Apple Rilis iPhone Lipat Pertama Rp30 Jutaan: Sebenarnya Siapa yang Mau Beli?

11.09.2026
Apple Rilis iPhone Lipat Pertama Rp30 Jutaan: Sebenarnya Siapa yang Mau Beli?
Apple Rilis iPhone Lipat Pertama Rp30 Jutaan: Sebenarnya Siapa yang Mau Beli?

Apple akhirnya memasuki pasar foldable iPhone alias smartphone lipat melalui iPhone Duo, perangkat baru yang dibanderol mulai US$1.999 atau sekitar Rp35 jutaan di Amerika Serikat. Namun, harga tinggi justru memunculkan pertanyaan besar mengenai siapa sebenarnya konsumen yang dibidik Apple.

Perusahaan memperkenalkan iPhone Duo dalam acara besar di Cupertino, California, Rabu waktu setempat. Peluncuran tersebut menjadi salah satu langkah produk terbesar Apple sekaligus debut penting di bawah kepemimpinan CEO baru, John Ternus.

Apple memamerkan kemampuan iPhone Duo menjalankan berbagai aplikasi populer seperti Zoom, Slack, dan Netflix melalui layar lebih luas setelah perangkat dibuka. Smartphone tersebut diposisikan mampu digunakan untuk bekerja, membuat konten, hingga menikmati hiburan.

Ternus menyebut layar lebih besar pada iPhone Duo menawarkan pengalaman yang terasa alami dan intuitif seperti menggunakan iPad. Apple juga melihat format tersebut sebagai peluang menjadikan perangkat sebagai pusat penggunaan kecerdasan buatan pribadi bagi penggunanya.

Namun, satu pertanyaan justru muncul setelah presentasi berakhir. Apple tidak menjelaskan dengan gamblang kelompok konsumen seperti apa yang diharapkan bersedia membayar hampir US$2.000 untuk model termurahnya.

Untuk varian iPhone Duo dengan kapasitas penyimpanan tertinggi, harganya bahkan mencapai US$3.199 di pasar Amerika Serikat. Nilai tersebut membuat perangkat ini masuk kategori smartphone dengan harga sangat premium.

Carolina Milanesi, analis Creative Strategies, menilai Apple kali ini terlihat menghindari penjelasan spesifik mengenai konsumen sasaran produknya.

“Apple biasanya memang tidak secara khusus menentukan siapa pembelinya, tetapi dalam kasus ini mereka benar-benar menghindarinya,” kata Milanesi, seperti dilansir Reuters, Jumat, (11/09/2026).

iPhone Duo Canggih, tetapi untuk Kerja atau Hiburan?

Persoalan positioning menjadi salah satu sorotan utama dalam peluncuran iPhone Duo. Apple menunjukkan perangkat tersebut mampu mengakomodasi pekerjaan, hiburan, hingga penggunaan aplikasi kecerdasan buatan, tetapi tidak menentukan satu kebutuhan utama yang ingin diselesaikan.

Neil Shah, Vice President Counterpoint Research, menilai terdapat celah dalam cara Apple memposisikan smartphone lipat pertamanya tersebut.

Menurut Shah, belum terlihat jelas apakah iPhone Duo terutama diperuntukkan bagi produktivitas atau justru hiburan. Namun, fleksibilitas memang sejak lama menjadi salah satu karakter utama iPhone.

Kondisi ini berbeda dengan beberapa peluncuran produk penting Apple sebelumnya. Ketika Steve Jobs memperkenalkan iPad pada 2010, Apple secara jelas menggambarkannya sebagai kategori perangkat baru untuk mengonsumsi media dan menikmati hiburan.

Lima tahun kemudian, CEO Apple saat itu, Tim Cook, memberikan identitas lebih spesifik kepada iPad Pro. Tablet tersebut diarahkan sebagai perangkat yang menyasar profesional kreatif.

Apple Watch juga mengalami perjalanan serupa. Produk yang pada awalnya diperkenalkan dengan pendekatan fashion kemudian berkembang menjadi perangkat yang erat dengan aktivitas kesehatan dan kebugaran.

Sebaliknya, Apple pernah mengalami masalah positioning ketika meluncurkan Vision Pro pada 2023. Headset augmented reality itu mendapat pujian karena teknologinya, tetapi harga mahal dan manfaat yang belum terlihat jelas di luar hiburan membatasi daya tariknya.

Kekhawatiran serupa sekarang muncul terhadap iPhone Duo. Smartphone tersebut menawarkan teknologi menarik, tetapi harga tinggi dapat membuatnya hanya dinikmati konsumen kaya serta penggemar teknologi yang gemar membeli perangkat generasi pertama.

Pasar ponsel lipat sendiri hingga sekarang masih relatif kecil dibandingkan smartphone konvensional. International Data Corporation atau IDC memperkirakan perangkat lipat hanya akan menguasai kurang dari 3 persen pasar smartphone global sepanjang 2026.

IDC bahkan belum memperkirakan perubahan berarti terhadap pangsa tersebut pada 2027 meski iPhone Duo telah masuk ke pasar.

Data tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi Apple. Smartphone lipat sudah tersedia selama beberapa tahun, tetapi kategori tersebut belum benar-benar berhasil menjadi pilihan utama konsumen global.

Apple Tetap Diprediksi Jual Jutaan iPhone Duo

Meski harga dan target konsumen menjadi pertanyaan, kekuatan merek Apple tetap diperkirakan mampu menciptakan permintaan besar pada tahap awal penjualan.

