Perangkat Extended Reality (XR) dan kacamata pintar (smart glasses) kini resmi menjadi medan pertempuran teknologi keras (hardware) terbaru bagi para raksasa teknologi Tiongkok. Tak lagi sebatas pameran konsep, pabrikan Tiongkok gencar menyuntikkan kecerdasan buatan (AI), kamera canggih, hingga teknologi tampilan visual mutakhir ke dalam perangkat yang makin nyaman dipakai sehari-hari.
Kacamata XR dulu kerap dicap sebagai gadget mahal bertubuh bongsor yang cuma diminati kalangan tech-geek. Namun, peta persaingan berubah drastis.
Pasar dibanjiri kacamata AI dengan bobot kian ringan, harga yang makin masuk akal, serta kaya fitur seperti asisten suara cerdas dan pemrosesan gambar real-time.
Berdasarkan data CINNO Research, penjualan perangkat AI/AR konsumen di Tiongkok meroket 108 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal pertama. Khusus segmen kacamata AR terintegrasi (memiliki layar langsung di lensa), lonjakannya bahkan menembus angka fantastis 506 persen.
Sementara kacamata AI tanpa layar turut tumbuh pesat hingga 97 persen.
Garang Berinovasi: Dari Layar Pribadi hingga Asisten AI Visual
Produsen Tiongkok sukses mengecilkan komponen XR yang dulunya rumit menjadi sekadar bingkai kacamata bergaya kasual. Pengguna tak perlu lagi memakai headset berat—cukup mengenakan kacamata modis untuk menikmati layar virtual pribadi dari ponsel, laptop, hingga berinteraksi dengan AI.
Pabrikan XREAL menjadi salah satu pemain paling agresif. Lewat seri X By XREAL a01, mereka menyajikan kacamata seringan 62 gram berbekal layar Micro-OLED 1080p 120Hz dan penstabil gambar otomatis. Di kelas atas, XREAL menggamit Google untuk menggarap kacamata berplatform Android XR yang ditenagai dua chipset khusus dan model AI Google Gemini.
Kombinasi ini memungkinkan kacamata “memahami” apa yang sedang dilihat penggunanya secara langsung.
Pesaing lainnya, RayNeo, memadukan teknologi optik, kamera, algoritma SLAM, serta model AI multimodal. Hasilnya, kacamata tak sekadar menampilkan gambar, tetapi mampu membaca situasi sekitar, menerjemahkan bahasa secara real-time, hingga menjawab pertanyaan pengguna.
Laporan IDC mencatat segmen kacamata berlayar AR/VR tumbuh 86 persen secara global pada kuartal pertama. Meski Meta masih memimpin ceruk kacamata pintar dunia dengan pangsa pasar 69,2 persen, merek-merek asal Tiongkok seperti RayNeo, Xiaomi, dan XREAL kini mantap menembus jajaran papan atas.
Lepas Status ‘Tukang Rakit’, Tiongkok Unjuk Gigi Jadi Innovator
Meroketnya tren kacamata XR menjadi bukti pergeseran peran Tiongkok di kancah teknologi global. Negeri Tirai Bambu ini tak lagi sekadar menjadi “pabrik perakitan” bagi merek asing, melainkan memanfaatkan ekosistem rantai pasok lokal untuk merancang produk inovatif mereka sendiri.
Kondisi ini sejalan dengan analisis Kai-Fu Lee dalam bukunya AI Superpowers. Tiongkok dinilai bergerak sangat cepat dari penyerap teknologi menjadi pengembang dan komersialis produk baru berkat skala pasar yang masif, ketersediaan data, serta kecepatan eksekusi pabrikan lokal.
Media Xinhua melaporkan kacamata AI kini mulai menyasar konsumen umum. Perangkat ini marak dipakai untuk merekam aksi olahraga, membantu inspeksi teknis lapangan, hingga menjadi pemandu navigasi instan.
Kendati Meta masih mendominasi pasar kacamata AI kasual dan teknologi XR masih membutuhkan use-case pembunuh (killer app) agar diadopsi masyarakat luas, gebrakan pabrikan Tiongkok membuktikan satu hal: mereka kini memimpin kecepatan inovasi dalam menciptakan cara baru interaksi antara manusia dan komputer.
Scr/Mashable



















