Jujur aja, kalau bicara soal peta musik elektronik atau post-punk di Indonesia, radar gue jarang banget mengarah ke kota sendiri (palingan RBA—itu juga electronic pop). Biasanya, narasi bising macam ini monopoli anak-anak Lampung yang kebanyakan merokok di kafe samping Masjid Al-Bakrie, atau skena Bandar Lampung yang pretentious di PKOR.
Tapi terus file audio bernama “Redam” mendarat di email gue.
Ini bukan post-punk cantik yang biasa diputar di kafe-kafe yang di sono biar kelihatan edgy. Dizrobot—duo Anthony Caesar dan Bagus Anggoro asal Bandar Lampung ini—terdengar lebih kotor. Gue barusan dengerin treknya. Itu; itu kayak simulasi serangan panik. Gue dengar kick drum yang menumpuk kayak detak jantung orang yang kebanyakan ngopi, plus layer synthesizer dingin yang bikin gue ingat suasana nunggu Travel Mobil di Gudang Garam-Teluk Betung pas lagi hujan deras—basah, suram, dan bikin pengen pulang tapi enggak tahu pulang ke mana.
Vokal Anthony kedengaran kayak orang yang udah nyerah debat sama tembok, sementara gitar Bagus mengisi ruang-ruang kosong dengan tekstur yang bikin kuping berdenging. Katanya sih ini “Electronic Noise”, tapi gue merasa ini lebih kayak pop yang dibakar setengah matang.
Sekarang, gue tanya mereka lewat WAG (WhatsApp Group) buat membedah kekacauan ini. Ya, walaupun cuma si Anthony doang yang jawab—klasik.
HK: Oke, Dizrobot. Langsung aja. Gue abis dengar “Redam”. Impresi pertama gue: ini lagu kedengaran kayak “lagu joget” buat orang-orang yang kakinya berat buat melangkah. Ada energi meledak di situ, tapi ketahan banget, kayak orang mau teriak tapi mulutnya dibekap bantal.
Pertanyaan gue simpel tapi mungkin agak menyebalkan: Kenapa harus “Noise”? Maksud gue, lo berdua dari Bandar Lampung. Orang sini biasanya santai, ngopi, nongkrong di Nuju atau Faste, hidup selow. Kenapa kalian malah milih jalan ribet dengan bikin musik yang, maap to say, terdengar kayak suara kulkas rusak yang dikasih beat diskotik lorong? Apa hidup di Lampung se-membosankan itu sampai kalian perlu bikin kiamat sendiri?
Anthony: Kenapa noise? Karena kalau kami tenang, enggak jadi band. Lampung memang santai, makanya kami butuh sesuatu buat merasa hidup. Noise itu kayak kopi pahit—enggak semua orang suka, tapi yang cocok bakal melek. Jadi ini bukan soal bikin kiamat, ini cuma cara kami biar enggak ketiduran di hidup sendiri.
HK: Oke, analogi kopi pahit. Klasik, tapi gue beli argumen itu. Biar enggak mati rasa di kota yang terlalu santuy ini, kan?
Cuma gini, Anthony. Gue menangkap ada kontradiksi menarik—atau mungkin ironi—di sini. Lo bilang tujuannya biar “melek”, tapi eksekusi vokal lo di “Redam” itu… broh, itu kedengaran kayak orang yang justru udah nyerah sama keadaan. Lo nyanyi kayak lagi mengigau, “lesu”, sementara musik di belakang lo—terutama kick drum-nya—itu menghajar terus kayak tagihan pinjol yang enggak kelar-kelar.
Apa memang itu yang mau lo berdua sampaikan? Bahwa “melek” versi Dizrobot itu bukan berarti loncat-loncat girang, tapi lebih ke sadar kalau lo lagi terjebak di situasi yang stuck?
Anthony: Iya, benar. “Melek” versi gue bukan bangun terus joget. Lebih ke bangun terus sadar—oh, gue terjebak ya. Vokal yang lesu itu sengaja; itu suara orang yang sudah capek tapi belum bisa kabur. Sementara kick yang menghajar itu hidupnya: tagihan jalan, waktu jalan, tekanan jalan, walaupun orangnya pengen pause. Buat kami, sadar itu enggak selalu bikin semangat. Kadang justru bikin lo diam, bengong, tapi akhirnya jujur sama kondisi sendiri.
