Meta kembali menghadapi gugatan hukum terkait maraknya iklan penipuan di platform media sosial miliknya, yaitu Facebook dan Instagram.
Kali ini, gugatan datang dari Santa Clara County, California, yang menuding perusahaan tersebut memperoleh keuntungan besar dari ekosistem iklan scam yang terus berkembang di platformnya.
Kasus ini menambah daftar panjang tekanan hukum terhadap Meta terkait pengawasan iklan digital dan perlindungan pengguna, khususnya kelompok lansia dan pengguna rentan yang sering menjadi target penipuan online.
Gugatan tersebut diajukan oleh County Counsel Santa Clara, Tony LoPresti. Dalam dokumen tuntutan, Meta dituduh membiarkan sistem iklan digitalnya dimanfaatkan oleh para pelaku penipuan demi mengejar pendapatan iklan.
Diduga Raup Hingga Rp115 Triliun dari Iklan Scam
Dikutip dari Engadget (13/05/26), dalam gugatan tersebut disebutkan bahwa Meta diduga menghasilkan hingga US$7 miliar per tahun atau sekitar Rp115 triliun dari iklan penipuan yang beredar di Facebook dan Instagram.
Angka itu mengacu pada laporan investigasi Reuters tahun lalu yang mengungkap adanya dokumen internal perusahaan terkait besarnya pemasukan dari advertiser bermasalah.
Santa Clara County menilai Meta mengetahui keberadaan iklan scam tersebut, tetapi gagal mengambil langkah yang cukup efektif untuk menghentikannya. Bahkan, sistem moderasi dan kebijakan platform disebut ikut memungkinkan penipu terus menjalankan aksinya.
“Wilayah kami memang mendapat manfaat dari perkembangan industri teknologi, tetapi kami tidak bisa diam ketika sebuah raksasa teknologi diduga menipu masyarakat demi mencapai target pendapatan,” kata Tony LoPresti dalam konferensi pers.
Lansia Jadi Sasaran Utama Penipuan
Gugatan ini juga menyoroti banyaknya korban dari kalangan lansia yang menjadi target utama iklan palsu di Facebook dan Instagram.
Beberapa modus penipuan yang disebut antara lain promosi iPhone gratis, bantuan cek tunai palsu, hingga scam terkait layanan Medicare di Amerika Serikat.
Menurut laporan terbaru dari organisasi nonprofit Center for Countering Digital Hate, Meta disebut memperoleh lebih dari US$14 juta dari iklan scam bertema Medicare yang menargetkan pengguna lanjut usia.
Laporan tersebut mengungkap bahwa banyak pengiklan scam ternyata merupakan pelaku berulang yang sebelumnya sudah pernah dihapus iklannya oleh Meta.
Tidak hanya itu, para pelaku juga mulai memanfaatkan teknologi AI generatif untuk membuat endorsement palsu menggunakan figur publik dan selebritas agar penipuan terlihat lebih meyakinkan.
Meta Bantah Tuduhan dan Klaim Sudah Hapus Jutaan Iklan Scam
Menanggapi gugatan tersebut, Meta membantah tudingan bahwa perusahaan sengaja membiarkan penipuan berkembang demi keuntungan bisnis.
Juru bicara Meta mengatakan perusahaan secara agresif terus memerangi scam baik di dalam maupun di luar platform mereka.
“Penipu adalah pelaku kriminal yang terus menggunakan metode semakin canggih untuk menghindari deteksi. Kami secara aktif melawan scam karena hal tersebut merugikan pengguna maupun bisnis yang bergantung pada platform kami,” kata perwakilan Meta.
Meta mengklaim telah menghapus lebih dari 159 juta iklan penipuan sepanjang tahun lalu. Selain itu, perusahaan juga disebut telah meluncurkan berbagai fitur keamanan baru dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum di berbagai negara.
Tekanan terhadap Meta Semakin Besar
Kasus dari Santa Clara County bukan satu-satunya gugatan yang dihadapi Meta terkait iklan penipuan.
Bulan lalu, organisasi konsumen Consumer Federation of America juga menggugat Meta melalui class action di Washington D.C. Gugatan tersebut menuding perusahaan melanggar hukum perlindungan konsumen karena gagal menghentikan iklan scam di platformnya.
Beberapa iklan yang dipermasalahkan antara lain promosi iPhone gratis dan penawaran cek bantuan senilai US$1.400 yang ternyata palsu.
Tekanan terhadap Meta kini semakin besar seiring meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keamanan platform media sosial, penyalahgunaan AI dalam penipuan digital, hingga lemahnya pengawasan iklan online.
Scr/Mashable


















