Como kini bukan lagi cerita romantis tentang klub kecil di tepi danau yang sekadar menikmati Serie A setelah penantian panjang. Kemenangan 2-1 di kandang Napoli akhir pekan lalu membuat proyek milik Indonesia itu mulai masuk pembicaraan serius mengenai persaingan Scudetto musim 2026/27.
Di Stadion Diego Armando Maradona, Martin Baturina membuka skor pada menit ke-17 sebelum Rasmus Hojlund menyamakan kedudukan untuk Napoli. Tasos Douvikas kemudian memanfaatkan kesalahan pertahanan tuan rumah pada menit ke-35 untuk memastikan kemenangan yang terasa jauh lebih besar daripada tiga poin.
Hasil tersebut membawa Como mengoleksi empat poin dari dua laga setelah sebelumnya bermain 1-1 melawan Udinese pada pekan pembuka. Lebih penting lagi, kemenangan di Napoli memperlihatkan bahwa pasukan Cesc Fàbregas mampu bermain berani sekaligus bertahan pragmatis ketika keadaan pertandingan menuntut perubahan.
La Gazzetta dello Sport bahkan mulai menilai pembicaraan tentang Scudetto bukan lagi sesuatu yang tabu bagi Como setelah penampilan matang tersebut. Penilaiannya tidak hanya bertumpu pada satu kemenangan, tetapi pada perjalanan klub dari tim promosi hingga menjadi peserta Liga Champions dalam waktu sangat singkat.
Musim lalu menjadi lompatan terbesar ketika Como finis keempat Serie A dengan 71 poin, 20 kemenangan, dan 65 gol, semuanya merupakan rekor klub di kasta tertinggi. Posisi itu mengantar mereka ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah dan mengubah skala proyek secara drastis.
Pencapaian tersebut membuat label tim kejutan semakin sulit dipertahankan karena konsistensi mereka sudah berlangsung lebih dari satu musim. Jika sebelumnya lawan masih melihat Como sebagai pendatang baru berbahaya, sekarang mereka harus diperlakukan sebagai tim papan atas dengan struktur permainan dan sumber daya serius.
Como dan Revolusi Besar dari Kepemilikan Indonesia
Transformasi itu tidak dapat dipisahkan dari kepemilikan Indonesia yang mengambil alih klub melalui SENT Entertainment pada 2019 setelah periode sulit. Reuters mencatat keluarga Hartono berada di balik proyek tersebut, sementara situs resmi klub menempatkan Mirwan Suwarso sebagai presiden yang memimpin arah organisasi.
Investasi mereka tidak berhenti pada pembelian pemain karena Como dibangun sebagai proyek olahraga, komersial, dan pariwisata yang memanfaatkan daya tarik global Lake Como. Pendekatan jangka panjang tersebut memberikan fondasi pendapatan dan identitas yang membuat ekspansi sepak bola terasa lebih terencana daripada sekadar belanja besar.
Namun musim panas 2026 menunjukkan bahwa ambisi olahraga kini memasuki fase jauh lebih agresif setelah tiket Liga Champions diamankan. Gazzetta menghitung saldo transfer Como minus 145,3 juta euro, menempatkan klub kecil secara historis itu di antara pembelanja paling berani di Italia.
Daftar pemain yang datang juga memperlihatkan perubahan level target, mulai Moise Kean, Robert Sánchez, Samuele Ricci, Yan Couto, hingga Trevoh Chalobah. Mereka bukan sekadar prospek murah, melainkan pemain dengan pengalaman Serie A, Liga Inggris, Bundesliga, kompetisi Eropa, dan sepak bola internasional.
Kean datang dari Fiorentina melalui skema pinjaman dengan kewajiban pembelian permanen dan menawarkan profil penyerang yang sudah terbukti di Italia. Dalam dua musim terakhirnya di Florence, striker timnas Italia tersebut mencetak 27 gol liga, termasuk 19 pada musim 2024/25.
Robert Sánchez memberi opsi berbeda di bawah mistar karena pengalamannya bersama Chelsea dan lebih dari 170 penampilan di Liga Inggris. Fàbregas secara terbuka menyoroti kenyamanannya memainkan bola dari belakang, kualitas yang sangat relevan dalam sistem Como yang mengandalkan pembangunan serangan terstruktur.