![Ketika Bandar Lampung Terlalu Santuy, DIZROBOT Memilih Merakit Kiamat Kecil di Kamar Tidur 2 DIZROBOT [F.\nalnoise]](https://hellokepsir.com/storage/2025/12/Pi7_Image_Tool-1024x683.jpg)
HK: Di catatan rilis, lo sempat menyebut soal perasaan kayak “aplikasi yang nge-lag”. Gue rasa anak-anak muda di Bandar Lampung atau kota Kemiling (Kemiling udah jadi kota kan?) paham rasanya, tapi gue pengen tahu versi Dizrobot. Seberapa kacau sih isi kepala lo pas nulis lirik ini? Ceritain momen spesifiknya—jangan jawaban diplomatis—kapan lo merasa hidup lo nge-glitch kayak gitu?
Anthony: Kemiling sekarang sudah ada restoran fast food, tinggal tunggu bioskop aja, hahaha. Gini, glitch-nya itu pas hidup kelihatan normal tapi rasanya kayak NPC. Bangun, kerja, nongkrong, tidur, enggak crash, tapi enggak jalan juga. Kayak aplikasi yang enggak force close, cuma nge-lag selamanya. “Redam” gue tulis di fase itu; belum hancur, tapi udah males diselamatin.
HK: Mampus, itu deskripsi yang brutal tapi akurat. “Belum hancur, tapi udah males diselamatin.” Itu quote bakal gue taruh di headline kayaknya asyik nih. Dan soal Kemiling… hahay, gue bisa bayangin absurditasnya. Makan ayam goreng franchise di pinggiran kota yang sebenarnya masih sepi kalau enggak ada Warkomunal, merasa jadi NPC di game simulasi kota yang developer-nya udah cabut.
Tapi ngomongin soal rasa “males” itu, gue mau nyerempet ke lirik lo. Gue barusan dengerin lirik “Redam”. Ton, ini irit banget. Lo bilang “kepala beku, aku diam, aku bisu”, terus masuk ke chorus yang isinya cuma pengulangan “Tenggelam lagi” sampai kuping gue penuh.
Pertanyaan gue agak jahat nih: Apakah repetisi ini emang representasi dari “aplikasi yang nge-lag” tadi—di mana lo terjebak di loop yang sama terus-terusan—atau lo berdua emang lagi males mikir kata-kata lain?
Anthony: Jujur, dua-duanya. Tapi yang utama emang loop. Pas kepala lagi nge-lag, kosakata ikut crash. Pikiran muter di satu titik doang, jadi yang keluar ya itu-itu lagi. Repetisi di “Tenggelam lagi” itu karena lag-nya terbawa sampai ke lirik (haha enggak ding, bercanda).
Gue masih belajar nulis, jadi gue pengen liriknya sesederhana mungkin. Lo dengar sendiri musiknya sudah njelimet kayak kabel listrik di kota kita tercinta ini kan? Oh iya, aransemen musiknya yang garap Zulian Amin dari Sunbaze. Dia yang merapikan kekacauan di kepala kami jadi bentuk sonik loop. Tekanan sama rasa “ketahan”-nya terbangun bareng dari situ.
![Ketika Bandar Lampung Terlalu Santuy, DIZROBOT Memilih Merakit Kiamat Kecil di Kamar Tidur 3 DIZROBOT [F.\nalnoise]](https://hellokepsir.com/storage/2025/12/nalnoise-00567-1024x683.jpg)
HK: Soalnya, di bagian chorus ada baris “dalam cermin aku sendiri”. Jujur aja, metafora “cermin” itu udah sering banget dipake anak-anak indie senja sampai band emo tahun 2000-an buat nunjukin kesedihan. Klise banget.
Di tengah musik kalian yang bising dan eksplosif, kenapa lo milih lirik yang sesederhana dan, maaf, se-klise itu? Apa lo ngerasa kata-kata puitis yang ribet justru bakal merusak suasana “dingin” yang kalian bangun?
