Federasi Sepak Bola Iran akhirnya mengambil keputusan final terkait partisipasi mereka di Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Utara musim panas ini. Tim nasional Iran secara resmi mengajukan serangkaian tuntutan kepada FIFA sebelum memastikan kehadiran mereka.
Sebelumnya, Federasi Sepak Bola Iran sempat melayangkan ancaman boikot. Hal ini dipicu oleh aksi kampanye pengeboman yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel awal tahun ini, yang memicu ketegangan diplomatik luar biasa.
Iran sendiri berhasil mengamankan tiket ke putaran final setelah tampil mengesankan di babak kualifikasi. Berdasarkan hasil pengundian, mereka tergabung dalam Grup G Piala Dunia 2026 yang kompetitif bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Sebelum ketegangan geopolitik meningkat, telah diumumkan bahwa Iran akan memainkan seluruh tiga pertandingan fase grup mereka di wilayah Amerika Serikat.
Situasi tersebut sempat memunculkan spekulasi bahwa Iran akan memilih mundur dari turnamen atas alasan politik. Namun, opsi tersebut tampaknya kini telah dikesampingkan.
Dengan satu bulan tersisa sebelum kick-off dimulai, Iran tetap berkomitmen untuk berkompetisi di putaran final, dengan catatan: tuntutan mereka kepada FIFA dan pemerintah Amerika Serikat harus dipenuhi.
Mengutip laporan dari Express, salah satu tuntutan utamanya adalah permintaan agar setiap anggota delegasi Iran—termasuk pemain, staf pelatih, hingga ofisial—diberikan visa untuk masuk dan bepergian secara bebas di wilayah Amerika Serikat.
Isu ini menjadi sangat sensitif karena beberapa anggota delegasi diketahui pernah menjalani masa wajib militer di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah organisasi yang diklasifikasikan sebagai kelompok teroris oleh Kanada dan Amerika Serikat.
Selain masalah visa, pejabat Iran juga mencari jaminan mengenai bagaimana tim mereka akan diperlakukan sepanjang kompetisi. Fokus utamanya adalah pada penghormatan terhadap bendera negara dan lagu kebangsaan. Tak hanya itu, mereka juga menuntut perlindungan keamanan tingkat tinggi di area bandara, hotel, hingga stadion.
Terkait hal ini, FIFA memiliki wewenang untuk mengawasi hal-hal yang berhubungan dengan operasional turnamen. Namun, beberapa tuntutan Iran berada di luar jangkauan FIFA.
Sebagai contoh, isu mengenai visa, kontrol perbatasan, dan pemeriksaan keamanan merupakan tanggung jawab mutlak otoritas imigrasi dan keamanan nasional Amerika Serikat.
Di sisi lain, federasi sepak bola Iran juga secara khusus meminta para jurnalis untuk membatasi pertanyaan mereka hanya pada “masalah teknis sepak bola” saja. Langkah ini diprediksi akan mendapat penolakan dari awak media, mengingat iklim politik yang sedang memanas baik di Timur Tengah maupun di Amerika Serikat saat ini.
Persinggungan antara sepak bola dan politik memang bukan hal baru bagi tim nasional Iran. Pada Piala Dunia 2022 lalu, tim putra Iran sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaan sebagai bentuk dukungan terhadap protes anti-pemerintah di negara mereka.
Sementara itu, pada Piala Asia Wanita di Australia awal tahun ini, beberapa anggota tim dilaporkan mencoba mencari suaka politik.
Scr/Mashable


















