Mantan bintang sepak bola dunia, Eden Hazard, kembali membuat kejutan bagi para penggemarnya. Setelah memutuskan gantung sepatu dari lapangan hijau, legenda timnas Belgia tersebut kini memilih untuk menjajal tantangan baru di dunia balap sepeda jalan raya (road bike) di negara asalnya.
Mantan penggawa Chelsea tersebut dikonfirmasi akan ambil bagian dalam ajang balap sepeda amatir ternama, Lille-Hardelot, yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Juni mendatang di wilayah Prancis Utara. Kompetisi ini menyuguhkan rute sejauh lebih dari 160 kilometer, membentang dari kota Lille hingga kawasan Hardelot di dekat Boulogne.
Pihak penyelenggara Lille-Hardelot telah memastikan keikutsertaan Hazard. Mereka pun melayangkan pujian tinggi atas keputusan pria berusia 35 tahun itu untuk memulai petualangan baru di luar dunia sepak bola.
Menurut panitia, jiwa kompetitif di dalam diri Hazard tidak pernah padam. Ia dinilai hanya sedang mencari ritme dan warna baru dalam hidupnya setelah menyudahi karier di level tertinggi sepak bola profesional.
“Semangat bersaingnya masih ada, hanya saja sekarang ia menikmatinya dengan cara yang berbeda,” tulis pihak penyelenggara dalam pernyataan resminya.
Temukan Ketenangan Lewat Sepeda
Sejak menyatakan pensiun pada tahun 2023 akibat badai cedera kambuhan yang merusak kariernya di Real Madrid, Hazard sempat disibukkan dengan berbagai aktivitas bisnis. Ia diketahui merambah bisnis minuman anggur (wine) serta berinvestasi di sejumlah proyek teknologi olahraga.
Namun, belakangan ini ia justru jatuh cinta pada olahraga bersepeda—sebuah cabang olahraga yang memang sangat populer dan mendarah daging di Belgia.
Hazard dilaporkan rutin menghabiskan banyak waktu untuk berlatih melibas rute-rute jarak jauh. Baginya, mengayuh pedal kini menjadi cara terbaik untuk menjaga kebugaran dan menyalurkan gairah olahraganya, tanpa harus dikejar tekanan target atau tuntutan performa seperti dulu.
Menariknya, panitia Lille-Hardelot menyebut bahwa di lintasan nanti, Hazard tidak akan mendapatkan perlakuan istimewa. Pemain yang dulu ditakuti para bek Eropa itu akan berbaur murni sebagai “seorang pesepeda biasa di antara ribuan peserta lainnya.”
Semasa aktif sebagai pesepak bola lapangan hijau, Hazard adalah ikon tak terbantahkan bagi Chelsea. Ia mengemas 110 gol dari 352 penampilan, serta berjasa besar mempersembahkan dua trofi Premier League, dua gelar Liga Europa, dan berbagai kup domestik ke Stamford Bridge. Kini, giliran aspal jalan raya yang akan menyaksikan aksi magis dari seorang Eden Hazard.
Eden Hazard, Bisnis Anggur, dan Pekerjaan Sebagai Pengemudi
Di tengah kebun anggur Lecce, Eden Hazard bukan lagi bintang Bernabeu atau Stamford Bridge; dia hanya ingin dikenang sebagai pemain yang baik dan pribadi yang periang.
Jika Italia diibaratkan seperti sepatu bot, Lecce akan berada di bagian tumitnya, tempat sinar matahari jatuh perlahan dan angin bertiup melalui deretan kebun anggur yang tak berujung.
Di sana, sulit untuk mengenali sosok Eden Hazard yang pernah menjadi pusat perhatian di malam-malam Liga Champions yang penuh gejolak itu. Sorak sorai Bernabeu atau malam-malam yang penuh gairah di Stamford Bridge kini terasa seperti gema dari dunia lain.
