Kaspersky menggelar Academic Partners Summit 2026 di Jakarta dengan mempertemukan akademisi, praktisi keamanan siber, dan pembuat kebijakan untuk membahas perkembangan AI, keamanan siber, dan masa depan talenta digital Indonesia.
Mengusung tema “AI, Security, and Society: What’s Next for Our Digital Future?”, forum ini menyoroti dua sisi perkembangan AI. Di satu sisi, AI dapat memperkuat sistem pertahanan siber.
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga semakin banyak dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mempercepat serangan.
Asia Pasifik Hadapi Kesenjangan Talenta Siber
Kaspersky menilai perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap tenaga ahli keamanan siber semakin mendesak.
Kawasan Asia-Pasifik disebut menyumbang sekitar 60 persen kesenjangan talenta keamanan siber global, sementara 95 persen tim keamanan masih melaporkan kekurangan tenaga ahli.
Di Asia Tenggara, sekitar 65 persen pekerjaan keamanan siber mensyaratkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang. Kondisi ini menunjukkan terbukanya peluang bagi talenta baru untuk masuk ke industri keamanan siber.
Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia dan negara ASEAN bukan hanya kurangnya minat mahasiswa. Ketersediaan instruktur yang kompeten dan materi pembelajaran dalam bahasa lokal juga masih menjadi persoalan.
Evgeniya Russkikh, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, mengatakan kemampuan manusia tetap menjadi faktor penting ketika AI semakin banyak digunakan dalam serangan maupun pertahanan siber.
“Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting”, katanya.
Menurutnya, profesional keamanan siber masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Mereka juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara etis.
“Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat”, imbuhnya.
AI Mempercepat Perkembangan Malware
Kaspersky juga mengungkap perubahan cara pelaku ancaman memanfaatkan AI.
Jika pada 2022 AI lebih banyak digunakan sebagai asisten pengetahuan untuk membantu pengembangan malware, pemanfaatannya berkembang pada 2023 dan 2024 untuk membantu penulisan kode, pengintaian atau reconnaissance, serta pembuatan phishing.
Memasuki 2025, AI disebut semakin terintegrasi dalam alur pengembangan malware. Kaspersky bahkan melihat kemungkinan berkembangnya malware agentic, yaitu malware yang dapat menjalankan sejumlah tindakan secara lebih otonom.
AI juga digunakan untuk mendukung pengintaian target, penelitian kerentanan, pembuatan alat eksploitasi, hingga debugging kode.
Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, mengatakan AI mengubah kecepatan sekaligus biaya operasional kejahatan siber.
“AI mengubah aspek ekonomi dan kecepatan kejahatan siber. Teknologi ini tidak hanya membantu penyerang menulis kode lebih cepat, tetapi juga semakin mendukung pengintaian, penelitian, pengujian, dan tahapan operasi ofensif lainnya”, ucapnya.
Kaspersky juga menyebut sejumlah indikator teknis yang dapat membantu peneliti mendeteksi kemungkinan penggunaan AI dalam pembuatan malware, antara lain komentar kode yang terlalu banyak, nama variabel yang generik, keluaran bergaya tutorial, penggunaan emoji, serta modul atau API yang sebenarnya tidak tersedia.
Talenta Manusia Tetap Jadi Kunci
Di tengah perkembangan AI, Kaspersky menilai Indonesia perlu memperkuat kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah untuk membangun sumber daya manusia keamanan siber.
Direktur Direktorat Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Ridi Ferdiana, menekankan pentingnya kemampuan manusia dalam menghadapi perkembangan AI.
“Dan saya sangat meyakini pentingnya berpikir kritis, ko-kreativitas dengan AI, kolaborasi terbuka, komunikasi yang baik, serta sikap yang tepat terhadap keamanan siber.”
Menurutnya, pengembangan kapabilitas AI Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Talenta manusia, tata kelola, dan ketahanan siber juga harus menjadi bagian penting dari ekosistem digital.
AI Jadi Faktor Strategis Keamanan Indonesia
Academic Partners Summit 2026 menegaskan bahwa AI kini telah berkembang dari sekadar teknologi eksperimental menjadi bagian penting dari strategi bisnis, pertahanan digital, hingga keamanan nasional.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. AI dapat mempercepat inovasi dan meningkatkan kemampuan pertahanan siber, tetapi juga memberikan alat baru bagi pelaku ancaman.
Karena itu, Kaspersky mendorong penguatan pendidikan keamanan siber dan pengembangan talenta digital agar transformasi AI di Indonesia dapat berlangsung secara aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Scr/Mashable
















