
China mulai meninggalkan Amerika Serikat dalam adopsi kecerdasan buatan di tingkat konsumen, meskipun perusahaan AS masih memimpin pengembangan sejumlah model AI tercanggih dunia. Survei Morgan Stanley mencatat 80 persen konsumen China menggunakan AI setidaknya sekali setiap pekan.
Angka itu jauh melampaui Amerika Serikat yang hanya mencapai 54 persen dalam survei yang sama, menciptakan selisih 26 poin persentase. Keunggulan AI China terutama didorong integrasi kecerdasan buatan ke aplikasi belanja, pesan, pencarian, hiburan, perjalanan, dan pembayaran yang sudah digunakan masyarakat.
Laporan Morgan Stanley yang dipublikasikan Senin menyebut kekuatan China bukan terutama datang dari keunggulan model frontier dibandingkan Amerika Serikat. Sebaliknya, AI China berkembang cepat karena perusahaan teknologi memasukkan fitur generatif langsung ke platform yang telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari konsumen.
Basis pengguna AI generatif di China juga melonjak tajam hanya dalam satu tahun, dari sekitar 249 juta pengguna pada Desember 2024 menjadi 602 juta pada Desember 2025. Pertumbuhan tersebut bahkan disebut berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan awal internet seluler dalam periode sebanding.
Dilansir South China Morning Post, Rabu, (16/09/2026), Morgan Stanley melihat kebiasaan digital masyarakat China menjadi salah satu faktor utama percepatan tersebut. Pengguna tidak perlu mengubah pola aktivitas mereka karena AI China hadir langsung di dalam layanan yang sudah mereka gunakan.
Berbeda dengan pola aplikasi AI mandiri, konsumen di China dapat menggunakan teknologi generatif ketika berbelanja, mencari informasi, memesan perjalanan, melakukan pembayaran, atau menikmati konten hiburan. Pendekatan itu memangkas satu hambatan besar, yakni kebutuhan mengunduh serta mempelajari aplikasi terpisah.
AI China Meledak lewat Doubao dan Qwen
ByteDance menjadi salah satu pemain terbesar melalui Doubao, aplikasi AI yang memperoleh keuntungan distribusi dari ekosistem Douyin, saudara TikTok untuk pasar domestik China. Menurut data QuestMobile yang dikutip Morgan Stanley, Doubao mencapai sekitar 399 juta pengguna aktif bulanan pada Juli 2026.
Angka tersebut membuat Doubao menjadi pemimpin di antara aplikasi AI native di China dan memperlihatkan besarnya pengaruh distribusi ByteDance. AI China dalam kasus ini tidak berkembang secara terisolasi karena ByteDance dapat menghubungkannya dengan ekosistem konten yang sudah memiliki basis pengguna raksasa.
Posisi berikutnya ditempati Qwen milik Alibaba dengan sekitar 161 juta pengguna aktif bulanan berdasarkan data yang digunakan Morgan Stanley. Namun, strategi Alibaba tidak berhenti pada chatbot karena Qwen diarahkan menjadi AI agent yang dapat mengerjakan berbagai aktivitas nyata di dalam ekosistem perusahaan.
Qwen dapat terhubung dengan layanan perdagangan elektronik, pemesanan perjalanan, navigasi, hingga pembayaran yang berada dalam jaringan bisnis Alibaba. Struktur tersebut membuat AI China semakin dekat dengan transaksi ekonomi karena teknologi tidak hanya memberikan jawaban, tetapi mulai diarahkan untuk membantu pengguna menyelesaikan tindakan.
Taobao, misalnya, telah mengintegrasikan Qwen dalam pengalaman belanja sehingga konsumen dapat menggunakan percakapan berbasis AI ketika mencari dan mempertimbangkan sebuah produk. Bagi Alibaba, integrasi tersebut membuka peluang mengubah penggunaan AI menjadi transaksi tanpa harus memindahkan konsumen ke aplikasi lain.
Keuntungan seperti itu sulit diperoleh aplikasi mandiri yang tidak mempunyai jaringan perdagangan, pembayaran, dan layanan konsumen sendiri. Morgan Stanley karena itu melihat perusahaan teknologi lama dengan distribusi kuat berada dalam posisi paling menguntungkan ketika gelombang AI China semakin besar.