Anthony: Justru karena klise. Di kondisi kepala yang beku, lo enggak nemu metafora aneh-aneh. Yang ada cuma lo dan pantulan muka sendiri. “Cermin” itu objek paling malas tapi paling jujur. Kalau gue pakai bahasa yang ribet dan puitis, rasanya malah bohong. Di tengah noise yang brutal, gue pengen liriknya dingin, datar, dan polos kayak orang yang sudah capek mikir tapi masih sadar.
HK: Fair enough. Gue hargain kejujuran lo soal “masih belajar”. Di era di mana semua musisi indie pengen terdengar puitis kayak pujangga kesiangan, pengakuan lo itu malah refreshing. Dan shoutout buat Zulian, pantesan benang kusut di musik lo kedengaran rapi dan sonik-nya dapat, meskipun kredit rilis lo nulis produksinya in-house di Suara Kamar. Kolaborasi yang menarik.
Dan soal metafora cermin… oke, gue ngerti. Kadang emang enggak perlu puisi Rendra buat menggambarkan macetnya otak. Cukup kaca buram dan muka lelah.
Pertanyaan terakhir buat bungkus sesi ini. Lo berdua main di ranah Post-Punk dan Electronic Noise, dua genre yang sejarahnya lekat banget sama resistensi, kemarahan, atau minimal banting-banting barang. Tapi judul lagu lo justru “Redam”, dan lo bilang tadi tujuan utamanya cuma biar enggak jadi NPC yang nge-glitch.
Kalau lagu ini sukses masuk ke playlist orang-orang yang senasib—mereka yang hidupnya nge-lag entah di Bandar Lampung yang makin kafe-sentris atau di kemacetan Jakarta—lo mau “Redam” berfungsi jadi apa buat mereka? Apakah ini cuma soundtrack buat nemenin mereka tenggelam pelan-pelan di depan cermin (“yaudahlah, emang nasib”), atau lo berharap bisingnya lagu ini bisa jadi semacam “palu” buat mecahin kaca itu biar mereka sadar?
Singkatnya: Ini lagu buat nyerah bareng-bareng, atau kode keras buat bangun?
Anthony: “Redam” enggak kami niatin jadi anthem perlawanan atau soundtrack banting meja. Fungsinya lebih sederhana: jadi teman buat orang yang sadar hidupnya lagi nge-lag atau melambat. Bukan buat menyemangati, tapi buat bilang, “Lo enggak sendirian, dan kondisi ini nyata.” Kadang itu aja sudah cukup. Bukan buat keluar dari situasi, tapi buat berhenti menyalahkan diri sendiri.
HK: Masuk akal. Jadi “Redam” bukan bensin buat bakar kota, tapi selimut tebal buat mereka yang kedinginan tapi males gerak. Validasi. Itu kata kuncinya.
Di dunia yang menuntut kita harus selalu produktif dan “menyala”, pernyataan sikap bahwa “enggak apa-apa buat rusak sebentar” itu mungkin justru hal paling punk yang bisa kalian lakuin. Bukan teriak di jalanan, tapi jujur di kamar tidur.
Oke, Anthony, Bagus. Terima kasih sudah ngajak gue menyelami isi kepala kalian yang nge-lag itu.
Buat kalian yang merasa hidupnya lagi buffering tanpa ujung, “Redam” sudah rilis secara digital tanggal 18 Desember 2025 di bawah naungan Stokis Records. Dengerin, resapi, dan silakan tenggelam—sebentar saja.
![Ketika Bandar Lampung Terlalu Santuy, DIZROBOT Memilih Merakit Kiamat Kecil di Kamar Tidur 1 Artwork: Redam - DIZROBOT [Kefas Juan A.k.a Sleeping.problem]](https://hellokepsir.com/storage/2025/12/forwebdizrobot-Redamartwor.jpeg)



![Artwork EP Harness Your Sucks [by Boy Adi Nugroho]](https://hellokepsir.com/storage/2025/12/Harness-Your-Sucks-1024x1024.jpeg)




![I.\ Artwork: Pulang - PUTICS \ [by Hibatullah Sukma]](https://hellokepsir.com/storage/2026/01/CopyofARTWORKPULANGbyHibatullahSukm-1-1024x1024.jpeg)





![I.\ Artwork Bumi Menangis - Man Sinner [unplugged version]](https://hellokepsir.com/storage/2026/01/ArtworkBumiMenangisManSinner-1024x1024.jpg)





