi pada 20 Mei 2027.

Data dari Time and Date menunjukkan bahwa dalam rentang tahun 1550 hingga 2650 terdapat sekitar 456 Blue Moon bulanan dan 408 Blue Moon musiman. Artinya, salah satu jenis Blue Moon rata-rata hanya terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali.

Istilah “bulan biru” sendiri ternyata memiliki sejarah panjang. Pada abad ke-16, frasa tersebut digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang mustahil terjadi.

Maknanya berubah setelah letusan besar Gunung Krakatau pada 1883. Abu vulkanik yang menyelimuti atmosfer saat itu membuat Bulan terlihat kebiruan di sejumlah wilayah dunia akibat efek penyaringan cahaya.

Fenomena tersebut kemudian memperkuat penggunaan istilah Blue Moon untuk menggambarkan kejadian langka tetapi nyata. Sejak saat itu, istilah Bulan Biru semakin populer dalam budaya populer maupun dunia astronomi.

Untuk masyarakat Indonesia, waktu terbaik menyaksikan Blue Moon diperkirakan berlangsung pada malam 30 Mei 2026 hingga menjelang pagi 31 Mei 2026. Puncak fase purnama diprediksi terjadi pada 31 Mei 2026 pukul 15.45 WIB.

Walaupun momen puncaknya berlangsung pada sore hari saat Bulan belum terlihat di langit Indonesia, masyarakat tetap bisa menikmati panorama Bulan purnama terang pada malam sebelumnya.

Pengamat astronomi menyarankan masyarakat mencari lokasi minim polusi cahaya agar pemandangan Bulan terlihat lebih jelas. Area terbuka seperti pegunungan, pantai, atau lapangan luas menjadi tempat ideal untuk menikmati fenomena langka tersebut.

Selain Blue Moon 2026 dan Blue Moon musiman 2027, pencinta astronomi juga menantikan peristiwa spektakuler lain pada 31 Desember 2028. Pada tanggal tersebut diperkirakan akan terjadi kombinasi Blue Moon, Supermoon, dan gerhana bulan total secara bersamaan.

Fenomena gabungan itu diprediksi membuat Bulan tampak lebih besar karena berada lebih dekat ke Bumi, sekaligus berwarna kemerahan akibat efek gerhana total.

Perpaduan kondisi langka tersebut membuat sebagian pengamat menjulukinya sebagai Super Blood Blue Moon hingga Super Purple Moon, sebuah fenomena yang diyakini menjadi salah satu pertunjukan langit paling menarik di dekade ini.

Scr/Mashable




Don't Miss