Solusi Kebocoran Katup Jantung, MitraClip Hadir di Primaya Hospital

28.06.2026
Solusi Kebocoran Katup Jantung, MitraClip Hadir di Primaya Hospital
Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA

Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Di tengah meningkatnya kasus gangguan kardiovaskular, kebocoran katup jantung atau mitral regurgitation menjadi kondisi yang patut mendapat perhatian serius.

Meski kerap berkembang secara perlahan, penyakit ini dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan dan berujung pada gagal jantung apabila tidak ditangani dengan tepat.

Menjawab kebutuhan akan terapi jantung yang lebih modern, Primaya Hospital Kelapa Gading resmi menghadirkan teknologi MitraClip, sebuah prosedur minimal invasif yang dirancang untuk menangani kebocoran katup mitral berat, khususnya bagi pasien yang memiliki risiko tinggi menjalani operasi jantung terbuka.

Kehadiran teknologi ini menandai babak baru dalam layanan jantung modern di Indonesia. MitraClip memberikan harapan baru bagi pasien yang sebelumnya memiliki pilihan pengobatan terbatas karena kondisi medis yang tidak memungkinkan untuk menjalani operasi besar.

Kebocoran katup mitral terjadi ketika katup mitral pada jantung gagal menutup secara sempurna. Kondisi ini menyebabkan sebagian darah mengalir kembali ke ruang jantung sebelumnya, membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan pembesaran jantung, penurunan fungsi pompa, hingga gagal jantung.

Masalahnya, banyak pasien datang untuk berobat ketika kondisinya sudah memasuki stadium lanjut. Gejala seperti sesak napas, tubuh cepat lelah, atau pembengkakan pada kaki sering kali dianggap sebagai efek usia atau kelelahan biasa.

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi dan Konsultan Aritmia di Primaya Hospital Kelapa Gading, menyoroti bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kebocoran katup jantung di Indonesia.

“Banyak pasien datang ketika keluhan sudah berat, padahal gejala bukanlah penentu utama kapan tindakan harus dilakukan. Ketika pasien mulai mengalami sesak saat beraktivitas, mudah lelah, atau kaki mulai bengkak, sebaiknya segera memeriksakan diri. Semakin dini kebocoran katup diketahui, semakin besar peluang memberikan terapi yang optimal sebelum fungsi jantung mengalami penurunan,” jelas Prof. Yoga.

Menurutnya, pemeriksaan dini sangat penting karena terapi yang diberikan akan jauh lebih efektif sebelum fungsi jantung mengalami penurunan permanen.

Dalam prosedur MitraClip perdana di Primaya Hospital Kelapa Gading, tim dokter menangani pasien berusia 72 tahun dengan kondisi kebocoran katup mitral berat. Pasien tersebut diketahui telah berulang kali mengalami gagal jantung dan hanya memiliki kemampuan pompa jantung sekitar 25 persen. Kondisi ini membuat tindakan operasi jantung terbuka menjadi sangat berisiko.

Sebagai alternatif yang lebih aman, tim dokter memilih prosedur MitraClip.

Berbeda dari operasi jantung konvensional yang mengharuskan pembukaan dada, MitraClip dilakukan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah di area lipat paha. Alat berbentuk klip kecil kemudian dipasang untuk menyatukan bagian katup mitral yang bocor sehingga aliran darah dapat kembali lebih optimal.

prof dr dr yoga yuniadi spjpk
Proses pemasangan MitraClip / Foto: Primaya Hospital

Keunggulan utama teknologi ini terletak pada pendekatan minimal invasifnya. Risiko komplikasi relatif lebih rendah dibanding operasi konvensional, durasi tindakan lebih singkat, dan masa rawat inap biasanya hanya sekitar dua hingga tiga hari. Dengan demikian, pasien berpeluang kembali beraktivitas lebih cepat dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.

Teknologi ini menjadi solusi penting terutama bagi pasien dengan functional mitral regurgitation, yakni kebocoran katup yang terjadi akibat gangguan fungsi jantung, bukan kerusakan struktur katup itu sendiri. Kelompok pasien ini selama ini memiliki opsi terapi yang terbatas karena tingginya risiko operasi.

Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, MARS, MM, MH, C.Med, CPM, FISQua, menegaskan bahwa kehadiran MitraClip merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan jantung struktural berstandar internasional di Indonesia.

“Hadirnya MitraClip menambah kapabilitas Cardiac & Vascular Center Primaya Hospital Kelapa Gading dalam memberikan layanan jantung yang komprehensif, mulai dari diagnosis yang akurat hingga tindakan intervensi yang kompleks. Didukung Cathlab modern, tim multidisiplin, serta dokter-dokter berpengalaman, kami ingin memastikan masyarakat Indonesia dapat memperoleh terapi jantung berteknologi tinggi tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri,” ujar dr. Ferry.

Pelaksanaan prosedur perdana ini juga melibatkan kolaborasi dengan pakar jantung struktural dari Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Thailand. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dari transfer pengetahuan sekaligus penguatan kompetensi dalam pengembangan layanan jantung modern di Indonesia.

Langkah ini menegaskan bahwa masa depan penanganan penyakit jantung kini bergerak menuju teknologi yang lebih presisi, minim trauma, dan lebih nyaman bagi pasien. Kehadiran MitraClip bukan sekadar inovasi medis baru, tetapi juga simbol kemajuan layanan kesehatan nasional yang semakin mampu bersaing di level internasional.

Dengan berkembangnya teknologi intervensi jantung di Indonesia, pasien kini memiliki harapan yang lebih besar untuk menjalani hidup sehat dan berkualitas meski menghadapi kondisi jantung kompleks.

Scr/Mashable




Don't Miss