Tencent menjadi contoh lain karena perusahaan tersebut mempunyai WeChat, salah satu super app terbesar dan paling melekat dalam kehidupan masyarakat China. Platform itu menggabungkan pesan, jejaring sosial, pembayaran, Mini Programs, layanan publik, belanja, serta berbagai fungsi digital lainnya.
Morgan Stanley menilai kehadiran AI justru berpotensi memperkuat ekosistem WeChat, bukan menggantikannya dengan aplikasi AI baru. Dengan basis sosial, transaksi, dan pembayaran yang sudah tersedia, Tencent mempunyai jalur untuk membawa AI China kepada pengguna tanpa memulai dari nol.
Satu Pengguna Bisa Memakai Lima Aplikasi AI
Persaingan pasar juga tidak menghasilkan satu aplikasi tunggal yang menguasai seluruh kebutuhan konsumen karena masyarakat China cenderung menggunakan beberapa layanan sekaligus. Morgan Stanley mencatat 64 persen responden menggunakan sedikitnya lima perangkat atau layanan AI berbeda.
Fenomena tersebut disebut multi-homing, yakni pengguna berpindah di antara berbagai aplikasi sesuai kebutuhan tanpa merasa terikat kepada satu penyedia. Kondisi itu memperlihatkan persaingan AI China tidak otomatis berkembang menjadi pola pemenang mengambil seluruh pasar seperti beberapa sektor teknologi sebelumnya.
Biaya berpindah antarplatform relatif rendah karena sebagian besar layanan dasar AI masih diberikan secara gratis, baik di China maupun Amerika Serikat. Pengguna dapat membandingkan hasil Doubao, Qwen, atau layanan lainnya tanpa kehilangan investasi besar ketika berpindah dari satu aplikasi.
Situasi tersebut justru semakin menguntungkan perusahaan pemilik super app karena mereka tidak harus memaksa konsumen menggunakan satu chatbot sepanjang waktu. AI China dapat ditempatkan sebagai fitur di titik tertentu ketika pengguna sedang berbelanja, bepergian, menonton, mencari informasi, atau melakukan pembayaran.
Morgan Stanley melihat kendali atas permintaan pengguna, data eksklusif, serta transaksi menjadi modal strategis yang semakin penting. Perusahaan yang telah mempunyai ketiga elemen tersebut dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan aktivitas yang sebelumnya sudah menghasilkan uang.
Alibaba tetap menjadi salah satu saham pilihan utama Morgan Stanley berkat kemampuan teknologi yang mencakup berbagai lapisan, termasuk model AI dan perdagangan digital. Namun, analis bank tersebut tetap lebih berhati-hati terhadap prospek investasi aplikasi Qwen yang berdiri sendiri.
Pandangan itu menunjukkan nilai terbesar AI China mungkin bukan berada pada chatbot mandiri, tetapi pada kecerdasan buatan yang disisipkan ke bisnis yang sudah mempunyai konsumen. Teknologi kemudian berfungsi meningkatkan konversi, mempercepat transaksi, dan memperkuat keterikatan pengguna terhadap ekosistem perusahaan.
Meituan dan sejumlah perusahaan perjalanan daring juga dianggap berada dalam posisi menarik karena memiliki tingkat konversi tinggi dengan tambahan biaya akuisisi pengguna yang relatif rendah. AI dapat membantu konsumen mengambil keputusan kemudian langsung mengeksekusi pembelian melalui platform yang sama.
Amerika Masih Unggul di Model Frontier
Lonjakan penggunaan tersebut tidak berarti China telah mengambil seluruh kepemimpinan kecerdasan buatan dari Amerika Serikat. Morgan Stanley secara khusus membedakan dominasi AI China di tingkat distribusi konsumen dengan kemampuan model frontier, area yang masih mempunyai keunggulan kuat dari perusahaan Amerika.
Perusahaan seperti OpenAI, Google, Anthropic, Meta, dan pemain Amerika lainnya masih menjadi pusat perlombaan pengembangan model yang mendorong kemampuan AI semakin tinggi. Namun, kecanggihan teknis tidak otomatis membuat adopsi konsumen berlangsung lebih cepat apabila teknologi tidak tertanam dalam kebiasaan digital sehari-hari.