Ricci juga bukan rekrutan kosmetik karena gelandang Italia itu sudah memiliki lebih dari 200 penampilan senior dan memahami detail permainan Serie A. Kemampuan mengatur tempo dan menjaga sirkulasi menawarkan lapisan kontrol tambahan ketika Como harus membagi fokus antara kompetisi domestik dan Liga Champions.
Yan Couto membawa kecepatan, keberanian, dan kualitas teknik dari sisi kanan setelah sebelumnya bermain di Girona serta Borussia Dortmund. Sementara Chalobah memberikan fisik dan pengalaman bertahan di level tinggi, membuat kedalaman skuad Fàbregas semakin mendekati standar tim yang mengejar empat besar.
Meski demikian, belanja besar saja tidak menjelaskan mengapa Como mulai terlihat sebagai ancaman nyata karena Serie A sudah sering melihat proyek mahal gagal menghasilkan identitas. Pembeda utamanya adalah Fàbregas memiliki gagasan permainan yang sudah terbentuk sebelum skuad diperkuat secara agresif.
Cesc Fàbregas Membuat Como Indah sekaligus Pragmatis
Dalam fase awal proyeknya, pelatih asal Spanyol itu membangun Como dengan penguasaan bola, pressing tinggi, dan kombinasi pendek yang bertujuan menarik lawan keluar. Opta mencatat musim lalu mereka memiliki penguasaan bola tertinggi di Serie A pada fase pengamatan, mencapai 60,4 persen.
Angka tersebut penting karena menunjukkan Como bukan tim reaktif yang hanya menunggu kesalahan lawan atau hidup dari serangan balik. Como berusaha mengontrol ruang melalui bola, memancing tekanan, menciptakan keunggulan jumlah, kemudian mempercepat progresi ketika jalur vertikal terbuka.
Filosofi Como itu juga menghasilkan pertahanan yang mengejutkan karena penguasaan bola mereka bukan sekadar ornamen estetis tanpa perlindungan. Menjelang akhir musim lalu, Como tercatat sebagai pertahanan terbaik Serie A dan akhirnya menutup kompetisi dengan hanya 29 gol kebobolan.
Perubahan paling menarik terlihat ketika membandingkan dua kunjungan berbeda ke Maradona dalam perjalanan Fàbregas bersama klub. Pada pertemuan sebelumnya, Como mampu menguasai fase tertentu dengan pressing dan permainan berani, tetapi kesalahan defensif akhirnya membuat mereka dihukum 3-1.
Kali ini tim yang sama secara filosofis menunjukkan kedewasaan berbeda setelah unggul dan menghadapi tekanan Napoli pada babak kedua. Fàbregas tidak memaksakan satu bentuk permainan, melainkan mengubah struktur menjadi tiga bek lalu menutup pertandingan dengan formasi 5-4-1 yang jauh lebih konservatif.
Di situlah narasi tentang keindahan permainan bertemu pragmatisme Italia, karena Como kini tidak hanya tahu bagaimana mendominasi tetapi juga bagaimana menderita. Kemampuan mengganti pendekatan tanpa kehilangan organisasi merupakan kualitas penting bagi tim yang ingin bertahan dalam persaingan gelar sepanjang musim.
Napoli sebenarnya meningkatkan tekanan setelah jeda dan memasukkan beberapa pemain untuk mencari gol penyama, tetapi Como tidak kehilangan kepala. Mereka mengurangi risiko, merapatkan ruang, dan memilih momen transisi dengan lebih selektif hingga mampu mempertahankan keunggulan sampai peluit akhir.
Kemenangan tersebut juga menunjukkan perkembangan mental karena Maradona bukan tempat yang mudah untuk mempertahankan keunggulan tipis menghadapi tim berpengalaman. Como tidak tampil seperti tamu yang puas membawa pulang satu poin, melainkan tim yang merasa memiliki hak bersaing dan memenangkan pertandingan besar.
