Badai PHK PlayStation: Dark Outlaw Games Resmi Ditutup Sony

25.03.2026
Badai PHK PlayStation: Dark Outlaw Games Resmi Ditutup Sony
Badai PHK PlayStation: Dark Outlaw Games Resmi Ditutup Sony

Kabar penutupan Dark Outlaw Games oleh Sony Interactive Entertainment bukan sekadar efisiensi biasa, melainkan simbol dari runtuhnya ambisi “Live Service” yang sempat digembar-gemborkan raksasa Jepang ini.

Laporan dari Jason Schreier (Bloomberg) yang dikutip Engadget, Rabu (25/3/2026), mengonfirmasi bahwa studio yang dipimpin oleh Jason Blundell, arsitek di balik kejayaan mode Zombies di Call of Duty, telah resmi dibubarkan.

Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena Blundell dianggap sebagai “kartu as” Sony untuk menciptakan shooter kompetitif yang mampu menandingi dominasi Activision di platform PlayStation.

Kronologi Kegagalan: Dari Deviation hingga Dark Outlaw

Perjalanan Jason Blundell di bawah payung Sony memang penuh liku. Sebelum memimpin Dark Outlaw, ia mengepalai Deviation Games, sebuah studio independen yang juga mendapat pendanaan besar dari Sony untuk proyek AAA eksklusif. Namun, Deviation ditutup bahkan sebelum sempat memamerkan satu cuplikan gameplay pun.

Transisi tim inti ke Dark Outlaw Games awalnya dianggap sebagai “nyawa kedua” bagi proyek tersebut. Penutupan permanen kali ini menandakan bahwa Sony tidak lagi melihat potensi keuntungan (ROI) yang masuk akal dari proyek multiplayer rahasia yang sedang mereka kerjakan.

Fenomena “Pembersihan” Massal di PlayStation

Penutupan ini merupakan bagian dari strategi “Back to Basics” yang diadopsi Sony sejak kegagalan spektakuler Concord pada akhir 2024. Berikut adalah konteks industri yang melatarbelakangi keputusan ini:

  • Pivot Strategis: Sony mulai menarik diri dari investasi high-risk pada game multipemain daring yang membutuhkan biaya pemeliharaan server dan konten terus-menerus.
  • Fokus Mobile & PC: Pengurangan staf di divisi konsol kini dialihkan untuk memperkuat kehadiran PlayStation di pasar mobile dan porting PC yang terbukti lebih stabil secara pendapatan.
  • Efek Domino Penutupan: Sebelum Dark Outlaw, kita telah melihat tumbangnya Firewalk Studios (setelah insiden Concord), Bluepoint Games yang gagal mengeksekusi elemen live service di proyek terbarunya, hingga pembatalan proyek multiplayer mandiri The Last of Us oleh Naughty Dog.

Sisa Harapan: Proyek yang Masih Bertahan di 2026

Meski terlihat seperti “bencana” bagi divisi multiplayer, Sony tidak sepenuhnya menyerah. Mereka masih mempertahankan beberapa proyek strategis yang dianggap memiliki basis massa kuat:

  • Ekosistem Horizon: Proyek co-op dari Guerrilla Games dan MMO kolaborasi dengan NCSoft tetap berjalan.
  • Bungie sebagai Pilar: Meskipun internal Bungie sendiri sedang mengalami restrukturisasi, Destiny 2 dan Marathon tetap menjadi ujung tombak teknis.
  • Kesuksesan Tak Terduga: Helldivers 2 dari Arrowhead tetap menjadi standar emas bagaimana Sony ingin sebuah game multiplayer beroperasi: organik, seru, dan tidak terlalu rakus transaksi mikro.

Kesimpulan: Kembali ke Akar Single-Player?

Keputusan menutup Dark Outlaw Games mempertegas bahwa Sony kini jauh lebih berhati-hati. Daripada terus membakar uang pada proyek multiplayer yang belum tentu sukses di pasar yang sudah jenuh, mereka tampaknya memilih untuk kembali memprioritaskan kekuatan utama mereka: Game Single-Player Naratif.

Penutupan studio milik Jason Blundell ini menjadi pengingat pahit bagi industri bahwa nama besar dan anggaran raksasa pun tidak menjamin keselamatan di tengah pergeseran minat pasar yang begitu cepat.

Scr/Mashable




Don't Miss