Temuan Morgan Stanley karena itu mengubah cara melihat persaingan Amerika Serikat dan China karena perlombaan AI tidak hanya ditentukan benchmark atau kemampuan model. Distribusi, basis pengguna, transaksi, dan kemampuan memasukkan teknologi ke aktivitas sehari-hari kini menjadi medan persaingan yang sama pentingnya.
China memiliki keuntungan struktural karena model super app sudah berkembang jauh sebelum ledakan AI generatif dimulai. Ketika AI China muncul, perusahaan tidak perlu membangun infrastruktur distribusi dari awal karena konsumen sudah berada di WeChat, Douyin, Taobao, Meituan, dan layanan digital lainnya.
Amerika Serikat memiliki karakter ekosistem berbeda karena aktivitas digital konsumen lebih tersebar di antara sejumlah layanan khusus. Pesan, belanja, transportasi, pembayaran, pencarian, serta media sosial biasanya tidak terkonsentrasi dalam satu super app dengan tingkat integrasi sebesar yang ditemukan di China.
Perbedaan tersebut membuat strategi distribusi China semakin relevan karena pengguna tidak merasa sedang mengadopsi teknologi baru setiap kali memakai fitur AI. AI China dapat hadir secara tersembunyi di balik rekomendasi belanja, pencarian, layanan pelanggan, perencanaan perjalanan, ataupun interaksi aplikasi lainnya.
Bagi perusahaan teknologi, kondisi tersebut berarti ukuran kemenangan AI tidak dapat hanya dihitung berdasarkan jumlah unduhan sebuah chatbot. Frekuensi penggunaan, jumlah transaksi, peningkatan penjualan, serta kemampuan AI menyelesaikan pekerjaan pengguna berpotensi menjadi ukuran yang jauh lebih penting.
Super App Jadi Senjata Utama AI China
Laporan Morgan Stanley memperlihatkan perubahan besar dalam fase berikutnya perlombaan kecerdasan buatan karena distribusi mulai menentukan siapa yang paling cepat mendapatkan pengguna. China mempunyai senjata kuat melalui super app yang telah menyatukan banyak aktivitas digital dalam satu ekosistem.
Basis pengguna AI China yang melompat dari 249 juta menjadi 602 juta dalam satu tahun memperlihatkan skala perubahan tersebut. Pertumbuhan lebih dari dua kali lipat itu juga menunjukkan kecerdasan buatan mulai bergerak dari teknologi eksperimental menuju layanan yang digunakan secara rutin masyarakat.
Angka penggunaan mingguan 80 persen menjadi indikator yang bahkan lebih penting karena menunjukkan AI tidak hanya pernah dicoba oleh pengguna China. Teknologi tersebut mulai menjadi bagian dari aktivitas personal secara berulang, sementara Amerika Serikat berada jauh di bawahnya dengan tingkat 54 persen.
China kini menunjukkan bahwa memenangkan konsumen AI tidak selalu membutuhkan model dengan kemampuan benchmark tertinggi di dunia. AI China membuktikan distribusi melalui aplikasi yang sudah digunakan ratusan juta orang dapat mempercepat adopsi dengan cara yang sulit ditandingi aplikasi mandiri.
Persaingan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengubah penggunaan tersebut menjadi layanan bernilai ekonomi tanpa membuat pengalaman konsumen semakin rumit. Tencent, Alibaba, ByteDance, Meituan dan perusahaan perjalanan China sudah mempunyai jalur langsung dari rekomendasi AI menuju transaksi.
Bagi Amerika Serikat, perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa keunggulan pada model frontier saja mungkin tidak cukup untuk memenangkan seluruh lapisan pasar. Kualitas teknologi harus bertemu dengan distribusi apabila perusahaan ingin mengubah kecanggihan AI menjadi penggunaan massal yang berlangsung setiap hari.
Untuk sementara, data Morgan Stanley menunjukkan AI China telah memenangkan satu medan penting dalam perlombaan tersebut, yakni adopsi konsumen. Amerika masih mempunyai keunggulan teknologi frontier, tetapi China telah membuktikan bahwa super app dapat menjadi mesin penyebaran AI dengan skala luar biasa.
Scr/Mashable





















