Selama bertahun-tahun, Samsung memiliki ruang yang relatif jelas di pasar ponsel lipat, sementara Apple mempertahankan kekuatannya melalui lini iPhone flagship. Kini dua arena tersebut mulai beririsan.
Menurut saya, masuknya iPhone Duo ke Indonesia akan menjadi salah satu momen penting dalam persaingan smartphone premium.
Sinyalnya sudah terlihat dari sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Tiga perangkat Apple dengan nomor model A3714, A3717, dan A3720 telah tercatat memiliki nilai TKDN 40 persen. Ketiganya diidentifikasi sebagai iPhone 18 Pro, iPhone 18 Pro Max, dan iPhone Duo.
Bagi saya, fakta ini lebih penting daripada sekadar pertanyaan kapan ketiga perangkat tersebut dijual. TKDN menunjukkan bahwa Apple sudah mempersiapkan ketiga perangkat tersebut untuk pasar Indonesia. Namun, perangkat telekomunikasi masih harus memenuhi proses sertifikasi lainnya sebelum dapat dijual secara resmi.
Di sinilah menariknya melihat persaingan Apple dan Samsung. iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max akan berhadapan dengan flagship Galaxy S, sementara iPhone Duo langsung masuk ke wilayah yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama Samsung: ponsel lipat.
Apa arti TKDN iPhone Duo dan iPhone 18 Pro Max bagi pasar Indonesia?
Ketiga perangkat Apple yang telah mengantongi TKDN 40 persen menunjukkan bahwa persiapan menuju pasar Indonesia sudah berjalan.
Untuk iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, pola generasi sebelumnya bisa menjadi gambaran. Apple membuka pre-order iPhone 17, iPhone Air, iPhone 17 Pro, dan iPhone 17 Pro Max di Indonesia pada 10 Oktober 2025, sebelum penjualan dimulai 17 Oktober.
Jika pola tersebut kembali digunakan, iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max berpotensi hadir di Indonesia sekitar Oktober 2026. Sementara untuk iPhone Duo, kemungkinan waktunya dapat bergeser hingga November berdasarkan pola jeda peluncuran sebelumnya.
Tetapi sampai ada pengumuman resmi Apple, tanggal tersebut tetap merupakan perkiraan.
Mengapa iPhone Duo bisa mengubah persaingan ponsel lipat?
Di sinilah menurut saya perubahan paling menarik terjadi.
Samsung sudah membangun kategori foldable selama bertahun-tahun. Galaxy Fold generasi pertama diperkenalkan pada 2019 dan sejak saat itu Samsung terus mengembangkan desain, layar, engsel, ketahanan, multitasking, hingga AI.
Saat ini Samsung bahkan sudah memasuki generasi kedelapan dengan Galaxy Z Fold8, Galaxy Z Fold8 Ultra, dan Galaxy Z Flip8 di Indonesia.
Artinya, ketika iPhone Duo masuk, Apple tidak memasuki pasar yang kosong. Apple masuk ketika Samsung sudah memiliki pengalaman, lini produk, distribusi, ekosistem, dan basis pengguna foldable yang terbentuk.
Secara global, Reuters mencatat Samsung masih memimpin kategori foldable pada 2026 dengan pangsa sekitar 40 persen, sementara pasar foldable sendiri masih merupakan bagian kecil dari keseluruhan pasar smartphone.
Namun, kehadiran Apple berpotensi memperbesar perhatian terhadap kategori tersebut.
Apakah Apple terlambat masuk ke pasar HP lipat?
Kalau melihat sejarahnya, Apple memang datang setelah Samsung.
Tetapi saya justru melihat keterlambatan ini sebagai strategi yang menarik. Apple tidak perlu menjadi perusahaan pertama yang membuat smartphone lipat. Perusahaan bisa masuk setelah teknologi dan perilaku konsumen di kategori tersebut mulai terbentuk.
iPhone Duo hadir dengan desain foldable bergaya passport, layar utama sekitar 7,6 inci, bodi titanium, dan engsel khusus. Reuters menyebut perangkat ini sebagai perubahan desain iPhone terbesar sejak iPhone X pada 2017.
Ini penting karena persaingan foldable tidak lagi hanya soal siapa yang lebih dulu melipat layar.
Persaingan berikutnya adalah siapa yang mampu membuat konsumen melihat ponsel lipat sebagai smartphone premium yang memang layak dimiliki, bukan sekadar perangkat eksperimental.
Dan Apple punya modal besar untuk membawa persepsi tersebut ke pasar.
Bagaimana posisi Samsung setelah iPhone Duo masuk?
Menurut saya, tantangan Samsung bukan semata-mata menjual lebih banyak perangkat foldable. Tantangannya adalah mempertahankan alasan mengapa konsumen harus memilih Galaxy ketika Apple menawarkan alternatif dengan pengalaman iPhone.

Samsung sebenarnya sudah mempersiapkan diri cukup jauh.
Bahkan di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, Samsung mencatat volume pre-order seri Galaxy Z8 sekitar 60 persen lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya untuk Fold8 dan Fold8 Ultra.
Data tersebut menunjukkan Samsung memasuki periode kedatangan Apple dengan fondasi foldable yang sudah cukup matang.
Jadi, persaingannya nanti bukan sekadar Apple versus Samsung, melainkan dua pendekatan terhadap smartphone premium.
Samsung sudah lama menjadikan foldable sebagai bagian dari portofolio utamanya. Apple baru membawa konsep tersebut ke dalam ekosistem iPhone.
Bagaimana persaingan iPhone 18 Pro Max dengan flagship Samsung?
