Waspada JADEPUFFER, Ransomware Berbasis Large Language Model (LLM) Pertama di Dunia

21.08.2026
Serangan Siber Baru, Malware Disebar Lewat WhatsApp Desktop dan Web
Serangan Siber Baru, Malware Disebar Lewat WhatsApp Desktop dan Web

Kaspersky mengungkap JADEPUFFER, ransomware berbasis Large Language Model (LLM) yang disebut sebagai salah satu contoh pertama serangan siber berbasis AI yang mampu mengambil keputusan dan menjalankan serangan secara lebih mandiri.

Temuan ini menunjukkan bahwa ancaman siber berbasis AI semakin berkembang. AI tidak lagi hanya digunakan untuk membantu hacker, tetapi mulai dimanfaatkan untuk menganalisis kegagalan, menyesuaikan strategi, dan mengeksekusi serangan.

JADEPUFFER Bisa Ubah Strategi dalam 31 Detik

Kaspersky menyebut JADEPUFFER mampu menyelesaikan siklus serangan secara otomatis.

Dalam kasus yang dianalisis, agen AI tersebut dapat mendiagnosis serangan yang gagal, memperbaiki pendekatan, dan meluncurkan serangan baru hanya dalam 31 detik.

Kecepatan ini menjadi salah satu hal yang paling mengkhawatirkan karena proses yang sebelumnya membutuhkan keputusan manusia dapat dilakukan oleh sistem AI secara otomatis.

Kaspersky menilai perkembangan tersebut menandai perubahan besar dalam pola serangan siber.

SilverFox Sebarkan Claude Palsu

Selain JADEPUFFER, peneliti Kaspersky Global Research and Analysis Team (GReAT) mengungkap aktivitas SilverFox, kelompok APT yang aktif di kawasan Asia Pasifik.

SilverFox diketahui menggunakan tiga jalur utama untuk menyusup ke target, yaitu situs web palsu, email phishing, dan file berbahaya yang disebarkan melalui aplikasi pesan.

Dalam kampanye terbaru, SilverFox bahkan menggunakan aplikasi Claude palsu untuk menginfeksi organisasi target.

Aplikasi palsu tersebut diklaim tersedia untuk Windows, macOS, dan Linux. Modus ini memanfaatkan popularitas AI di lingkungan perusahaan untuk membuat korban lebih mudah percaya dan menginstal aplikasi berbahaya.

1.600 Email Berbahaya Terdeteksi

SilverFox juga menggunakan phishing dengan tema audit pajak.

Korban menerima email yang dibuat seolah-olah merupakan pemberitahuan resmi dari lembaga pajak. Mereka kemudian diarahkan mengunduh arsip yang diklaim berisi daftar pelanggaran pajak.

Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya dalam kampanye tersebut sepanjang Januari hingga Februari 2026.

Serangan terbaru menyasar perusahaan di Indonesia, India, Afrika Selatan, dan Rusia, terutama sektor industri, konsultasi, perdagangan, dan transportasi.

China Jadi Target Terbesar SilverFox

Kawasan Asia Pasifik menjadi wilayah dengan aktivitas SilverFox paling tinggi.

Menurut Kaspersky, lebih dari 90% serangan SilverFox menargetkan China, sedangkan China daratan menyumbang sekitar 71% dari seluruh serangan.

Myanmar, Kamboja, dan Singapura juga disebut sebagai wilayah yang perlu diwaspadai.

Dari sisi industri, manufaktur menjadi target terbesar, dengan kontribusi lebih dari sepertiga seluruh serangan. Sektor IT dan layanan, kesehatan, serta keuangan juga menjadi sasaran.

AI Bisa Dimanfaatkan untuk Menyebarkan Malware

Kaspersky juga memperingatkan teknik ChatGPhish, yang memanfaatkan injeksi prompt tidak langsung pada layanan AI.

Dalam modus ini, pelaku menyembunyikan instruksi berbahaya di sebuah halaman web. Ketika pengguna meminta AI merangkum halaman tersebut, instruksi atau tautan berbahaya dapat ikut diproses oleh AI.

Karena informasi muncul melalui layanan AI yang dipercaya pengguna, korban berpotensi menganggapnya aman.

Kondisi ini membuat serangan berbasis AI semakin sulit dibedakan dari interaksi digital biasa.

VoidLink Jadi Contoh Malware Berbasis AI

Ancaman lainnya adalah VoidLink, kerangka malware berbasis AI dan cloud-native yang ditemukan pada Januari 2026.

VoidLink dilaporkan dikembangkan dengan bantuan AI dalam skala besar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi generatif dapat membantu menurunkan hambatan teknis dalam pengembangan malware.

Artinya, AI berpotensi membuat pembuatan malware canggih menjadi lebih mudah dan cepat.

Kaspersky: Pertahanan Juga Harus Gunakan AI

Menghadapi ransomware berbasis AI dan malware AI, Kaspersky mendorong perusahaan menggunakan AI untuk memperkuat pertahanan.

Empat langkah utama yang disarankan adalah:

  1. Threat hunting berbasis AI untuk menemukan ancaman secara proaktif.
  2. Zero Trust untuk memverifikasi setiap permintaan akses.
  3. Pertahanan menyeluruh yang mencakup endpoint, jaringan, aplikasi, dan data.
  4. AI vs AI untuk mempercepat deteksi dan respons terhadap serangan.

Perkembangan JADEPUFFER dan SilverFox menunjukkan bahwa AI kini menjadi bagian penting dalam persaingan antara penyerang dan sistem keamanan siber.

Bagi perusahaan, memperbarui sistem keamanan, meningkatkan kesadaran terhadap phishing, serta memverifikasi aplikasi AI sebelum menginstalnya menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.

Scr/Mashable




Don't Miss