Counterpoint memperkirakan Apple berpotensi menjual hampir 6 juta unit iPhone Duo hingga akhir 2026. Permintaan yang selama ini tertahan dari pengguna iPhone dinilai cukup besar untuk menopang penjualan generasi pertamanya.

Jika perkiraan tersebut terwujud, Apple bisa langsung menguasai sekitar seperempat pasar smartphone lipat global hanya beberapa bulan setelah meluncurkan produk pertama.

Angka itu terbilang signifikan karena Apple masuk ke pasar yang selama bertahun-tahun telah ditempati Samsung, Google, Huawei, dan sejumlah produsen lainnya.

Samsung menjadi pemain paling berpengalaman setelah mulai menjual smartphone lipat sejak 2019. Produsen asal Korea Selatan tersebut saat ini menguasai sekitar 40 persen pasar perangkat lipat berdasarkan data Counterpoint.

Perjalanan Samsung juga tidak selalu berjalan mulus. Generasi awal smartphone lipat perusahaan tersebut pernah diterpa masalah layar rusak dan komponen terkelupas hingga muncul istilah “foldgate”.

Samsung kemudian terus memperbaiki teknologinya hingga smartphone lipat menjadi salah satu lini penting dalam portofolio perusahaan.

Pada Juli 2026, Samsung memperkenalkan desain smartphone lipat baru dengan format lebih lebar menyerupai paspor. Perangkat tersebut diklaim mencatat performa penjualan lebih kuat dibandingkan beberapa generasi pendahulunya.

Masuknya iPhone Duo bahkan langsung memicu perang pemasaran antara dua raksasa smartphone dunia tersebut.

Samsung meluncurkan kampanye untuk menyambut kehadiran Apple di pasar perangkat lipat dengan sindiran tajam. Perusahaan menyebut Apple seperti sedang “memanaskan kembali sisa makanan kami”, merujuk pada teknologi lipat yang sudah lama ditawarkan Samsung.

Sindiran itu menggambarkan bagaimana Apple kini berada dalam posisi berbeda. Perusahaan bukan lagi pembuka kategori baru, melainkan pemain yang masuk ketika kompetitor telah lebih dahulu mengembangkan produk serupa selama bertahun-tahun.

Meski begitu, masuknya Apple diperkirakan memberikan dorongan besar terhadap seluruh industri smartphone lipat.

Firma riset teknologi Omdia memperkirakan pengiriman smartphone lipat global akan mencapai 22,3 juta unit pada 2026. Kehadiran Apple diproyeksikan menciptakan pertumbuhan tahunan terbesar pada kategori tersebut sejak 2021.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa peluncuran iPhone Duo sangat diperhatikan industri. Bahkan apabila tidak langsung menjadi produk massal, perangkat Apple berpotensi meningkatkan perhatian konsumen terhadap seluruh kategori smartphone lipat.

Namun, pasar ini masih menghadapi persoalan lama. Pertumbuhan smartphone lipat dalam beberapa tahun terakhir melambat karena perangkat tersebut kesulitan menembus pasar pengguna umum di luar kelompok konsumen niche.

Harga tinggi menjadi salah satu hambatan terbesar. Kondisi tersebut semakin terlihat pada iPhone Duo, yang harga awalnya bahkan sudah berada di level premium.

Bob O’Donnell, Chief Analyst TECHnalysis Research, menilai harga tersebut mempersempit calon pembeli, terutama konsumen muda.

Namun, basis penggemar loyal Apple diyakini akan membantu penjualan awal iPhone Duo, terutama ketika pasokan perangkat masih terbatas.

“Itu akan menjadi sesuatu yang sangat diinginkan,” kata O’Donnell.

Menurutnya, iPhone Duo kemungkinan akan menjadi simbol status setidaknya pada periode awal peluncurannya karena perangkat diperkirakan sulit diperoleh.

Fenomena tersebut bukan hal baru bagi Apple. Produk generasi pertama dengan desain berbeda sering menarik konsumen fanatik yang ingin menjadi kelompok pertama memiliki teknologi terbaru.

Kondisi itu dapat membuat iPhone Duo tetap mencatat penjualan jutaan unit tanpa harus langsung menjangkau pengguna smartphone secara massal.

Namun, tantangan sebenarnya kemungkinan baru muncul setelah euforia peluncuran mereda. Apple harus membuktikan alasan konsumen biasa perlu membayar jauh lebih mahal dibandingkan membeli iPhone konvensional.

Apple juga perlu menjawab pertanyaan apakah layar lipat benar-benar menghadirkan pengalaman baru yang cukup penting atau hanya menawarkan bentuk perangkat berbeda.

Keberhasilan jangka panjang iPhone Duo pada akhirnya mungkin ditentukan bukan oleh seberapa banyak pengguna Apple mengantre saat produk pertama dijual, tetapi apakah perusahaan mampu membuat smartphone lipat terasa sebagai kebutuhan.

Dengan harga mulai US$1.999 dan mencapai US$3.199 untuk varian penyimpanan tertinggi, hambatan masuknya jelas tidak kecil.

Untuk sekarang, kekuatan merek Apple kemungkinan cukup membuat iPhone Duo menjadi barang yang banyak dibicarakan, diburu penggemar teknologi, sekaligus menjadi simbol status baru.

Namun, pertanyaan senilai US$1.999 tetap belum terjawab sepenuhnya: apakah iPhone Duo akan menjadi awal era baru iPhone, atau justru perangkat mahal yang hanya diminati segelintir pengguna?

Scr/Mashable




Don't Miss