Karakter itu ditopang Nico Paz, Baturina, Douvikas, Assane Diao, serta pemain-pemain baru yang meningkatkan variasi tanpa menghapus fondasi lama. UEFA bahkan menempatkan Paz sebagai pemain kunci setelah ia menghasilkan 12 gol dan tujuh assist pada Serie A musim 2025/26.
Presiden Mirwan Suwarso tetap memilih meredam euforia ketika pembicaraan Scudetto mulai membesar setelah kemenangan di Napoli. Kepada Gazzetta, ia menegaskan musim masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan dan klub hanya ingin terus berkembang sambil menikmati setiap tahap perjalanan.
Budaya tenang itu juga terlihat setelah pertandingan ketika Nico Paz berhenti melayani foto dan tanda tangan pendukung Napoli sebelum meninggalkan stadion. Baturina dan Douvikas kemudian merayakan kemenangan di media sosial, tetapi penekanannya tetap pada pencapaian kolektif dan tiga poin.
Sikap tersebut masuk akal karena empat poin setelah dua pertandingan belum dapat menjadi dasar statistik untuk memprediksi gelar. Inter, Milan, Juventus, Napoli, dan klub tradisional lain mempunyai skuad berpengalaman, sementara Como menghadapi tuntutan tambahan dari Liga Champions untuk pertama kalinya.
Como Penantang Scudetto? Ujian Sebenarnya Baru Dimulai
Kompetisi Eropa dapat menjadi ujian paling berat karena ritme pertandingan tengah pekan akan mengurangi waktu latihan yang selama ini penting bagi Fàbregas. Kedalaman skuad memang bertambah, tetapi rotasi dan pengelolaan kondisi pemain akan menentukan apakah kualitas permainan bertahan sampai musim semi.
Jadwal Liga Champions juga mengubah tekanan psikologis karena Como kini menghadapi lawan elite sambil tetap diharapkan konsisten di Serie A. Stadion Giuseppe Sinigaglia bahkan telah mendapatkan persetujuan untuk menggelar laga kandang Eropa, menandai perubahan status klub secara simbolis maupun kompetitif.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah pengeluaran besar mampu menghasilkan produktivitas serangan yang cukup untuk benar-benar mengejar Scudetto. Musim lalu pertahanan Como menjadi salah satu kekuatan utama, tetapi perebutan gelar biasanya menuntut kemampuan mengubah pertandingan seimbang menjadi kemenangan secara rutin.
Kean dapat menjadi jawaban ketika ia tersedia penuh karena kekuatan fisik, kecepatan, dan pengalaman mencetak golnya memberikan alternatif dari karakter Douvikas. Kehadiran dua penyerang dengan profil berbeda membuat Fàbregas dapat menyesuaikan struktur serangan tanpa kehilangan ancaman di kotak penalti.
Ricci dan Sánchez juga berpotensi meningkatkan kemampuan Como mengontrol pertandingan, terutama ketika lawan mencoba menekan tinggi dan memutus jalur pembangunan serangan. Jika mereka beradaptasi cepat, Como akan memiliki lebih banyak pemain yang nyaman mengambil keputusan dalam situasi tekanan tinggi.
Pada akhirnya, menyebut Como kandidat Scudetto sekarang tetap membutuhkan kehati-hatian karena musim baru memasuki tahap awal dan sampelnya sangat kecil. Namun menolak kemungkinan itu sepenuhnya juga semakin sulit setelah melihat hasil, kualitas permainan, investasi, kedalaman skuad, dan perkembangan mereka selama dua tahun terakhir.
Klub yang baru kembali ke Serie A setelah 21 tahun kini sudah berada di Liga Champions dan mampu menang di kandang Napoli. Perjalanan tersebut menjelaskan mengapa Como tidak lagi dipandang sebagai dongeng, melainkan proyek sepak bola modern yang mulai mengusik hierarki tradisional Italia.
Jika Fàbregas mampu menjaga keseimbangan antara keberanian menyerang dan pragmatisme seperti yang diperlihatkan di Napoli, peluang mereka bertahan di papan atas sangat terbuka. Scudetto masih terlalu jauh untuk dijanjikan, tetapi untuk pertama kalinya menyebut Como dalam percakapan itu terdengar sepenuhnya masuk akal.
Scr/Mashable