Di segmen flagship konvensional, ceritanya berbeda.
iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max tidak perlu mengubah kategori seperti yang dilakukan iPhone Duo. Keduanya masuk ke arena yang sudah sangat kompetitif dan berhadapan dengan perangkat flagship Samsung serta produsen premium lainnya.
Namun, keduanya memiliki kekuatan dari sisi ekosistem.
Apple memiliki integrasi antara iPhone, Apple Watch, AirPods, Mac, iPad, serta layanan digital. Samsung juga memiliki ekosistem Galaxy yang semakin luas dan mengintegrasikan smartphone dengan tablet, laptop, smartwatch, earbuds, serta perangkat lainnya.
Jadi, keputusan konsumen di kelas premium semakin sulit dilihat hanya dari spesifikasi kamera, prosesor atau ukuran layar.
Ekosistem menjadi bagian dari alasan seseorang bertahan atau berpindah platform.
Data Counterpoint menunjukkan bahwa pasar premium Indonesia justru sedang tumbuh. Pada kuartal I 2026, segmen smartphone dengan harga di atas US$600 mencapai 8,3 persen dari total pengiriman smartphone Indonesia, sekaligus menjadi level tertinggi yang dicatat Counterpoint dan tumbuh 30 persen secara tahunan. Samsung sendiri mencatat pertumbuhan pengiriman 8 persen secara tahunan pada periode tersebut, sementara seri Galaxy S26 disebut mendapat momentum lebih kuat dibandingkan S25.
Bagi saya, angka ini membuat persaingan Apple dan Samsung di Indonesia menjadi semakin relevan. Ada ruang pasar premium yang sedang membesar, meski pasar smartphone secara keseluruhan justru mengalami tekanan.
Apakah iPhone Duo akan menjadi ancaman langsung bagi Galaxy Z Fold8?
Saya melihatnya bukan sebagai ancaman yang sederhana.
Keduanya memang berada di kategori yang sama, tetapi keputusan konsumen bisa sangat berbeda.
Pengguna yang sudah berada di ekosistem Samsung mungkin melihat Galaxy Z Fold8 sebagai pilihan yang lebih natural karena sudah terbiasa dengan Android, One UI, Galaxy AI, serta integrasi perangkat Galaxy.
Sebaliknya, pengguna iPhone yang selama ini menginginkan layar lebih besar tetapi tidak ingin meninggalkan ekosistem Apple kini mendapatkan opsi baru.
Inilah perubahan terbesar yang dibawa iPhone Duo.
Apple akhirnya memberikan alasan baru bagi pengguna iPhone untuk tetap berada di ekosistem Apple ketika menginginkan perangkat dengan layar yang lebih besar dan form factor berbeda.
Di sisi lain, Samsung harus menunjukkan bahwa pengalaman Fold bukan hanya soal bentuk layar, tetapi juga soal produktivitas, multitasking, kamera, AI, ketahanan, layanan purnajual, dan pengalaman penggunaan sehari-hari.
Mengapa Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi Apple dan Samsung?
Indonesia memiliki karakter pasar yang unik. Pasar smartphone secara keseluruhan sangat besar dan kompetitif, tetapi segmen premium masih menunjukkan pertumbuhan.
Counterpoint mencatat pengiriman smartphone Indonesia turun 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Namun, segmen premium justru tumbuh 30 persen.
Menurut saya, kondisi ini membuat strategi Apple dan Samsung menjadi semakin menarik.
Ketika konsumen menahan pembelian smartphone murah atau menengah karena harga perangkat meningkat, produsen justru memiliki insentif untuk mempertahankan daya tarik produk premium.
Apple datang dengan iPhone 18 Pro dan Pro Max sebagai flagship konvensional, kemudian membawa iPhone Duo sebagai produk baru di kategori foldable.
Samsung, di sisi lain, sudah memiliki dua lapisan pertahanan: Galaxy S sebagai flagship tradisional dan Galaxy Z sebagai lini foldable.
Dengan kata lain, persaingan keduanya di Indonesia tidak hanya terjadi di satu titik.
Jadi, seperti apa peta persaingan Apple dan Samsung?
Menurut saya, peta persaingannya akan semakin menarik setelah ketiga iPhone tersebut resmi masuk Indonesia.
iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max akan memperketat kompetisi flagship premium.
Sementara iPhone Duo membuka babak baru karena Apple untuk pertama kalinya membawa kekuatan ekosistem iPhone ke pasar foldable.
Samsung sudah memiliki pengalaman sejak 2019 dan kini menawarkan Galaxy Z Fold8, Fold8 Ultra, serta Flip8. Apple datang dengan pendekatan berbeda dan kekuatan ekosistem yang sudah terbentuk.
Karena itu, saya melihat kedatangan iPhone Duo bukan sekadar tambahan satu model baru dalam daftar smartphone premium.
Ini adalah perubahan peta persaingan.
Apple kini memiliki produk untuk bertarung di dua medan sekaligus: flagship konvensional melalui iPhone 18 Pro dan Pro Max, serta foldable melalui iPhone Duo.
Sementara Samsung harus mempertahankan posisi di dua arena tersebut dengan Galaxy S dan Galaxy Z.
Bagi konsumen Indonesia, persaingan ini justru menarik. Semakin kuat kompetisi di kelas premium, semakin banyak pilihan yang tersedia, bukan hanya dari sisi spesifikasi, tetapi juga desain, ekosistem, pengalaman AI, produktivitas, kamera, layanan, hingga cara sebuah smartphone digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan bagi saya, pertanyaan paling menarik bukan lagi kapan Apple masuk ke pasar foldable, melainkan bagaimana Samsung merespons ketika Apple akhirnya bermain di lapangan yang selama ini menjadi salah satu wilayah utamanya.
Scr/Mashable