Saat Sorotan Lampu Meredup
Hampir tiga tahun telah berlalu sejak Hazard pensiun di usia 32 tahun, mengakhiri karier yang dipersingkat oleh cedera di Real Madrid. Tidak ada perpisahan mewah, tidak ada pertandingan ekshibisi perpisahan. Hanya kepergian yang sangat tenang.
Dalam dunia sepak bola, di mana segala sesuatu dibesar-besarkan dan dilebih-lebihkan, kepergian Hazard justru sebaliknya.
“Hidup berlalu begitu cepat,” katanya.
Ungkapan itu terdengar familiar, tetapi diucapkan oleh seorang pemain yang telah menjalani laju yang melelahkan di Premier League dan La Liga, ungkapan itu memiliki makna yang berbeda. Hazard tidak mengatakannya dengan penyesalan, melainkan sebagai seseorang yang telah menikmatinya.
Banyak mantan pemain menggambarkan kekosongan setelah pensiun sebagai sebuah kemerosotan. Bagi Hazard, itu adalah jeda yang diperlukan. Dia berbicara tentang keluarganya dengan ketulusan yang jarang ditemukan.
Istri, lima anak, pagi-pagi mengantar dan menjemput mereka, makan malam yang santai.
“Saat ini saya lebih seperti sopir taksi daripada pemain sepak bola,” katanya sambil tertawa.
Namun, tidak ada sedikit pun nada sarkasme dalam tawanya itu. Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak perlu berlari.
Warisan Budaya Tidak Membutuhkan Monumen
Hazard telah menjadi pusat dari banyak tonggak penting. Dia adalah jantung dan jiwa dari dua gelar Liga Premier Chelsea. Dia menjadi kapten Belgia di Piala Dunia 2018, ketika “generasi emas” finis di posisi ketiga. Dia adalah bagian dari tim Real Madrid yang memenangkan Liga Champions pada tahun 2022.
Prestasi-prestasi itu saja sudah cukup untuk membangun sebuah monumen. Tetapi Hazard tidak mencari pengakuan semacam itu.
Ia menganalisis perbedaan antara Premier League dan La Liga dengan nada tenang. Di Inggris, Anda harus berlari sampai kelelahan. Di Spanyol, Anda bisa mengontrol tempo. Ia beradaptasi dan bersinar di kedua lingkungan tersebut, meskipun perjalanannya di Madrid tidak mencapai puncak yang ia harapkan.
Baginya, Piala Dunia 2018 bukanlah sumber penyesalan karena gagal meraih trofi. Itu adalah sumber kebanggaan atas apa yang telah dicapai seluruh tim. “Bukan karena kami menang, tetapi karena apa yang telah kami bangun bersama,” kenang Hazard. Di situ, Hazard berbicara sebagai seseorang yang memahami bahwa nilai sepak bola tidak hanya terletak pada gelar juara.
Kini, di tengah tong-tong anggur di Lecce, Hazard berbicara tentang sepak bola seperti halnya ia berbicara tentang anggur. Bukan hanya momen brilian tunggal dalam sebuah pertandingan, tetapi sebuah proses panjang yang membutuhkan waktu untuk matang. Mungkin itulah deskripsi yang paling tepat untuk kariernya.
Hazard tidak ingin dikenang sebagai legenda: “Hanya pemain bagus dan orang yang lucu.” Di era di mana semua kata sifat superlatif mudah dibesar-besarkan, pilihan itu terdengar hampir seperti kontradiksi yang menarik.
Ia membayangkan masa depannya bukan di bangku pelatih atau di kantor eksekutif, melainkan sebagai seorang lelaki tua berambut putih yang duduk di meja makan, dikelilingi oleh cucu-cucunya dan sebotol anggur.
Sepak bola sering merayakan mereka yang menaklukkan puncak tertinggi. Tetapi terkadang, yang lebih berkesan adalah bagaimana seorang bintang menerima kepergiannya. Hazard tidak melawan kelupaan; dia menerimanya dengan alami.
Dan mungkin justru kelembutan itulah yang menjadi warisan terpentingnya.
Scr/Mashable
















