Perkembangan robot humanoid selama ini identik dengan desain kaku, material logam, serta kesan dingin dan industrial.
Namun, sebuah startup teknologi bernama Fauna Robotics mencoba mematahkan stereotip tersebut lewat kehadiran Sprout, robot humanoid unik yang justru mengedepankan pendekatan emosional, keamanan fisik, dan kenyamanan sosial saat berinteraksi dengan manusia.
Sprout bukan sekadar robot dengan bentuk menyerupai manusia. Ia dirancang secara khusus agar terasa “tidak mengintimidasi”, baik secara visual maupun saat berada di ruang yang sama dengan manusia.
Dengan tinggi sekitar 3,5 kaki atau sedikit di atas satu meter, Sprout memiliki tubuh relatif mungil dan bobot ringan sehingga bisa diangkat oleh satu orang dewasa tanpa kesulitan.
Desain Terinspirasi Fiksi Ilmiah yang Ramah Manusia
Menurut Rob Cochran, Co-Founder sekaligus CEO Fauna Robotics, desain Sprout terinspirasi dari robot-robot fiksi ilmiah yang dikenal ramah dan bersahabat.
Beberapa di antaranya adalah Baymax dari film Big Hero 6 dan Rosie dari serial The Jetsons. Inspirasi ini terlihat jelas dari kepala Sprout yang lebar, ekspresi wajah sederhana namun komunikatif, serta alis mekanis yang bisa bergerak untuk mengekspresikan emosi.
Alih-alih menggunakan rangka logam terbuka, tubuh Sprout dibalut material busa lembut yang berfungsi sebagai bantalan pelindung. Pendekatan ini bukan hanya estetika, tetapi juga solusi keamanan.
Fauna Robotics menegaskan bahwa Sprout dirancang tanpa sudut tajam, tanpa celah jepit, dan minim risiko cedera saat bersentuhan langsung dengan manusia.
Aman Secara Fisik dan Nyaman Secara Sosial
Salah satu nilai jual utama Sprout adalah konsep “physically safe and socially approachable”. Artinya, robot ini tidak hanya aman dari sisi mekanik, tetapi juga nyaman secara psikologis ketika berada di lingkungan manusia.

Sprout dirancang agar bergerak dengan suara yang relatif senyap, tidak membuat gerakan mendadak yang mengejutkan, serta memiliki gestur yang mudah dipahami. Hal ini menjadikannya cocok digunakan di ruang bersama seperti laboratorium, kampus, pusat riset, hingga lingkungan edukasi yang melibatkan banyak orang.
Pendekatan ini juga menjawab tantangan besar dalam dunia robotika, yakni bagaimana manusia dapat menerima kehadiran robot sebagai mitra, bukan ancaman.
Bukan Pesaing Tesla Optimus, Tapi Fondasi Inovasi
Meski memiliki lengan artikulatif dan gripper yang secara teori mampu melakukan tugas rumah tangga atau pekerjaan industri ringan, Sprout tidak dikembangkan untuk langsung bersaing dengan robot humanoid seperti Tesla Optimus atau Boston Dynamics Atlas.
Fauna Robotics justru memposisikan Sprout sebagai platform dasar bagi pengembang robot, peneliti, universitas, dan komunitas teknologi. Target pasarnya adalah pihak-pihak yang ingin mengembangkan aplikasi robot humanoid tanpa harus membangun sistem dari nol.
Sprout hadir dengan sistem dasar yang sudah berfungsi sejak awal. Kemampuan bergerak, navigasi, persepsi lingkungan, hingga ekspresi visual telah tersedia “out of the box”. Dengan begitu, pengguna dapat langsung fokus pada pengembangan fungsi lanjutan, algoritma AI, atau interaksi manusia-robot yang lebih kompleks.
Siap Digunakan untuk Riset dan Eksperimen
Pada tahap awal, Sprout diproyeksikan akan banyak digunakan di lingkungan tertutup seperti laboratorium riset, institusi pendidikan, dan fasilitas pengembangan teknologi. Meski belum mampu melakukan tugas kompleks seperti melipat pakaian atau memasak, potensi pengembangannya terbuka lebar.
Dengan desain yang ramah manusia, Sprout juga dinilai ideal untuk riset interaksi sosial antara manusia dan robot, sebuah bidang yang kini semakin penting seiring meningkatnya penggunaan AI dan robotika di kehidupan sehari-hari.
Harga dan Aksesibilitas
Untuk harga, menurut laporan Associated Press, Sprout dibanderol dengan harga sekitar $50.000 atau sekitar Rp800 jutaan. Meski terdengar tinggi, harga ini dinilai jauh lebih terjangkau dibandingkan biaya pengembangan humanoid dari nol yang bisa mencapai ratusan ribu dolar.
Bagi institusi riset dan universitas, Sprout menawarkan jalan pintas untuk masuk ke dunia robot humanoid tanpa hambatan teknis besar.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin robot seperti Sprout akan menjadi jembatan antara teknologi canggih dan kehidupan manusia sehari-hari.
Sumber foto: Fauna Robotics
Scr/Mashable


















